Categories: FEATURES

Segmen “Pasar” Berbeda, Ibu-ibu Kompleks Bisa Minimalkan Belanja Harian

Para Penjual Sayur Keliling dan Ibu-ibu Rumah Tangga Bicara Pasca Pelarangan Penjualan Sayur Keliling di Sentani (bagian 1)

Seperti tamparan keras rasanya melayang bagi penjual sayur keliling, usai diminta untuk tertib dan mengikuti aturan guna membantu ekonomi para penjual sayur di pasar-pasar tradisional. Tapi di lain sisi kehadiran penjual sayur keliling membantu masyarakat kecil yang juga tak perlu harus ke pasar. Bagaimana pandangan para pedagang sayur dan ibu-ibu rumah tangga?

Laporan: Yohana_SENTANI

Pagi di Sentani biasanya diawali dengan suara khas yang sudah akrab di telinga warga, antrian ibu-ibu yang usai mengantar anaknya sekolah tak lagi mewarnai jalan umum di Kota Sentani.

Klakson pendek dari mobil pick-up bermuatan sayur itu menjadi penanda bahwa “mas sayur” telah tiba. Namun beberapa waktu lalu, suasana itu sempat berubah.

Aksi pelarangan penjualan sayur keliling yang dilakukan Kepala Distrik Sentani membuat sejumlah pedagang memilih menepi. Beberapa pedagang bahkan diminta putar balik dan tidak diperbolehkan berjualan di wilayah Sentani.

Surya, salah satu pedagang sayur keliling yang sehari-hari beroperasi menggunakan sepeda motor Supra 125 tua, yang dimodifikasi dengan rak-rak jualan terisi penuh dengan sayuran dan juga sebuah ember penyimpanan tahu, pelan-pelan membunyikan klakson motor dan nada suara khas “sayuuuurrr” masuk di komplek.

Surya masih mengingat betul momen dimana ia bersama rekan-rekannya disuruh putar balik dan tidak boleh berjualan di Sentani.

“Kami sempat disuruh pulang dan tidak boleh berjualan di Sentani. Pemeriksaan dilakukan di batas kota. Namun sekarang sudah tidak ada lagi larangan atau penjagaan terkait penjualan sayur keliling,” ujarnya, Selasa (10/2) lalu.

Kepala Distrik Sentani, Jeck Puraro memberi peringatan kepada penjual sayur keliling agar tidak lagi berjualan di jalan umum, karena menggu aktivitas masyarakat,dan merugikan penjual sayur di pasar tradisional, belum lama ini. KaDistrik Sentani for Cepos:

Meski penjagaan kini tak lagi terlihat, dampaknya masih terasa. Para pedagang pick-up tidak lagi leluasa berjualan di tempat umum. Mereka diarahkan untuk berjualan di pasar, seperti Pasar Pharaa dan Pasar Lama.

Bagi Surya dan rekan-rekannya, kondisi ini menempatkan mereka dalam situasi yang dilematis. Di satu sisi, mereka ingin menaati aturan. Di sisi lain, ada keluarga yang harus dinafkahi setiap hari.

Surya menilai, kebijakan seperti ini seharusnya disertai kejelasan aturan agar tidak menimbulkan kebingungan. Ia menegaskan, pedagang sayur keliling tidak berniat merebut pembeli dari pasar tradisional.

Page: 1 2 3

Juna Cepos

Recent Posts

Sebagian Dokter Spesialis RSUD Merauke Pilih Mogok

Sebagian dokter spesialis Rumah Sakit Daerah (RSUD) Merauke memilih mogok kerja pada Sabtu (9/5). Mereka…

58 minutes ago

Hari Ketiga Pencarian Korban Jembatan Putus Belum Membuahkan Hasil

Kapolres Jayawijaya melalui Kasat Binmas Polres Jayawijaya Iptu. Zabur Esomar pencarian dimulai sejak pukul 08.20…

2 hours ago

Komite Eksekutif Percepatan Pembangunan Otsus Papua Kunjungi Kab. Yalimo

Kunjungan rombongan tersebut ke Yalimo didampingi oleh Wakil Gubernur Provinsi Papua Pegunungan Dr. Ones Pahabol. …

3 hours ago

PK-HAM Papua Minta Negara Harus Hadir Untuk Cegah Konflik dan Perlindungan Warga Sipil

Ketua PAK-HAM Papua Dr. Methodius Kossay, SH,.M.Hum, CT,.CMP menyatakan negara harus hadir secara nyata dalam…

4 hours ago

Bentuk Program Ketahanan Pangan Berbasis Lokal Wabub Jayawijaya Panen Ikan Di Silokarno Doga

Wakil Bupati Jayawijaya Ronny Elopere, S.IP, M.KP menyatakan dalam panen raya ikan air tawar, pemerintah…

5 hours ago

Polres Mimika Musnahkan Tempat Pengolahan Sopi

Satuan Reserse Narkoba (Sat Resnarkoba) Polres Mimika melancarkan operasi senyap dengan menggerebek sebuah pabrik rumahan…

6 hours ago