Menurut Susi, seperti yang tergambar dalam surat-suratnya, Kartini tidak pernah benar-benar diam. Ia terus ”berbicara” melintasi waktu. Menyapa generasi yang mau mendengarkan. Cerita tentang Kartini tak hanya hidup di museum atau arsip. Di Kelenteng Welahan, jejaknya tersimpan dalam kisah yang lebih personal.Dicky Sugandhi, ketua Yayasan Pusaka Kelenteng Welahan menyebut, dalam salah satu surat kepada Abendanon, Kartini pernah menceritakan pengalaman masa kecilnya saat sakit keras.
”Sudah didatangkan dokter dari Belanda, tapi tidak menemukan solusi. Lalu mencoba obat dari sini (Kelenteng Welahan, Red). Dia merasa sembuh,” sebutnya. Hingga kini, tradisi pengobatan di kelenteng tersebut, masih bertahan. Ramuannya berupa herbal yang diracik turun-temurun. Dengan bahan yang sebagian besar berasal dari toko obat Tionghoa. Selain sebagai tempat ibadah, kelenteng juga sejak dulu menjadi pusat aktivitas masyarakat. Mulai dari pengobatan, konsultasi usaha, hingga penentuan hari baik berdasarkan penanggalan Tionghoa. ”Ya obat-obatan di sini (Kelenteng Welahan, Red) hanya didapat di toko-toko obat China. Ramuan khusus,” imbuhnya. (*/lin)
Layanan Langganan Koran Cenderawasih Pos, https://bit.ly/LayananMarketingCepos
UPDATE Berita Terbaru Cepos di Saluran https://whatsapp.com/channel/0029VbCNwCXAO7R8KvdYUG3Q
Amuk massa yang tak terkendali tidak hanya membuat KD meninggal dunia di lokasi kejadian akibat…
Perjalanan itu dimulai sekitar akhir 2015 hingga awal 2016. Saat itu, Mamik yang masih berprofesi…
Wali Kota Jayapura, Dr. Abisai Rollo, S.H., M.H., mengapresiasi tingginya partisipasi masyarakat yang memanfaatkan…
Jeda operasi militer ini muncul ketika perang yang semula diperkirakan hanya berlangsung beberapa pekan justru…
Ribka mengatakan reformasi tata kelola Dana Otsus yang dilakukan pemerintah telah mempercepat proses penyaluran melalui…
Regulasi ini mencabut Peraturan Menteri PANRB Nomor 20 Tahun 2021 yang dinilai sudah tidak sesuai…