Categories: FEATURES

Serap Keluhan dan Aspirasi Hakim, Mulai Masalah Pengawasan hingga Kesejahteraan

Dari Pertemuan Komisi Yudisial dengan Para Hakim se-Tanah Papua

Komisi Yudisial Republik Indonesia (KY) menggelar pertemuan bersama para hakim se-Tanah Papua di Pengadilan Tinggi Jayapura, Rabu (29/4). Kegiatan ini menjadi ruang dialog terbuka bagi hakim untuk menyampaikan berbagai persoalan yang dihadapi, mulai dari sistem pengawasan, penempatan tugas, hingga kesejahteraan.

Laporan: Carolus Daot_Jayapura

Pertemuan tersebut dihadiri Ketua Bidang Pengawasan Hakim dan Investigasi KY, Abhan, yang memaparkan materi sekaligus mendengar langsung masukan dari para hakim.
Dalam sesi diskusi, Hakim Tinggi PTA Jayapura, Suharto, meminta KY merekomendasikan kepada Mahkamah Agung Republik Indonesia (MA) agar penempatan hakim tidak terlalu jauh dari domisili keluarga.  Menurutnya, kebijakan tersebut dapat meminimalisir persoalan sosial yang kerap muncul, termasuk potensi keretakan rumah tangga.

Sementara itu, Ketua PTUN Jayapura, Merna Cinthia, menyoroti tumpang tindih pengawasan antara KY dan Badan Pengawasan (Bawas) MA. Ia menilai pola pemeriksaan oleh Bawas sering kali melampaui batas dengan masuk ke ranah teknis peradilan.

“Pemeriksaan tidak hanya pada aspek laporan, tetapi juga masuk ke ruang kerja dan aktivitas teknis hakim. Bahkan, pemeriksaannya terasa lebih brutal dibandingkan KY,” ujarnya.

Merna juga menyinggung ketidaksesuaian jenjang pemeriksa dengan hakim yang diperiksa. Ia menilai kondisi tersebut kurang relevan dan berpotensi mengganggu profesionalitas. Karena itu, ia berharap KY dapat berkoordinasi dengan MA agar pengawasan kinerja hakim lebih difokuskan kepada KY, sementara Bawas cukup menangani staf peradilan.

Keluhan juga datang dari hakim Pengadilan Negeri Jayapura, Ronald Lauterbom terkait sistem pemeriksaan. Ia mengungkapkan bahwa meski dinyatakan tidak melanggar kode etik, nama baiknya tetap tercoreng karena tidak ada mekanisme pemulihan dari KY.

“Ketika tidak terbukti, seharusnya ada langkah pemulihan nama baik. Karena di lingkungan kerja maupun masyarakat, citra kami sudah terlanjur terdampak,” ungkapnya.
Selain itu, persoalan fasilitas juga menjadi sorotan. Para hakim mengeluhkan minimnya rumah dinas, sehingga sebagian besar masih tinggal di rumah kos. Kondisi ini dinilai tidak sejalan dengan tuntutan profesionalisme yang tinggi.

“Kami berharap MA memperhatikan kesejahteraan hakim, termasuk penyediaan rumah dinas,” tambahnya.

Page: 1 2

Juna Cepos

Recent Posts

Tiga Ruangan Baru di RSUD Wamena Diresmikan

Untuk mendukung peningkatan pelayanan kesehatan di RSUD Wamena, Pemerintah Kabupaten Jayawijaya meresmikan 3 ruangan yang…

4 hours ago

Dinkes Lanny Jaya Turun Kirimkan Tim Ke 3 Distrik Yang Terdampak Hujan Es

Kepala Dinas Kesehatan Lanny Jaya, Niel Yigibalom, SKM., M.Si., menyampaikan kondisi tersebut dalam rapat bersama…

5 hours ago

Pemprov Papua Pegunungan Minta Bantuan Pusat

Wakil Gubernur Papua Pegununugan Dr. Ones Pahabol, SE, MM menyatakan tak bisa dipungkiri lagi jika…

6 hours ago

Bupati Keerom Lantik Ketua Baru Kwarcab Pramuka  Keerom

Momen ini menjadi tonggak penting bagi kebangkitan Pramuka di Kabupaten Keerom setelah sempat vakum selama…

12 hours ago

Polres Jayapura Amankan 79 Botol Boplas di Doyo Lama

Penertiban dilakukan setelah polisi menerima informasi dari masyarakat terkait aktivitas penjualan Boplas yang dinilai meresahkan.…

13 hours ago

Kantor DPR Papua Digeledah Kejaksaan

Aktivitas kantor di Sekretariat DPR Papua, Jumat (25/9) mendadak tegang. Ini lantaran sejumlah penyidik kejaksaan…

1 day ago