Menurut Susi, seperti yang tergambar dalam surat-suratnya, Kartini tidak pernah benar-benar diam. Ia terus ”berbicara” melintasi waktu. Menyapa generasi yang mau mendengarkan. Cerita tentang Kartini tak hanya hidup di museum atau arsip. Di Kelenteng Welahan, jejaknya tersimpan dalam kisah yang lebih personal.Dicky Sugandhi, ketua Yayasan Pusaka Kelenteng Welahan menyebut, dalam salah satu surat kepada Abendanon, Kartini pernah menceritakan pengalaman masa kecilnya saat sakit keras.
”Sudah didatangkan dokter dari Belanda, tapi tidak menemukan solusi. Lalu mencoba obat dari sini (Kelenteng Welahan, Red). Dia merasa sembuh,” sebutnya. Hingga kini, tradisi pengobatan di kelenteng tersebut, masih bertahan. Ramuannya berupa herbal yang diracik turun-temurun. Dengan bahan yang sebagian besar berasal dari toko obat Tionghoa. Selain sebagai tempat ibadah, kelenteng juga sejak dulu menjadi pusat aktivitas masyarakat. Mulai dari pengobatan, konsultasi usaha, hingga penentuan hari baik berdasarkan penanggalan Tionghoa. ”Ya obat-obatan di sini (Kelenteng Welahan, Red) hanya didapat di toko-toko obat China. Ramuan khusus,” imbuhnya. (*/lin)
Layanan Langganan Koran Cenderawasih Pos, https://bit.ly/LayananMarketingCepos
UPDATE Berita Terbaru Cepos di Saluran https://whatsapp.com/channel/0029VbCNwCXAO7R8KvdYUG3Q
Operasi penertiban yang dimulai pukul 11.12 WIT tersebut dipimpin oleh Kabag Ops Polres Mimika AKP…
Yuliani menjelaskan, kekerasan terhadap perempuan dan anak dapat berupa tindakan yang menimbulkan penderitaan secara…
Menurut Rustan, Siskamling merupakan salah satu instrumen penting dalam membangun keamanan berbasis lingkungan. Kehadiran…
Kepala Dinas Sosial Kota Jayapura, Mathius Pawara, mengatakan langkah tersebut merupakan tindak lanjut dari…
Abisai menilai capaian realisasi anggaran hingga saat ini masih perlu terus didorong. Karena itu,…
Christian menyinggung masih terjadinya gangguan keamanan yang berdampak pada fasilitas transportasi di sejumlah wilayah…