Namun, ia mengakui bahwa suasana tetap berbeda. “Namanya juga bukan rumah sendiri,” tambahnya.
Kini, satu per satu keluarga mulai meninggalkan tenda. Mereka kembali ke kehidupan masing-masing sebagian ke rumah sendiri, sebagian ke rumah kerabat, dan sebagian lagi masih mencari arah. Bagi 22 kepala keluarga yang kehilangan tempat tinggal, perjalanan baru saja dimulai.
Tak ada lagi dinding yang menyimpan cerita. Tak ada lagi album yang mengabadikan kenangan. Yang tersisa hanyalah ingatan dan harapan untuk membangun kembali, dari nol.
“Kalau kita terus pikirkan, tidak akan kembali. Jadi harus ikhlas dan pikir ke depan,” kata Yeni Pramudianti, menutup percakapan. (*/tri)
Layanan Langganan Koran Cenderawasih Pos, https://bit.ly/LayananMarketingCepos
UPDATE Berita Terbaru Cepos di Saluran https://whatsapp.com/channel/0029VbCNwCXAO7R8KvdYUG3Q
Suasana haru dan penuh syukur mewarnai pelepasan 103 calon jamaah umrah asal Kota Jayapura yang…
Tak tanggung-tanggung agenda ini sampai melibatkan dua jenderal yang langsung turun ke TKP. Salah satunya…
Menurut Kamino, usulan tersebut sangat tepat sasaran dan menjawab kebutuhan mendesak di lapangan. Ia…
Mereka dilumpuhkan dalam operasi penegakan hukum di kawasan KM 4 Logpon, Distrik Dekai, Kabupaten Yahukimo,…
Kepala Bapperida Provinsi Papua Muflih Musaad di Jayapura, Sabtu, mengatakan saat ini pemerintah provinsi…
Menurut Abisai, momentum peringatan HUT Kemerdekaan bukan hanya sekadar seremoni, tetapi juga menjadi kesempatan…