Categories: METROPOLIS

Kekerasan Bersenjata Meningkat Bukan Tanpa Pemicu

Marinus Yaung (FOTO: Gamel Cepos)

JAYAPURA – Eskalasi kekerasan bersenjata khususnya di daerah pegunungan belakangan ini cenderung meningkat. Konsekwensinya juga tak sedikit mengingat beberapa nyawa harus hilang akibat tembak menembak, bahkan daerah yang sebelumnya adem ayem ternyata muncul gerakan baru. Terkait ini dari pengamat social politik Uncen, Marinus Yaung, hal tersebut tak lepas dari sebuah kebijakan yang terburu – buru. Ia menyinggung surat keputusan Menkopolhukam soal status teroris yang menurutnya seharusnya dalam surat tersebut ditulis lebih detail.

 “Rincikan maksudnya, semisal kelompok terorisme Lekagak Telenggen, kelompok terorisme Egianus Kogeya atau kelompok mana. Tapi kalau menyebut KKB  Papua, ini diterjemahkan lain di lapangan oleh tokoh gereja, tokoh agama dan masyarakat,” kata Marinus Yaung dibalik ponselnya, Rabu (2/6). Yang diterjemahkan di lapangan adalah semua wilayah pegunungan tengah adalah wilayah dicap terorisme. Bahasa ini akhirnya menimbulkan ketakutan bagi masyarakat di Papua sehingga memunculkan perlawanan yang semakin membesar. 

 “Hari ini kita dikagetkan seperti munculnya nama Lamek Taplo di Pegunungan Bintang  yang bikin aksi tiba – tiba. Daerah (Pegunungan Bintang) yang dulunya tenang sekarang seperti ini. Lalu di Yahukimo juga  muncul. Ini karena tidak ada penjelasan yang detail,” cecarnya.  “Saya menyampaikan jangan mengeluarkan kebijakan yang tergesa – gesa apalagi dalam keadaan marah sebab nanti menimbulkan persoalan baru di lapangan dan kontra produktif terhadap semangat Presiden Jokowi untuk merebut hati dan pikiran orang Papua,” sambung Yaung. 

 Ia menyebut ini kebijakan  tanpa konsultasi kemudian buru – buru menetapkan dan ini memperburuk situasi Papua dan Jakarta. Lalu penetapan status ini sepertinya tidak menghargai keberadaan DPRP maupun MRP di Papua. “Pemerintah Jakarta tidak pernah mau duduk  dengan DPRP maupun MRP  soal status ini. Hanya mengundang beberapa orang yang benar tokoh ataupun menokohkan dirinya sendiri kemudian status tersebut ditetapkan.  Ini saya anggap semakin memperburuk situasi hubungan antara Papua dan Jakarta,” tambahnya.  

 Harusnya kata Yaung ruang komunikasi pusat dan MRP – DPRP ini dibuka dan bukan mengambil keputusan sendiri. “Saya lihat persoalannya adalah ketidaksalingpercayaan. Solusinya adalah harus meninjau kembali keputusannya, kalau bisa dilakukan konsultasi dan sosialisasi dulu dan  dipertegas uraiannya dan prosedur penanganannya seperti jadi bukan secara tiba – tiba,” tutupnya. (ade/wen)

newsportal

Recent Posts

Indentifikasi Jalur Penyelundupan hingga Dugaan Keterlibatan Oknum Petugas

  Langkah tegas ini diambil sebagai bentuk deteksi dini guna mengantisipasi maraknya upaya penyelundupan barang…

15 hours ago

ABR: Jangan Salah Gunakan Bantuan Pemerintah!

Wali Kota Jayapura, Dr. Abisai Rollo, S.H., M.H., memberikan peringatan keras kepada seluruh aparat kelurahan…

16 hours ago

Fenomena El Nino,  79 Kampung di Dogiyai Terdampak

Ketergantungan warga terhadap pertanian subsisten membuat kerusakan tanaman holtikultura berpotensi mengganggu ketersediaan pangan keluarga

18 hours ago

Jangan Membangun Sebelum Ada Penanganan Pascabencana

  Abisai mengatakan, Pemerintah Kota Jayapura saat ini masih melakukan berbagai upaya dan pembahasan terkait…

19 hours ago

Polisi Tangkap Terduga Pelaku Penipuan Jual Beli Motor

Kapolres Jayapura AKBP Dionisius VDP Helan melalui Kasat Reskrim Polres Jayapura AKP Axel Panggabean mengatakan,…

20 hours ago

Bupati Jayawijaya: CASN Jangan Buru-buru Ajukan Kredit Setelah Terima SK

Bupati menegaskan jika, mereka baru juga diangkat CASN masih ada langkah selanjutnya yang harus diikuti…

22 hours ago