Dikatakan Amos, untuk saat ini, pihaknya akan melakukan pekerjaan sampai batas di lokasi pemalangan. Sembari menunggu langkah selanjutnya. “Prinsipnya kita membangun sesuai dengan perencanaan yang ada, ditakutkan ini menjadi temuan,” kata Amos.
Menurut Amos, sering terlambatnya pembangunan dikarenakan adanya aksi palang-memalang yang dilakukan masyarakat terutama pemilik hak ulayat. “Sebenarnya anggaran kita cukup untuk membangun, hanya saja sering terganggu lantaran pemalangan yang dilakukan,” ucapnya.
Bahkan Amos menyebut, ada anggaran yang disediakan Pemerintah Provinsi Papua melalui PUPR Papua, untuk kebutuhan air bersih. Sekadar diketahui, pemalangan ini dilakukan oleh masyarakat adat yang melibatkan lima suku yang menuntut ganti rugi penggunaan lahan, yakni suku Hababuk, Ireuw, Afaar, Hamadi dan Dawir. (fia/tri)
Layanan Langganan Koran Cenderawasih Pos, https://bit.ly/LayananMarketingCepos
BACA SELENGKAPNYA DI KORAN DIGITAL CEPOS https://www.myedisi.com/cenderawasihpos
Page: 1 2
Peristiwa kebakaran yang terjadi sekira pukul 15.45 WIT tersebut menghanguskan sedikitnya 10 petak rumah warga.…
Langkah-langkah strategis ini telah mendapat lampu hijau dan penguatan langsung dari Presiden. "Kami melaporkan kepada…
Komitmen untuk menciptakan lingkungan pendidikan yang ramah anak ini, diwujudkan Kanwil Ditjenpas melalui kegiatan sosialisasi…
Pemusnahan kali ini menyasar material sitaan dari 52 perkara tindak pidana umum dengan volume mencapai…
Pemerintah Kota (Pemkot) Jayapura terus memperkuat pengawasan terhadap pelaksanaan program pembangunan dan penggunaan anggaran daerah,…
Panglima Kodam (Pangdam) XXIV/Mandala Trikora Mayjen TNI Frits Wilem Rizard Pelamonia, melakukan silaturahmi kepada Gubernur…