

Mama Helma Makai saat menganyam noken pesanan salah satu konsumen, Sabtu (14/6). (foto:Elfira/Cepos)
Ketika Penyandang Disabilitas Diberi Kesempatan yang Sama di Festival Cenderawasih
Sekilas melihat para penyandang disabilitas menimbulkan empati bagi siapa saja. Namun siapa sangka, jika mereka diberi kesempatan yang sama, justru mampu menunjukkan kemampuan, kreatifitas dan kemandiriannya. Tak kalah dibanding yang yang normal.
Laporan: Elfira_Jayapura
Jari-jari tangan mereka terlihat sibuk dan lincah, saat saya menghampiri para penyandang disabilitas ini, di salah satu tenan Festival Cenderawasih di eks Terminal PTC Entrop, sekira pukul 18. 47 WIT, Sabtu (14/6) malam itu. Ada yang menganyam noken, membuat gelang dari manik-manik, menata jualan di atas meja, bahkan sebagian dari mereka sibuk mengobrol di depan tenan.
Entah apa yang diobrolkan di tengah kebisingan Festival Cenderawasih malam itu, namun mereka sesekali tertawa saat duduk di meja plastik. Di dalam pojok tenan, saya pun mengobrol dengan Helma Makai, seorang perempuan penyandang tunanetra yang sedang sibuk menganyam noken. Katanya, noken berwarna cokelat yang dianyamnya itu pesanan orang.
“Ini pesanan orang, saya hanya melanjutkan anyamannya saja dan sebentar dia akan datang mengambilnya,” ucap perempuan 58 tahun itu sembari kedua tangannya terus menganyam menggunakan benang dan jarum plastik.
Di tengah keterbatasannya, Helma jago dalam membuat taplak meja berbahan sedotan, taplak meja dari benang, menganyam noken dan lainnya. Rekannya, kata Helma, juga jago dalam membuat keset kaki berbahan sabut kelapa, gelang dan aksesoris lainnya.
Hasil buatannya ia jual sendiri. Perempuan 58 tahun ini biasa berjualan di pelataran Saga Jayapura, depan Toko Virgo, Toko Aneka dan Gramedia. Beberapa lembar rupiah yang didapat dicukup-cukupkan untuk memenuhi kebutuhannya sehari-hari.
“Saya cacat namun memiliki keterampilan, dari keterampilan yang saya miliki untuk menghidupi kebutuhan sehari-hari,” ungkap perempuan yang tinggal di Polimak ini.
Masih di tenan yang sama, di sudut lainnya, Novia dan Fernando orang dengan keistimewaannya, sedang membuat gelang, kalung dan anting dari manik-manik. Harganya terbilang murah, dijual Rp 25 ribu per satuan.
Saya pun ikut membeli gelang yang dibuat dari beragam manik-manik itu, modelnya lucu sekali. Sepasang suami isteri ini kemudian mengajak mengobrol tanpa suara, hanya menggunakan gerakan tangan. Termasuk harga Rp 25 ribu saya ketahui dari gerakan tangan yang disampaikan, untuk kalung dijualnya ada yang Rp 35 ribu.
Page: 1 2
Pigai menjelaskan, Kementerian HAM memiliki berbagai program di bidang pendidikan, penyuluhan dan sosialisasi HAM yang…
Menurutnya, dari hasil visum yang dilakukan, korban meregang nyawa akibat luka benda tajam dari perut…
Plt Kepala BPBD Provinsi Papua, B. Wisnu Raditya mengatakan, dua peristiwa tersebut harus menjadi peringatan…
Ia mengaku SMA Asisi memberikan dukungan penuh kepada murid mereka untuk mengikuti berbagai iven seperti…
Dalam sidak tersebut, Mentan Amran menegaskan praktik ini sebagai bentuk pengkhianatan terhadap petani dan kedaulatan…
Budi mengungkapkan, Sudewo tengah menjalani pemeriksaan secara intensif oleh tim penindakan KPK. Pemeriksaan itu dilakukan…