

Tokoh-tokoh orang asli Papua saat mengikuti sosialisasi terkait fungsi dan tugas pokok MRP Papua Selatan di Auditorium Kantor Bupati Merauke, Kamis (15/08) (foto:Sulo/Cepos)
Soal Investasi Pertanian 1 Juta Hektar
MERAUKE– Ketua Pembauran Kebanggsaan Indonesia Kabupaten Merauke Werenfridus Kahol meminta Majelis Rakyat Papua Provinsi Papua Selatan untuk tidak menjadi penonton terkait dengan permasalahan yang dialami oleh masyarakat pemilik hak ulayat dengan hadirnya investasi 1 juta hektar pembukaan lahan pertanian di Merauke, Papua Selatan.
Werenfridus Kahol meminta MRP Papua Selatan turun langsung ke masyarakat untuk memperjuangkan hak-hak dari masyarakat pemilik hak ulayat. Hal itu disampaikan oleh Wenfridus Kahol pada pembukaan sosialisasi tentang tugas pokok dan fungsi serta wewenang anggota MRP Papua Selatan di 4 kabupaten cakupan Provinsi Papua Selatan, di Auditorium Kantor Bupati Merauke, Kamis (15/08).
Werenfridus Kahol menjelaskan, salah satu tugas yang diberikan negara terhadap MRP adalah memperjuangkan hak-hak dasar orang asli Papua. Sehingga saatnya MRP Papua Selatan turun ke masyarakat untuk memperjuangkan hak-hak dari masyarakat adat.
‘’Ada investor masuk, tapi kita sebagai pemilik hak ulayat tidak tahu. Ini juga jadi masalah sehingga sudah semestinya kita bicara duduk bersama agar hak-hak dari masyarakat adat tidak diabaikan,’’ katanya.
Sementara itu, Wakil Ketua I MRP Papua Selatan Yohana Gebze menjelaskan, kegiatan ini merupakan pertemuan pertama sejak MRP Papua Selatan dilantik bulan November 2023 lalu. Yohana Gebze menegaskan bahwa MRP tidak memilik hak paten legeslasi. Tapi, MRP mengawal aspirasi, memberikan pertimbangan dan persetjuan menyangkut 3 hal yakni proteksi, pemberdayaan dan afirmasi.
‘’Ini juga perkenalan kami sekaligus dengan pemerintah daerah, dimana 3 tugas utama dari lembaga MRP itu sendiri. Afirmasi dalam segala bidang, baik dalam bidang pendidikan, kesehatan yang harus mendapat prioritas orang asli, penerimaan CPNS, menduduki jabatan dalam struktural. Itu bukan maunya kami tapi menjadi kemauan negara yang memberikan UU Otonomi Khusus terhadap Provinsi Papua,’’ jelasnya.
Dikatakan, untuk mengawali semua kebijakan daerah menjadi penting pimpinan OPD menggerakan semua program dalam pemerintahan, menitikberatkan 80 persen fokus kepada orang asli Papua yang menurutnya sampai hari ini masih jauh dari ketertinggalan, keterbelakangan dan kemiskinan.
‘’Kami berharap pembangunan itu dapat difokuskan dan minta kepada semua saudara-saudara nusantara yang tinggal diatas tanah Papua untuk lebih fokus terhadap mereka yang dari tete nenek moyang tinggal di sini.jadi kita harus saling menghargai agar tidak terjadi marginalisasi terlalu jauh,’’ tutupnya. (ulo/wen)
Layanan Langganan Koran Cenderawasih Pos, https://bit.ly/LayananMarketingCepos
BACA SELENGKAPNYA DI KORAN DIGITAL CEPOS https://www.myedisi.com/cenderawasihpos
Selain capaian akademik, pihak sekolah juga mencatat tingkat retensi siswa yang sempurna. Hingga saat…
Kunjungan Menteri Dalam Negeri ke Kampung Mosso dilakukan untuk meninjau langsung pelaksanaan program yang…
Mendagri Tito Karnavian mengungkapkan bahwa kawasan Dok IX Tanjung Ria masih membutuhkan perhatian serius…
Bima Arya menilai penanganan kawasan Sungai Anafre tidak cukup hanya melalui kegiatan pembersihan rutin.…
Menteri Dalam Negeri menyoroti masih tingginya angka masyarakat di Papua yang belum memiliki rumah maupun…
Situasi tersebut membuat laga ini menjadi sangat krusial. Brasil hanya membutuhkan hasil imbang untuk menjaga…