Untuk mencegah kejadian serupa, Dwi menyarankan beberapa langkah bagi orang tua dan komunitas di Mimika. Yang pertama observasi aktif. Menurutnya, sebagai orang tua wajib untuk mengamati perubahan sikap anak dan cari tahu penyebabnya dengan pendekatan yang lembut.
Kedua, komunikasi dua arah. Menurut Dwi, orang tua harus menciptakan ruang aman agar anak merasa nyaman bercerita tanpa merasa dihakimi.
Ketiga, edukasi parenting. Dwi berpendapat bahwa di Mimika perlu adanya seminar atau komunitas parenting yang mudah diakses, misalnya melalui Zoom, agar orang tua yang sibuk tetap bisa belajar cara membangun karakter anak.
Keempat, prioritas mental: “Mencari uang itu penting untuk finansial, tapi kesehatan mental anak jauh lebih berharga,” tutup Dwi.
Tragedi ini diharapkan menjadi titik balik bagi seluruh elemen masyarakat di Mimika untuk lebih peduli pada kesehatan mental generasi muda, dimulai dari lingkaran terkecil, yaitu keluarga. (*/wen)
Layanan Langganan Koran Cenderawasih Pos, https://bit.ly/LayananMarketingCepos
UPDATE Berita Terbaru Cepos di Saluran https://whatsapp.com/channel/0029VbCNwCXAO7R8KvdYUG3Q
Kepala Dinas Perhubungan Provinsi Papua, Mathius Wally, mengatakan penguatan konektivitas menjadi salah satu perhatian…
Menjelaskan situasi di lapangan, Koordinator Lapangan (Korlap) aksi pemalangan, Kamus Bayage, menegaskan bahwa penutupan…
Plt. Kepala Dinas Kesehatan Rudi Aibesa, S.KM. M.Kes membenarkan jika ada surat yang dikeluarkan oleh…
Hal tersebut disampaikan Ketua DPRK Tolikara, Meinus W. Yanengga, S.IP., bersama anggota DPRK Tolikara dalam…
Wakil Ketua II DPRP Papua Pegunungan Terius Yigibalom menekankan sesuai dengan ketentuan undang -undang nomor…
Narasi aksi unjuk rasa yang beredar melalui pamflet (flayer) di media sosial dan grup WhatsApp…