Categories: FEATURES

Gereja Membela Harkat dan Martabat Manusia, Jangan Dinilai Gerakan Politik Praktis

   Ketua HONAI Pdt. Andrikus Mofu menyadari bahwa tantangan terbesar organisasi tersebut adalah membuktikan bahwa kehadirannya benar-benar mampu mendorong perubahan.

Menurutnya, gereja selama ini telah mengetahui persoalan yang terjadi di Papua. Namun, berbagai upaya yang dilakukan secara sendiri-sendiri sering kali belum cukup untuk menghasilkan perubahan yang lebih besar.

   Karena itu, HONAI diharapkan menjadi wadah yang menyatukan energi dan komitmen tersebut. “Kita harus kerja ekstra,” tegas Mofu, saat konferensi pers.

  Menurut dia, kerja kemanusiaan tidak boleh berhenti pada pernyataan normatif. HONAI harus mampu mendorong langkah-langkah konkret, termasuk membangun komunikasi dengan pemerintah dan para pengambil keputusan di tingkat nasional. Salah satu agenda penting yang didorong adalah membuka ruang dialog untuk penyelesaian persoalan Papua.

  Mofu berharap pemerintah, termasuk Presiden, TNI dan Polri, dapat duduk bersama dengan berbagai elemen masyarakat untuk membicarakan persoalan Papua secara terbuka.

  “Saya katakan harus kita yakinkan untuk pengambil keputusan tertinggi dalam negara ini, Presiden, supaya harus ada ruang dialog. Ruang di mana kita bisa berjumpa untuk menyampaikan hal-hal yang menjadi arah kita bersama untuk menyelesaikan masalah di Papua,” ujarnya.

  Bagi Mofu, selama para pihak tidak memiliki kemauan untuk duduk bersama, maka persoalan Papua akan sulit diselesaikan. “Selama kita tidak bisa duduk bersama dan tidak punya kemauan bersama untuk menyelesaikan masalah di Papua, sampai kapan pun tidak akan diselesaikan,” katanya.

   Sekretaris Umum Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI), Darwin Darmawan, M.Th., yang juga merupakan pengurus HONAI, melihat pekerjaan organisasi ini tidak dapat diukur hanya dari seberapa besar organisasi tersebut dibentuk.

  Menurutnya, keberhasilan HONAI juga sangat bergantung pada kesungguhan dan iktikad baik semua pihak, terutama pemerintah. Sebab, situasi konflik tidak lahir dari satu pihak saja. Karena itu, penyelesaiannya pun tidak mungkin hanya dibebankan kepada satu kelompok.

  Uskup Keuskupan Jayapura Mgr. Yanuarius Theofilus Matopai You, yang juga menjadi bagian dari HONAI, menegaskan bahwa gagasan membangun Papua sebagai Tanah Damai sebenarnya bukan sesuatu yang baru bagi gereja.

Page: 1 2 3 4

Juna Cepos

Share
Published by
Juna Cepos

Recent Posts

Baru Dua Daerah di Papua Punya Regulasi PBJ Kampung

-Regulasi Pengadaan Barang dan Jasa (PBJ) di tingkat kampung di Papua belum merata. Dari 1.029…

23 hours ago

JPO Abepura Kembali Dibuka, Pejalan Kaki Bernapas Lega

  Penggunaan kembali prasarana penyeberangan ini disambut dengan rasa lega yang mendalam oleh masyarakat Abepura,…

1 day ago

Sandera yang Selamat Ternyata Sedang Hamil

Langkah ini menyusul keberhasilan evakuasi salah seorang korban selamat, Demerina Uamang (23), yang sempat diamankan…

1 day ago

Konsep Dialog Kembali Didorong untuk Akhiri Konflik

Ketua HONAI, Pdt. Andrikus Mofu, menegaskan gereja tidak ingin masyarakat terus menjadi korban kekerasan, kehilangan…

1 day ago

Disandera, Dipaksa Dukung OPM Lalu Dihabisi

Ia ditemukan tewas dengan kondisi terbakar bersama mobilnya. Yang bikin heboh adalah, sebelum dieksekusi, ia…

1 day ago

Demo Tolak MBG Serentak Disinyalir Terorganisir

Kepala Komnas HAM Papua, Frits Ramandey menduga aksi yang berlangsung di sejumlah daerah tersebut tidak…

1 day ago