Namun, ia mengakui bahwa suasana tetap berbeda. “Namanya juga bukan rumah sendiri,” tambahnya.
Kini, satu per satu keluarga mulai meninggalkan tenda. Mereka kembali ke kehidupan masing-masing sebagian ke rumah sendiri, sebagian ke rumah kerabat, dan sebagian lagi masih mencari arah. Bagi 22 kepala keluarga yang kehilangan tempat tinggal, perjalanan baru saja dimulai.
Tak ada lagi dinding yang menyimpan cerita. Tak ada lagi album yang mengabadikan kenangan. Yang tersisa hanyalah ingatan dan harapan untuk membangun kembali, dari nol.
“Kalau kita terus pikirkan, tidak akan kembali. Jadi harus ikhlas dan pikir ke depan,” kata Yeni Pramudianti, menutup percakapan. (*/tri)
Layanan Langganan Koran Cenderawasih Pos, https://bit.ly/LayananMarketingCepos
UPDATE Berita Terbaru Cepos di Saluran https://whatsapp.com/channel/0029VbCNwCXAO7R8KvdYUG3Q
Pemerintah Kota Jayapura melalui Dinas Pendapatan Daerah (Dispenda) menggelar tatap muka bersama para wajib pajak…
Setelah melewati satu musim penuh kompetisi, Arthur akhirnya merasakan langsung bagaimana atmosfer sepak bola di…
Kepala Komnas HAM Papua, Frits Ramandey menilai peristiwa tersebut sebagai dugaan pelanggaran hak asasi manusia…
Fenomena astronomi langka Blue Moon atau Bulan Biru diprediksi akan kembali terjadi dalam waktu dekat.…
Komando Daerah Angkatan Laut (Kodaeral) X Jayapura berhasil mengungkap lima kasus tindak pidana narkotika jenis…
Kepala Kampung Warembori, Steven Samber, meminta Pemerintah Provinsi Papua melanjutkan pembangunan Koperasi Nelayan Merah Putih…