

Beberapa mahasiswa ISBI Membawa Tarian pada Acara Dies Natalis Ke-10 di Hotel Horison Kotaraja, Selasa (29/10). (FOTO:Karel/Cepos)
Melihat Lebih Dekat Perkembangan ISBI Tanah Papua
Kehadiran Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) di Tanah Papua, memang memberikan warna dan pilihan bagi masyarakat untuk menempuh studi di lingkungan pendidikan tinggi. Setelah 10 tahun berdiri, lantas seperti apa kondisi dan kontribusi dari hadirnya ISBI ini?
Laporan: Karolus Daot-Jayapura.
Sejak tahun 2014 silam, Institut Seni Budaya Indonesia atau ISBI ini resmi melebarkan sayap ke Indoensia bagian timur, tepatnya di Kota Jayapura, Provinsi Papua. Meskipun secara usia boleh dikatakan masih muda, namun berbekal tekad, mereka terus berbenah diri dalam rangka meningkatkan kualitas mutu pendidikan.
Dimana sejak tahun 2014 hingga 2024, Lembaga yang bernaung dibawa Kemendikbudristek itu telah menghasilkan lulusan sebanyak 82 orang mahasiswa. Sementara jumlah keseluruhan, terhitung sejak tahun tiga tahun belakangan ini, yakni 2021-2024 jumlah mahasiswa sudah mencapai 243 orang.
Selain perkembangan mahasiswa, Kampus yang terletak di Kelurahan Waena, Distrik Heram, Kota Jayapura itu telah berakreditask baik. Untuk 5 Program Studi (Prodi), meliputi Prodi Seni Tari, Prodi Seni Musik, Prodi Seni Rupa Murni, Prodi Kriya Seni, dan Prodi Desain Komunikasi Visual.
Rektor ISBI Papua, I. Dewa Ketut Wicaksana, mengatakan arah dan tujuan berdirinya ISBI tanah Papua untuk mewujudkan misi, yakni menyelenggarakan pendidikan tinggi dengan mengembangkan potensi dan pluralitas seni dan budaya lokal untuk membangun jati diri masyarakat agar memiliki daya saing global.
Karena itu, ISBI juga melakukan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat guna mendukung pendidikan dan pengembangan seni dan budaya, mengembangkan kerjasama antar lembaga secara berkelanjutan. Hal ini sejalan dengan Motto ISBI Tanah Papua yaitu Seni Budayaku Kehidupanku.
Makna dari visi, misi, dan motto ini menunjukkan bahwa ISBI hadir untuk menghasilkan sarjana di bidang seni dan budaya yang memiliki kompetensi. Sehingga mampu menciptakan dan mempresentasikan beragam gagasan ke dalam berbagai bentuk karya seni dan mempertanggungjawabkan secara akademik, moral, dan etik,” katanya Selasa (29/10) lalu.
Jelasnya praktik kekerasan berbasis gender, kekerasan seksual, serta diskriminasi struktural maupun kultural dialami perempuan Papua…
Kepala Dinas Pertanian, Pangan, Kelautan dan Perikanan Papua Selatan, Paino ditemui media ini disela-sela pembahasan…
Petrus Assem menjelaskan, penanaman tebu di Merauke tersebut untuk industry gula dengan produk turunannya bioethanol…
Di tengah desakan kelompok warga yang menuntut pengukuhan lembaga adat, Bupati Mimika Johannes Rettob memilih…
al ini disampaikan langsung Direktur Eksekutif ALDP, Latifah Anum Siregar kepada Cenderawasih Pos melalui keterangan…
Perum Bulog Kantor Cabang (KC) Timika mulai mematangkan persiapan penyaluran bantuan pangan berupa beras dan…