Categories: FEATURES

Bupati Silih Berganti Kondisi Jalan dan Selokan Tak Pernah Berubah

Letaknya yang dekat dengan pemukiman warga membuat pasar ini semakin hidup. Tidak hanya pedagang, para tukang ojek juga menggantungkan hidup di sini. Ada Oyam (Ojek Yahim) dan Ojek Komba. Mereka melayani penumpang ke berbagai tujuan, dari Pantai Yahim, Kelurahan Dobonsolo, hingga kampung-kampung seperti Komba dan Ifale, Kampung Sere Tua, Yabaso dan lainnya.

Mesin motor mereka menjadi bagian dari suara khas pasar, bersaing dengan klakson kendaraan dan teriakan pedagang. Di antara mereka, Bambang (49) duduk di atas motornya, menunggu penumpang. Sudah 15 tahun ia menjalani hidup sebagai tukang ojek. Dari pekerjaan itu, ia menyekolahkan tiga anaknya bahkan salah satunya kini sudah kuliah.

“Tidak mudah, tapi rezeki Tuhan pasti ada.” katanya pelan, sambil menatap jalan yang mulai padat. Ia pernah berpikir untuk berhenti. Namun kebutuhan hidup tidak pernah benar-benar selesai. Setiap hari, ia kembali ke pangkalan yang sama, menunggu, berharap, dan terus bertahan. Namun perjuangan di Pasar Lama tidak hanya soal mencari penumpang atau menjual dagangan. Ada tantangan yang datang berulang, terutama saat turun hujan.

Saluran drainase di sekitar pasar kerap tersumbat oleh sampah. Air meluap ke jalan, membawa bau tak sedap yang menyengat. Dalam sekejap, area pasar berubah menjadi genangan kotor yang mengganggu aktivitas. Air di drainase inilah yang menjadi biang masalah selama ini. Dan pemandangan bahwa air naik ke badan jalan rasanya sudah menjadi kewajaran dan normal bagi mereka yang bertahun-tahun berjibaku di pasar tersebut.

Ya di Pasar Lama puluhan pedagang berjualan di atas jalur drainase yang menganga. “Sudah biasa, yang penting kita masih bisa kerja” katanya dengan nada pasrah. Tak jauh dari sana, Naomi Kogoya (57) tengah merapikan sayur dagangannya. Ia sudah lebih dari 22 tahun berjualan di Pasar Lama. Ia bahkan pernah merasakan masa sebelum pasar ini terbakar pada tahun 2002.

Ia juga harus menghadapi kondisi yang tidak mudah. Setiap kali hujan turun, ia dan mama-mama lainnya harus berjuang menyelamatkan dagangan dari air yang meluap. Sayur-sayur harus diangkat, dipindahkan, sementara bau dari selokan yang tersumbat memenuhi udara. “Kami jualan pas hujan dan air meluap pasti bau dimana-mana. tapi ini pekerjaan kami,” ujarnya. Ia sendiri pernah dengar pemerintah berjanji akan melakukan renovasi. Bahkan pada tahun 2025, wacana itu kembali disampaikan.

Page: 1 2 3

Juna Cepos

Share
Published by
Juna Cepos

Recent Posts

Persipura Hanya Butuh 30 Pemain

Angka tersebut jauh lebih sedikit dibangdingkan musim lalu yang mencapai 35 pemain dalam satu musim.…

17 hours ago

Salah Jika Menganggap Demo Identik dengan Gangguan Keamanan

Selain sebagai pusat pemerintahan, posisi strategis Jayapura membuat berbagai aksi yang digelar di kota ini…

18 hours ago

Ajak Buka Buku Meski Putar Gelas, Lem Aibon, Putus Sekolah Jadi Pemandangan Sehari-hari

Berangkat dari keprihatinan melihat anak-anak muda yang tumbuh di tengah lingkungan yang lekat dengan minuman…

19 hours ago

KNPB Sayangkan Adanya Aksi Tandingan

Dalam aksinya, kelompok ini mendesak pemerintah dan aparat penegak hukum untuk mengusut secara tuntas insiden…

1 day ago

Diduga Keracunan MBG, Puluhan Siswa di Depapre Dilarikan ke Rumah Sakit

Puluhan siswa PAUD, Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah Pertama di Distrik Depapre Kabupaten Jayapura diduga…

1 day ago

​BMP RI Tepis Tudingan Adu Domba Kelompok Massa

​Langkah tegas ini disampaikan Ali Kabiay untuk meluruskan kesalahpahaman publik terkait kehadiran massa BMP RI…

2 days ago