“Ada beberapa kejadian-kejadian yang sudah di alami kayak meninggal itu hipotermia sama penyakit ketinggian itu. Jadi semua butuh manjat, ” tambahnya.
Berada di lingkungan dengan suhu rendah dalam waktu yang lama. Mengenakan pakaian basah di cuaca dingin terlalu lama. Tidak menggunakan pakaian tebal saat cuaca dingin.
Segera lepas dan ganti baju yang basah dengan yang kering. Gunakan beberapa lapis selimut atau jaket untuk menghangatkan tubuh. Berikan minuman hangat yang tidak mengandung kafein. Penanganan dan pengobatan hipotermia yang tidak disengaja berkisar pada pencegahan kehilangan panas lebih lanjut dan inisiasi atau pemanasan ulang, tetapi juga memerlukan evaluasi dan dukungan/intervensi saluran napas, pernapasan, dan sirkulasi. Ini mungkin melibatkan penyelamatan paten dengan prioritas pertama adalah keselamatan penyelamat.
Kemudian, Irfan menyebutkan, hal yang paling umum dialami seorang pendaki adalah saat terpapar Acute mountain sickness atau juga disebut Altitude sickness. Ini disebabkan karena tubuh tidak mendapatkan cukup waktu untuk beradaptasi dengan perubahan tekanan udara dan kadar oksigen di ketinggian.
Altitude sickness biasanya dapat didiagnosis sendiri. Gejalanya cenderung terjadi dalam beberapa jam setelah berada di ketinggian dan termasuk sakit kepala, mual, sesak napas, dan ketidakmampuan untuk beraktivitas. Untuk mengatasi kondisi tersebut, pendaki dapat turun atau membawa penderita ke tempat yang lebih rendah serta jangan mencoba mendaki lebih tinggi.
Cara untuk mencegahnya yaitu dengan melakukan aklimatisasi. Hal ini agar memberikan waktu bagi tubuh untuk beradaptasi dengan kondisi ketinggian. Puncak Cartenz sendiri memiliki catatan sejarah yang cukup unik. Puncak Cartenz yang menjadi rumah bagi flora dan fauna endemik, langkah, dilindungi bahkan purba ini merupakan salahsatu kawasan observasi yang masuk dalam Taman Nasional Lorentz.
Irfan mengatakan, jika dilihat, ekosistem yang ada di kawasan tersebut terbilang sangat komplit. Mulai dari salju abadi yang ada di pegunungan Jayawijaya (Puncak Cartenz) hingga di kawasan hingga Taman Nasional Lorentz di dataran rendah.
“Jadi ekosistemnya kalau di Puncak Cartenz sampai taman Nasional Lorentz itu komplit gitu. Dari salju, pegunungan terus sampai pesisir itu komplit jadi jaraknya tidak jauh-jauh. Jadi dia kayak dari atas turun terus bakau, bakau terus pesisir. Itu yang jadi uniknya,” ujar Irfan.
Irfan menceritakan, Puncak Jaya atau yang sering disebut Piramida Cartenz ini memiliki ketinggian 4.884 meter diatas permukaan laut (MDPL). Puncak ini pertama kali dilihat oleh penjelajah Belanda bernama Jan Cartenszoon. Singkat cerita, ia pertama kali melihat Padang Salju di puncak gunung saat hari cerah pada tahun 1623. Kemudian, padang salju Puncak Jaya itu berhasil didaki oleh seorang penjelajah Belanda bernama Hendrikus Albertus Lorentz pada awal tahun 1909.
Rakor tersebut mengusung tema “Penguatan Penyediaan Data Orang Asli Papua Guna Mendukung Implementasi Undang-Undang (UU)…
Manajer Persipura Jayapura, Owen Rahadiyan mengaku tak heran jika Reno Salampessy menjadi salah satu pilar…
emerintah Provinsi (Pemprov) Papua melalui Dinas Tenaga Kerja, Koperasi dan UKM setempat menargetkan pembangunan 13…
PSBS Biak akan melakoni laga pamungkas mereka pada Super League 2025/2026 pada Sabtu (23/5). Tim…
Ketua Komisi IV DPR Papua, Joni Y. Betaubun mengatakan, Raperda tersebut merupakan hak inisiatif DPR…
Kejuaran Daerah Bupati Keerom Cup Series II Motocross dan Grasstrack Tahun 2026 memberikan banyak cerita.…