Wakil Wali Kota, Rustan Saru yang meresmikan ikut bangga. “Dulu main di lorong, sekarang dimainkan di hotel dan aturannya ketat sekali. Saya baru tahu harus pakai sepatu dan tidak boleh bicara. Ini sebuah kemajuan karena judi justru sangat dilarang disini, ” katanya.
“Dulu kalau main bisa pakai kode, pegang telinga atau kasi bunyi kaki. Sekarang tidak bisa,” bebernya.
Ia melihat dulunya hanya olahraga hobi kini bisa menjadi olahraga prestasi.
“Kalau sudah terdaftar tentu pemerintah patut memberikan dukungan. Mereka yang main kalau sampai tengah malam juga bisa membantu menjaga lingkungan RT RW nya, ” bebernya.
“Saya berharap tidak hanya kumpul tapi harus ada hal positif yang dihasilkan,” tutup Rustan. (ade/tri)
Layanan Langganan Koran Cenderawasih Pos, https://bit.ly/LayananMarketingCepos
BACA SELENGKAPNYA DI KORAN DIGITAL CEPOS https://www.myedisi.com/cenderawasihpos
Page: 1 2
-Regulasi Pengadaan Barang dan Jasa (PBJ) di tingkat kampung di Papua belum merata. Dari 1.029…
Penggunaan kembali prasarana penyeberangan ini disambut dengan rasa lega yang mendalam oleh masyarakat Abepura,…
Langkah ini menyusul keberhasilan evakuasi salah seorang korban selamat, Demerina Uamang (23), yang sempat diamankan…
Ketua HONAI, Pdt. Andrikus Mofu, menegaskan gereja tidak ingin masyarakat terus menjadi korban kekerasan, kehilangan…
Ia ditemukan tewas dengan kondisi terbakar bersama mobilnya. Yang bikin heboh adalah, sebelum dieksekusi, ia…
Kepala Komnas HAM Papua, Frits Ramandey menduga aksi yang berlangsung di sejumlah daerah tersebut tidak…