

Pengunjung di Nggam Bu, yang berlokasi di Kampung Berab saat menikmati suasana di Kali Biru, Sabtu (27/7). (foto: Elfira/Cepos)
Melihat Pesona Kali Biru di Kampung Berab, Dari Rakit Bambu hingga Cerita Leluhur
Berjarak sekitar dua jam dari Abepura, Kota Jayapura. Tempat Wisata Nggam Bu perlahan mulai ramai dikunjungi wisatawan lokal maupun mancanegara. Lantas seperti apa lokasi wisata yang dijuluki Kali Biru tersebut ?
Laporan: Elfira-Kabupaten Jayapura
Airnya sebening kaca dengan gradasi biru kehijauan. Dasar sungai tidak terlihat jelas, sementara pepohonan rindang di sekelilingnya menghadirkan kesejukan yang sulit ditemukan di perkotaan. Suara gemericik air berpadu dengan kicau burung menjadi musik alam yang menyambut setiap orang yang datang.
Itulah Nggam Bu, sebuah destinasi wisata alam di Kampung Berab, Distrik Nimbokrang, Kabupaten Jayapura, yang perlahan mulai dikenal wisatawan karena keindahan sekaligus cerita yang menyertainya.
Perjalanan menuju lokasi tidak singkat. Dari Abepura, pengunjung harus menempuh jarak sekitar 86 kilometer atau lebih dari dua jam perjalanan darat. Setelah tiba di Jalan Poros Berab-Demta, perjalanan dilanjutkan dengan masuk menggunakan kendaraan sekitar 120 meter menuju tepian sungai.
Bagi masyarakat setempat, tempat ini bukan sekadar objek wisata. Mereka menyebutnya Nggam Bu, bukan Kali Biru.
Pengelola wisata, Simon, mengatakan nama tersebut sengaja dipertahankan sebagai bentuk penghormatan terhadap bahasa dan budaya masyarakat adat. “Nggam berarti Kali Biru, sedangkan ‘Bu’ berarti air. Kami ingin nama asli ini tetap dikenal, terutama oleh anak-anak kami agar mereka tidak melupakan bahasa leluhur,” katanya, kepada Cenderawasih Pos, Sabtu (25/7).
Keinginan mempertahankan nama asli menjadi bagian dari upaya menjaga identitas budaya di tengah berkembangnya sektor pariwisata. Berbeda dengan banyak objek wisata yang dikelola perusahaan, Nggam Bu tumbuh dari semangat kebersamaan masyarakat adat.
Kata Simon, kawasan wisata ini dikelola melalui badan usaha milik masyarakat adat dengan sistem komunal. Pendapatan yang diperoleh dari aktivitas wisata dinikmati bersama oleh marga-marga pemilik hak ulayat di kawasan tersebut.
Bagi warga Kampung Berab, wisata bukan hanya soal mendatangkan pengunjung, tetapi juga menjadi cara menjaga tanah warisan leluhur. “Semua dikelola bersama sehingga manfaatnya juga dirasakan bersama,” ujar Simon yang ditemui di lokasi.
Aktivitas kantor di Sekretariat DPR Papua, Jumat (25/9) mendadak tegang. Ini lantaran sejumlah penyidik kejaksaan…
Kedatangan para tokoh adat dipimpin Ketua Lembaga Masyarakat Adat (LMA) Waropen di Tanah Tabi, Karlos…
Alih-alih masuk ke blok hunian utama, tim Ombudsman justru menemukan deretan bangunan yang menarik perhatian.…
Presiden Prabowo Subianto memutuskan membentuk Badan Pengelola Gambut dan Mangrove Nasional (BPGMN) untuk memperkuat pencegahan…
Juru Bicara BGN Tysa Novenny mengatakan keterlibatan sekolah menjadi bagian penting dalam membangun sistem pengawasan…
Banyak sekali kebun yang dibuat oleh warga. Lokasi yang harusnya ditumbuhi pepohonan besar tiba-tiba berubah…