Dikatakan Amos, untuk saat ini, pihaknya akan melakukan pekerjaan sampai batas di lokasi pemalangan. Sembari menunggu langkah selanjutnya. “Prinsipnya kita membangun sesuai dengan perencanaan yang ada, ditakutkan ini menjadi temuan,” kata Amos.
Menurut Amos, sering terlambatnya pembangunan dikarenakan adanya aksi palang-memalang yang dilakukan masyarakat terutama pemilik hak ulayat. “Sebenarnya anggaran kita cukup untuk membangun, hanya saja sering terganggu lantaran pemalangan yang dilakukan,” ucapnya.
Bahkan Amos menyebut, ada anggaran yang disediakan Pemerintah Provinsi Papua melalui PUPR Papua, untuk kebutuhan air bersih. Sekadar diketahui, pemalangan ini dilakukan oleh masyarakat adat yang melibatkan lima suku yang menuntut ganti rugi penggunaan lahan, yakni suku Hababuk, Ireuw, Afaar, Hamadi dan Dawir. (fia/tri)
Layanan Langganan Koran Cenderawasih Pos, https://bit.ly/LayananMarketingCepos
BACA SELENGKAPNYA DI KORAN DIGITAL CEPOS https://www.myedisi.com/cenderawasihpos
Page: 1 2
Danrem 172/ PWY Brigjen TNI. Robby Suryadi untuk upaya pengejaran tentunya ada upaya yang dilakukan…
Forecaster BMKG Wamena Ahmad Armanda menyatakan sejak beberapa hari terakhir, keberadaan kabut asap tebal akibat…
Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Kelas B Merauke Rudi, mengatakan, kedua survivor ditemukan setelah Tim…
Departemen Keadilan dan Perdamaian (DKP) Sinode Gereja Kemah Injil (KINGMI) di Tanah Papua menyatakan dukungan…
Gubernur Papua Selatan Apolo Safanpo mengatakan, sejumlah ruas jalan saat ini tengah dikerjakan untuk membuka…
Penegasan tersebut disampaikan Kepala BTNW Acha Anis Sokoy untuk meluruskan persepsi masyarakat mengenai lokasi sejumlah…