Namun, ia mengakui bahwa suasana tetap berbeda. “Namanya juga bukan rumah sendiri,” tambahnya.
Kini, satu per satu keluarga mulai meninggalkan tenda. Mereka kembali ke kehidupan masing-masing sebagian ke rumah sendiri, sebagian ke rumah kerabat, dan sebagian lagi masih mencari arah. Bagi 22 kepala keluarga yang kehilangan tempat tinggal, perjalanan baru saja dimulai.
Tak ada lagi dinding yang menyimpan cerita. Tak ada lagi album yang mengabadikan kenangan. Yang tersisa hanyalah ingatan dan harapan untuk membangun kembali, dari nol.
“Kalau kita terus pikirkan, tidak akan kembali. Jadi harus ikhlas dan pikir ke depan,” kata Yeni Pramudianti, menutup percakapan. (*/tri)
Layanan Langganan Koran Cenderawasih Pos, https://bit.ly/LayananMarketingCepos
UPDATE Berita Terbaru Cepos di Saluran https://whatsapp.com/channel/0029VbCNwCXAO7R8KvdYUG3Q
Komandan Satgas Pamtas RI-PNG 725/WRG Letkol Inf Muhamad Safril menyatakan meskipun saat iniTNI/POLRI sedang diberikan…
Kenapa Minuman Manis Kurang Tepat Saat Haus? Saat cuaca panas, tubuh kehilangan banyak cairan melalui…
Puluhan personel gabungan dikerahkan, melibatkan Brimob Batalyon B Polda Papua Tengah, Satuan Sabhara, Satuan Narkoba,…
Wakil Ketua Komisi III DPR RI Ahmad Sahroni menilai Kejaksaan Agung (Kejagung) telah menunjukan sikap…
Petugas membuntuti TN sejak dari pos penyekatan di wilayah Kwamki Narama sebelum akhirnya menyergap pelaku…
Tuntutan para pendemo tersebut sama dengan aksi demo sebelumnya yang menolak Program Strategis Nasional serta…