

1-Marianus Maknaipeku
Mengulik Eksistensi Upacara Adat Karapao, Ritual Anak Kamoro Memasuku Usia Dewasa
Setiap suku atau marga di Tanah Papua biasa memiliki tradisi atau budaya yang diwarisi turun temurun. Tak semua sama, salah satunya di wilayah Mimika. Suku Kamoro punya tradisi adat Karapao. Anak yang beranjak dewasa wajib memanjat tiang kayu.
Laporan: Wahyu Welerubun_Mimika
Aroma daun sagu dan jerami kering menyeruak di antara tiang-tiang kayu yang berdiri kokoh. Di sebuah bangunan persegi panjang modular berdinding anyaman, peradaban Suku Kamoro di Mimika, Papua Tengah, sedang menguji waktu. Di sinilah biasa Karapao digelar. Sebuah ritual inisiasi sakral yang menandai transisi emosional dan spiritual anak laki-laki usia 10 hingga 15 tahun menuju gerbang pendewasaan lahir dan batin.
Bagi masyarakat Kamoro, Karapao bukan sekadar selebrasi visual. Ini adalah poros warisan leluhur yang melilitkan tanggung jawab baru dari ipar lelaki kepada sang anak, yang disimbolkan lewat pemotongan bagian bawah busana adat Tauri. Ritual ini memiliki arsitektur yang presisi. Panjang bangunan temporer tempat upacara berlangsung dinamis; ditentukan oleh jumlah pintu yang merepresentasikan jumlah anak yang akan diinisiasi.
Sebelum fajar pendewasaan menyingsing, setiap anak dari masing-masing Taparo (mata rumah) wajib memanjat tiang kayu di depan rumah adat demi meraih rumbai-rumbai di ujungnya. Kain itu kemudian dijatuhkan ke dekapan orang tua yang menunggu di bawah. Usai ritual panjat tiang, sang anak diboyong ke sungai. Di aliran air itulah, kontak spiritual antara orang tua, anak, dan leluhur dikukuhkan, menegaskan status mereka sebagai pewaris sah tradisi Kamoro.
Tokoh Masyarakat Suku Kamoro, Marianus Maknaipeku, saat ditemui Cenderawasih Pos, Rabu (3/6), menyampaikan bahwa pesta adat Karapao tidak akan pernah hilang dan hingga saat ini masih tetap lestari di dalam tubuh masyarakat Kamoro. Meski literatur lama mencatat tradisi ini kerap dilakukan berkala, Marianus menjelaskan bahwa upacara adat Karapao sendiri biasanya digelar setiap 10 hingga 15 tahun sekali.
”Jadi bisa 10 tahun. Bisa terkadang 10 tahun. Iya. Jadi pesta adat Karapao ini bagi suku Kamoro itu sudah melekat. Itu warisan leluhur dan barang sampai kapan pun tidak akan hilang,” jelas Marianus. Di mata Marianus, Kamoro adalah benteng kebudayaan yang kokoh melalui nyanyian, ukiran patung, hingga tabuhan tifa. Karapao menjadi hulu dari segala identitas tersebut, yang menempa mentalitas generasi muda Kamoro agar tak limbung digerus zaman.
”Biar dia besar di luar, dia tetap gagah, dia bisa kokoh sebagai anak muda, punya kecerdasan, dia bisa bikin apa? ukiran, bisa bikin perahu, bisa bikin apa saja. Dia dilepaskan,” ungkap Marianus. Karapao tidak hanya berdenyut saat menyambut kehidupan baru. Konteks upacara ini meluas secara magis ketika seorang tetua atau tokoh adat wafat. Karapao bertransformasi menjadi ritus duka sekaligus ruang transisi kekuasaan adat.
”Ada setiap 10 tahun, bahkan 15 tahun, ya, bisa terjadi. Bahkan ada momen-momen tertentu, ada upacara-upacara adat tertentu. Mungkin karena tokoh adat yang dituakan itu, iya, dia eh mengalami musibah, musibah permanen, atau meninggal,” tambahnya. Ketika salah satu marga pemilik rumah adat Karapao mangkat, bangunan lama wajib dirubuhkan.
Page: 1 2
Kabid Humas Polda Papua, Kombes Pol. Cahyo Sukarnito, menyampaikan bahwa perkembangan penanganan kasus menunjukkan hasil…
Juru Bicara TPNPB-OPM, Sebby Sambom, mengatakan operasi tersebut dipimpin Komandan Kowip I Rutis, Barnabas Muk.…
Pengamat ekonomi sekaligus Dosen Pascasarjana Magister Manajemen STIE Port Numbay Jayapura, John Agustinus, mengatakan dampak…
“Kenapa yang dibahas hanya pesta babi di Merauke? Kenapa tidak melihat Sumatera Selatan yang kami…
Kasus ini dinilai harus menjadi momentum krusial untuk membenahi tata kelola program strategis nasional tersebut…
Selain sisa logistik yang tertimbun di dalam tanah maupun gua, sisa amunisi juga banyak yang…