Categories: FEATURES

Noken Bukan Tentang Tas Tapi Tentang Nilai Budaya

“Itulah makanya kenapa penting noken ini dirawat dengan baik, karena bukan tentang tas, tapi ada nilai budaya yang kita jaga didalamnya,” kata Edi.

Pria berusia 50 tahun itu mengatakan ditengah perkembangan hal yang menjadi tantangan saat ini. Adanya perkembangan noken yang diadopsi secara moderen. Dimana sebagian besar yang dipasarkan diberbagai kota di Papua, lebih dominan noken yang terbuat dari benang.

Kondisi ini terjadi karena pengaruh perkembangan zaman, tapi juga diakui bahan dasar pembuatan noken semakin sulit didapat.

“Sehingga sekarang ini, kami sedang berupaya menanam kayu-kayu sebagai bahan dasar noken asli karena memang sekarang ini sudah mulai susah mendapat kulit yang asli,” bebernya.

Namun terlepas dari itu, kendala lain yang ditemukan dalam hal pengelolahan gedung museum noken adalah  di tahun 2024 UPTD ini tidak mendapatkan anggaran untuk pengelolahan museum tersebut.

“Padahal banyak hal yang harus dibenah, sehingga mendorong daya minat masyarakat mengunjungi tempat tersebut, namun karena keterbatasan anggaran sehingga mereka mengelolah tempat tersebut seadanya.

Contohnya didalam gedung, harusnya ada AC, karena noken ini kalau terus terusan kena panas akan rapuh, tapi mau bagaimana kami tidak punya anggaran untuk pasang AC,” tuturnya.

Hal lain masih berkaitan dengan perawatan gedung. Pasca adanya Covid 19 museum tersebut sempat ditutup. Dengan kondisi itulah sehingga jarang dirawat. Akibatnya kondisi museum tersebut tampak semakin kotor.

Oleh sebabnya itu, perlu adanya dukungan anggaran, sehingga perawatan baik didalam gedung maupun halaman bagian luar mesti dibersihkan.

“Kami ingin museum ini dibuat seperti galeri, tapi apalah daya kita tidak punya uang untuk hal itu,” ungkapnya.

Selain itu perlu adanya kantor bagi pegawai, akan tetapi sama karena tidak mendapatkan anggaran sehingga terpaksa pegawai harus menggunakan museum sebagai tempat kerja.

Pihaknya mengharapkan adanya perhatian pemerintah untuk mendukung pengelolahan museum tersebut melalui dukungan anggaran. “Karena sekarang ini pengunjung sangat sepih, mungkin karena tempatnya kurang dirawat, sehingga kami harap pemerintah bisa perhatikan museum ini dengan baik,” pungkasnya (*)

Layanan Langganan Koran Cenderawasih Pos, https://bit.ly/LayananMarketingCepos

BACA SELENGKAPNYA DI KORAN DIGITAL CEPOS  https://www.myedisi.com/cenderawasihpos

Page: 1 2 3

Juna Cepos

Share
Published by
Juna Cepos

Recent Posts

Polres Nabire Libatkan Ahli Digital Forensik Usut Pembunuhan Siswi SMP

"Pelaksanaan ekstraksi dan cellebrite terhadap barang bukti berupa tiga buah telepon seluler, dua milik korban…

8 hours ago

Hendak Perbaiki Jangkar, Seorang ABK Tenggelam di Muara Sungai Maro

Korban diduga terjatuh ke sungai saat hendak memperbaiki tali jangkar kapal. Kejadian tersebut dilaporkan kepada…

9 hours ago

Pemda Papua Diminta Tuntaskan Penyaluran Dana Otsus

Ribka menyampaikan hal tersebut dalam rapat evaluasi penyaluran Dana Otsus dalam keterangannya di Jakarta, Kamis,…

9 hours ago

Dihantam Ombak di Manasari, Pengemudi Speed Boat Ditemukan Selamat

Korban ditemukan dalam kondisi selamat pada Kamis pagi (6/8), setelah perahunya karam dihantam ombak besar…

10 hours ago

SD Inpres Kampung Harapan Kembali Dibuka

Marince, salah seorang orang tua murid, mengaku lega dan bahagia karena anak-anak akhirnya bisa kembali…

10 hours ago

Pertamina Mulai Salurkan Biosolar B50 di Mimika

Skema transmisi ini merupakan bagian dari kebijakan nasional untuk menekan tingkat impor bahan bakar fosil…

11 hours ago