

Mantan Kepsek SMA YPK Soleman Jambormias, S.Pd, M.Pd saat menerima cinderamata dari para guru SMA YPK Merauke pada sertijab yang digelar di halaman SMA YPK Merauke, Selasa (31/5). (FOTO: Sulo/Cepos )
MERAUKE–Setelah dilantik beberapa waktu lalu, akhirnya jabatan kepala sekolah SMA YPK Merauke diserahterimakan dari pejabat lama Soleman Jembormias, SPd, MPd kepada pejabat baru SantI Jambormase, SPd. Pejabat lama Soleman Jambormias menduduki jabatan baru sebagai Kepala SMAN I Merauke dan telah dilantik belum lama ini di Jayapura.
Mewakili PSW YPK, Nekad Ngilewane yang juga mantan Kepsek SMA YPK Merauke menjelaskan, menjadi kepala sekolah itu hal yang biasa. ‘’Jadi tidak perlu orang mempertahankan, saya harus menjadi kepala sekolah seumur hidup. Orang yang dibesarkan dalam organisasi pengkaderan pasti sangat memahami hal itu,’’tandasnya.
Menurutnya, setiap orang dan setiap masa ada orangnya dan setiap orang ada masanya. Hal ini harus dipahami dengan baik. Sebab, tidak ada yang abadi dalam jabatan. Karena jabatan itu adalah amanah.
‘’Oleh sebab itu, kepemimpinan di YPK itu adalah pelayanan. Bukan bos. Kalau bos itu di perusahaan dan dia akan memerintah. Tapi, di YPK, pemimpin harus memberikan keteladanan. Sebelum orang lain melakukan, dia terlebih dahulu harus melakukannya,’’ tandasnya.
Pejabat lama Soleman Jambormias, menjelaskan, saat dirinya masuk ke YPK Merauke, banyak yang meragukan diri bahkan ada yang mengatakan dirinya tidak baik. Bahkan, saat sudah bertugas di SMA YPK Merauke, orang tidak pernah menduga kalau dirinya akan menjadi kepala sekolah.
Namun karena kebaikan dan kehendak Tuhan, dirinya dilantik sebagai kepsek pada 14 Januari 2016. ‘’Bekerja di YPK ini mengubah seluruh hidup saya. Luar biasa. Dari golongan III B sekarang saya menjadi IV B. Dari belum sertifikasi sekarang sudah serfikasi dan dari orang menganggap biasa jadi mengubah SMA YPK,’’ terangnya.
Soleman menjelaskan bahwa dirinya menanamkan pendidikan gratis di SMA YPK, karena berkaca dari pengalaman pribadi. Menurutnya, sebagai seorang yang tidak memiliki apa-apa saat sekolah, harus berjuang agar tetap bisa bayar uang sekolah.
Begitu, juga anak-anak yang ada di SMA YPK Merauke tersebut sebagian besar atau sekitar 98 persen anak asli Papua yang datang dari kampung-kampung. Orang tua setengah mati cari uang. Untuk makan saja setengah mati. ‘’Makanya saya buat gratis, supaya anak-anak tidak perlu pikir uang sekolah. Tapi, pikir bagaimana untuk belajar,’’ jelasnya. (ulo/tho)
Berdasarkan standar Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), kebutuhan darah ideal sebuah wilayah adalah 1% hingga 2%…
Kapolres Jayawijaya melalui Kasat Reskrim Iptu Marcelino Rumambi, SH, MH menyatakan penangkapan ini terhadap pelaku…
Komitmen Pemerintah Kabupaten Puncak dalam membangun sumber daya manusia melalui sektor pendidikan mendapat apresiasi dari…
Kapolres Puncak Jaya AKBP Yudha Wicaksono saat dihubungi dari Nabire, Senin, mengatakan patroli gabungan tersebut…
Kapolres Jayawijaya melalui kasat Reskrim Iptu Marcelino Rumamb, SH, MH menegaskan jika usai dilakukan penangkapan…
Sebuah langkah baru pariwisata berbasis komunitas lahir di Tanah Papua. Lewat Paket Eduwisata dan Sejarah…