Categories: PEGUNUNGAN

Program BPNT Tak Bisa Disamaratakan dengan Daerah Luar Papua

Kepala Dinas Sosial Jayawijaya Daulat Martuaraja saat menyerahkan beras sejahtera (Rastra) yang bakal diganti dengan BPNT tahun ini. ( FOTO : Denny/Cepos )

WAMENA-  Kepala Dinas Sosial Kabupaten Jayawijaya Daulat Martuaraja meminta agar Program Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) dari Kementerian Sosial tak boleh disamaratakan di Papua dengan daerah lain di luar Papua. Sebab banyak hal yang berbeda, dari tingkat kesulitan yang ada di daerah Pegunungan Tengah Papua sangat mempengaruhi sehingga harus ada kekhususan yang diberikan.

   “Ini perlu didengar oleh Kementerian Sosial dan kami sudah sering menyampaikan kapada kementerian kalau  Program BPNT ini disamakan dengan daerah lain, maka sama saja tidak membantu masyarakat yang ada di Papua,”ungkapnya Rabu (21/8) kemarin 

   Menurutnya masalah ini perlu juga disuarakan oleh pemerintah di seluruh Papua agar ada perbedaan perlakuan di Papua. Contohnya kalau di Pulau  Sulawesi mungkin bisa mendapatkan beras seharga Rp 7000 ke bawah, namun hal itu tidak bisa didapat di daerah pegunungan. 

  “Kalau program ini diteruskan sampai di distrik yang jauh, ini akan menjadi masalah,”jelas Daulat

  Selain itu juga, dalam program ini perlu meningkatkan pendapatan pengusaha kecil atau membangun usaha mikro di tingkat kampung. Namun yang menjadi masalah di Jayawijaya belum ada pengusaha mikro yang ada di kampung, sehingga harus menunjuk pengusaha, ini sebenarnya tidak menjawab  masalah kesejahtrahan dari masyarakat.

   Untuk teknis pelaksanaan BPNT, Daulat menyatakan   perlu didirikan e- Warung terlebih dahulu, barulah bulog  menyalurkan, namun untuk e- warung yang ada ini di Jayawijaya belum ada. “Selama ini dalam rakor di pusat kami dari Papua selalu menolak BPNT karena contoh saja kalau biaya Rp 110.000 untuk masyarakat di Distrik Trikora itu bisa dapat berapa kilo disana dengan tingkat kesulitan yang sangat tinggi, ini harus disampaikan ke masyarakat sehingga kalau diberlalukan masyarakat tahu ini tidak bisa disamakan,”bebernya

  Ia kembali mencontohkan Kalau di Wamena bisa mendapat beras seharga Rp 20 ribu/kg, dengan BPNT yang Rp 110 ribu  itu bisa dapat 5 Kg, tapi kalau ke Distrik Trikora harga beras tidak mungkin Rp  20 ribu/kg karena biaya angkutan dan lain –lain atau tarulah 70 ribu/kg berarti masyarakat hanya bisa mendapat 1,5 kg.

  “Yang jadi pertanyaan apakah ini yang disebut sebagai mensejahterakan masyarakat. Dan Bantuan pemerintah Non Tunai sebelum pelaksanaannya di Jayawijaya juga perlu dilakukan perbaikan data,”tuturnya.(jo/tri)

newsportal

Share
Published by
newsportal

Recent Posts

Jayapura Fair Libatkan 80 Persen UMKM Lokal

  Jayapura Fair yang berlangsung di Lapangan PTC Entrop, Senin (17/8) malam, menjadi bagian dari…

50 minutes ago

Persipura Akan Hadapi Garudayaksa FC

Tim Persipura Jayapura kembali menjadwalkan laga ujicoba untuk mengukur kemampuan Boaz Solossa dan kawan-kawan selama…

2 hours ago

Pelaku Pembunuhan Wisma KM 10 Mimika Akhirnya Diringkus

Tim gabungan Polres Mimika membekuk tersangka sebelum akhirnya diterbangkan kembali ke Timika untuk menjalani proses…

3 hours ago

Pemkab Keerom dan PLN Geser Jaringan Listrik demi Penataan Area Wisata

Pembangunan fisik Patung Yesus di Kampung Yowong, Distrik Arso Barat, Kabupaten Keerom kini telah rampung…

4 hours ago

Sinergikan Program Otsus Papua, Pemkab Jayawijaya Koordinasikan  Dengan BP3OKP

Plt Sekda Kabupaten Jayawijaya Drs. Tinggal Wusono, M.AP menyatakan Otsus Papua merupakan instrumen penting dalam…

5 hours ago

Belajar dari Kasus Keracunan MBG Depapre, Bupati Jayapura Ingatkan SPPG Utamakan Keamanan Makanan

Menurut Yunus, proses penyediaan makanan untuk program MBG tidak boleh dilakukan secara sembarangan. Mulai dari…

6 hours ago