Categories: METROPOLIS

Penataan Pasar Otonom Diminta Diperhatikan

JAYAPURA-Maraknya pedagang musiman yang berjualan di depan Pasar Otonom Kotaraja, Distrik Abepura membuat pedagang utama yang berada di dalam pasar mengeluh. Pasalnya keberaaan pedagang musiman yang berjualan di luar pasar, dapat mematikan usaha mereka yang berjualan di dalam pasar.

“Padahal kami ini pedagang tetap dan kalau pedagang dari luar diizinkan jualan bebas di pinggir jalan, lantas buat apa bikin pasar semegah ini,” ungkap Risken (45) salah seorang pedagang yang ditemui Cenderawasih Pos, Minggu (2/7) sore.

Risken menilai kehadiran pedagang musiman, yang notabene dari wilayah Arso, Kabupaten Keerom dan Koya, Distrik Muara Tami, sangat berdampak dengan keberadaan pedagang di Pasar Otonom, terutama dari sisi penghasilan.

Untuk itu mereka meminta Pemkot Jayapura dalam hal ini instansi terkait agar memperhatikan penataan pasar. Sebab dengan kondisi ini rentan terjadinya konfliks sosial.

“Kalau mereka (pedagang musiman, red) bebas jualan begitu, lalu kami yang pedagang tetap ini mau dapat apa,” katanya dengan kesal.

Risken juga mengaku kesal, lantaran kehadiran pedagang musiman ini terkesan ada pembiaran dari pemerintah. Pasalnya para pedagang ini diberikan karcis oleh penjaga pasar. Sehingga dia menilai langkah ini perlu diperhatikan secara serius oleh pemerintah.

“Kita juga bingung, karena pedagang musiman ini, mereka bayar karcis. Kalau begitukan artinya diizinkan jual di pinggir jalan, lalu buat apa bikin pasar kalau pedagang diizinkan jualan di pinggir jalan begitu. Kami minta diperhatikan secara serius penataan pasar otonom ini,” tutupnya.

Sementara itu pedagang musiman yang namanya enggan disebutkan, mengaku setiap harinya berjualan di pinggir jalan. “Kami hanya datang bawa hasil bumi, untuk pedagang di pasar, juga pedagang sayur keliling,” jelasnya.

Selain melayani jualan borangan, para pedagang musiman ini juga melayni pembelian eceran. Namun jualan mereka terbatas  dari sore hingga malam hari.

“Tidak setiap hari, kadang kalau buah-buahan atau sayur panen kami datang jualan,” tuturnya.

Diakuinya mereka juga membayar iuran perhari sebesar Rp 5 ribu perhari. “Memang kita bayar tempat juga, kalau diminta yang kita bayar, sepetti selama ini kita bayar setiap hari Rp. 5 ribu,” pungkasnya. (rel/nat) 

newsportal

Recent Posts

Wali Kota: SPMB di Sekolah Negeri Gratis!

Terkait Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) ini, Wali Kota Jayapura, Dr. Abisai Rollo menegaskan bahwa…

2 days ago

Tuntutan 13 Tahun Penjara Agar Ada Efek Jera

Kepala Kejaksaan Negeri Jayawijaya, Sunandar Pramono, SH, MH mengatakan dari 9 terdakwa kasus korupsi dana…

2 days ago

MRP Kecewa, Tak Bisa Bertemu Bupati dan Wabup Jayapura

Kelompok Kerja (Pokja) Adat Majelis Rakyat Papua (MRP) Papua mengaku kecewa karena tidak dapat bertemu…

2 days ago

Besok, Wapres Dijadwalkan Kunjungi Asmat

Gubernur Apolo menjelaskan, dalam rangka kunjungan tersebut, jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Provinsi Papua…

2 days ago

Pemerintah Jangan Korbankan Tanah Adat

Menurut Emanuel Gobay, yang juga anggota Koalisi Penegak Hukum dan Hak Asasi Manusia (HAM) Papua,…

2 days ago

6 SPPG Mimika yang Dibekukan Segera Beroperasi Kembali

​Badan Gizi Nasional (BGN) memastikan enam Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Kabupaten Mimika, Papua…

2 days ago