Categories: FEATURES

Ada Sosok Mon yang Merupakan Orang Pilihan dan Fan Nanggi Sebagai Ucap Syukur

Upacara ini dipimpin oleh “Mon”, seorang petuah adat yang memiliki kemampuan khusus untuk memanggil roh dan berkomunikasi dengan alam. “Mon itu bukan orang sembarangan, orang tertentu saja,” tegas Dance Warnares. Setelah upacara, makanan pun dibagi-bagikan dan dinikmati bersama.

Seiring berjalannya waktu, FBM mengalami banyak modifikasi. Dance Warnares menyayangkan, terkadang hasil Snap Mor tidak maksimal karena masyarakat tidak sepenuhnya mengikuti aturan adat yang diwariskan leluhur. Ia mengenang pengalaman sukses di Pantai Mnur War, Tanjung Barari Biak Timur sekitar tahun 2011, saat ia masih menjadi ajudan Bupati Maryen.

“Itu luar biasa, semua orang yang pergi ke sana bawa hasil tangkapan yang banyak, seluruh warga kota ramai ke sana,” kenangnya.

Meskipun wilayah adat memiliki kesamaan, karena orang Biak adalah satu suku dengan bahasa yang berbeda dialek, praktik adat istiadatnya tetap sama, termasuk penggunaan akar tuba sebagai cara tradisional menangkap ikan.

“Dia racun ikan dengan akar tuba. Ditumbuk dan disebar di laut, ikan yang kena itu akan keluar. Seperti potasium tapi ini alami dan aman dikonsumsi manusia,” jelasnya.

Sebagai salah satu penggagas, Dance Warnares berharap agar para penggagas selalu dilibatkan dalam perencanaan dan pelaksanaan event berskala nasional ini.

“Kalau tidak, alam akan berseteru dengan pelaksana. Ke depan harapan kita selalu kita dilibatkan dalam koordinasi kerjasama yang baik, kegiatan bisa berjalan dengan bagus bisa menghasilkan pendapatan bagi masyarakat,” harapnya.

Ia merasa, terkadang para penggagas “duduk dan kesal” karena tidak dilibatkan, yang dapat mempengaruhi jalannya acara. Sejak pensiun pada tahun 2020, keterlibatannya memang semakin berkurang. Bersama Harun Rumkorem, penggagas lainnya, Dance Warnares bahkan telah mengangkat isu hak intelektual atas karya cipta ini di Dewan Kesenian Kabupaten Biak Numfor.

Kisah Festival Munara Wampasi, atau yang dulunya dikenal sebagai Munara Syor Wampasi, adalah cerminan kekayaan budaya Biak yang tak lekang oleh waktu. Dari pesan tulus almarhum Bupati Yusuf Melianus Maryen yang masih terukir di benak para penggagasnya, festival ini bukan sekadar perhelatan semata.

Ia adalah jembatan yang menghubungkan masa lalu, tradisi, dan harapan masa depan, sebuah warisan yang harus terus dijaga, dikembangkan, dan dihargai, agar identitas Biak tetap lestari dalam setiap pasang surutnya. (*).

Layanan Langganan Koran Cenderawasih Pos, https://bit.ly/LayananMarketingCepos

BACA SELENGKAPNYA DI KORAN DIGITAL CEPOS  https://www.myedisi.com/cenderawasihpos

Page: 1 2 3

Juna Cepos

Recent Posts

Seriusi Penanganan HIV-AIDS, KPA Kota Jayapura Susun Renstra

Penyusunan Renstra tersebut dibahas dalam dua kali rapat koordinasi lintas sektor. Rapat pertama dipimpin langsung…

17 hours ago

PDIP Papua Soroti Pembentukan Dewan Eksekutif TP3C

BTM menegaskan, PDI Perjuangan menghormati keputusan dan kewenangan Gubernur Papua dalam membentuk struktur percepatan pembangunan…

17 hours ago

Sejumlah Anak Perusahaan PT Irian Bhakti Bermasalah

“Kami akan usahakan lebih cepat dari waktu yang diberikan gubernur, ada beberapa yang harus diperbaiki.…

18 hours ago

300 Lebih Tenaga Kerja Diganti Sesuai Rekomendasi BPK

Kepala DLH Kabupaten Jayapura, Salmon Telenggeng, mengatakan bahwa pergantian tenaga kerja tersebut merupakan tindak lanjut…

19 hours ago

Jalur Batavia Minta Korban, Enam Penumpang Speedboat Tenggelam

Dalam perjalanan, mesin speedboat mengalami gangguan dan mati mendadak sehingga perahu kehilangan kendali dan terbalik.…

20 hours ago

BPK Papua Temukan Penyimpangan Belanja dan Aset

Meski secara umum BPK menyimpulkan bahwa pengelolaan belanja daerah Pemerintah Provinsi Papua dan Pemerintah Kabupaten…

21 hours ago