Dedikasinya ini tampak tidak hanya menjadi sumber penghidupan bagi dirinya, tetapi juga motivasi bagi anak-anak muda di kawasan itu. Dimana awalnya hanya ia seorang diri, tapi kini ada enam orang yang bekerja sebagai tukang angkut. Mereka menawarkan jasa angkut dari jalan raya hingga ke rumah-rumah warga di bukit.
“Tapi memang pekerjaan inikan tidak ada jaminanan bulanan, jadi kalau lagi rejeki bisa dapat uang tapi kalau tidak ya pulang kosong,” tuturnya.
Kehidupan di Perbukitan Barisan adalah cerminan ketangguhan dan solidaritas masyarakat. Dengan segala suka dan dukanya, mereka mampu beradaptasi dan saling mendukung untuk bertahan, membuktikan bahwa di balik setiap tantangan, selalu ada cerita indah yang bisa dikenang. (*/tri)
Layanan Langganan Koran Cenderawasih Pos, https://bit.ly/LayananMarketingCepos
BACA SELENGKAPNYA DI KORAN DIGITAL CEPOS https://www.myedisi.com/cenderawasihpos
Kelompok masyarakat asal wilayah pegunungan kembali mengajukan tuntutan ganti rugi atau denda adat menyusul tewasnya…
DPR Papua menggelar rapat paripurna pembukaan penetapan rekomendasi DPR Papua terhadap Laporan Keterangan Pertanggungjawaban (LKPJ)…
Upaya pencarian terhadap korban yang hanyut di Kali Uwe beberapa waktu lalu belum usai. Di…
Menyikapi krisis kemanusiaan ini, Kepolisian Resor (Polres) Jayawijaya bergerak cepat mengambil peran ganda tidak hanya…
Komandan Kodaeral X Jayapura, Mayjen TNI (Mar) Sugianto, secara tegas menyatakan penghentian rencana pembangunan Dermaga…
Pemerintah Provinsi Papua melalui Dinas Pangan setempat terus memastikan hewan kurban yang akan dipotong pada…