Categories: EKONOMI BISNIS

Penjual Souvenir Khas Papua Tidak Tambah Stok

JAYAPURA- Pelaksanaan PON XX di bulan Oktober ini sudah semakin dekat, namun hingga kini persiapan pelaku usaha dalam menyambut PON XX belum begitu terlihat maksimal.
Contohnya saja penjual souvenir khas Papua dalam menghadapi PON XX mereka mengaku tidak bisa all out atau totalitas disebabkan pandemi Covid-19 belum berlalu. Sehingga mereka dalam menyiapkan souvenir khas Papua juga tidak banyak. Hanya sesuai kemampuan saja yang penting ada. Apalagi berdasarkan informasi yang merek peroleh PON XX dihadiri penonton namun terbatas, tentu ini juga akan mempengaruhi semangat mereka dalam menjual souvenir khas Papua.
Hasan selaku penjual souvenir khas papua di komplek penjualan souvenir Papua di depan Pasar Sentral Hamadi, Hasan mengaku, souvenir khas Papua yang ia jual hanya stok lama, karena PON XX harusnya dilaksanakan tahun 2020 lalu sehingga ia sudah tambah stok ternyata malah ditunda tahun ini, sehingga ia tidak lagi mendatangkan souvenir khas papua lagi. Kalaupun ada yang baru ini baru ia datangkan karena memang lagi kosong, namun untuk penambahan stok ia belum lakukan karena tidak memiliki modal juga.
“Souvenir khas Papua yang saya jual masih barang lama seperti koteka, lukisan serat kayu, noken, ukiran patung dan lainnya. Saya tidak berani tambah stok atau mendatangkan lagi karena tidak ada modal. Kalau ambil modal di bank untuk beli souvenir khas Papua sementara PON XX berlangsung dengan penonton terbatas tentu kami rugi,”ungkapnya, Jumat (3/9) kemarin.
Hal senada juga dikatakan Yaya dan Mirna penjual souvenir khas Papua yang juga berjualan di depan Pasar Sentral Hamadi. Mereka hanya menyediakan souvenir khas Papua yang masih ada saja, karena di masa pandemi Covid-19 masih banyak souvenir khas Papua yang belum laku, sehingga ia tidak datangkan dari beberapa kabupaten di Papua. Karena memang untuk souvenir khas Papua ada yang ia beli bahan dasarnya lalu dibikin sendiri seperti buah labu untuk dibuat koteka sendiri, serat kayu dilukis sendiri, bia atau kerang dibuat hiasan sendiri, telur kasuari yag dilukis hanya dibeli telurnya saja dan lainnya. Namun stoknya masih ada maka mereka tidak mendatangkan bahan bakunya, kecuali memang souvenir khas Papua seperti noken yang bahannya dari serat bunga anggrek kebanyakan beli langsung jadi.
Soal harga, mereka juga tidak menaikkan masih seperti biasa, pasalnya, jika harga dinaikkan tentu pembelinya pilih di tempat lain, sehingga mereka lebih memilih yang penting cepat laku walaupun dapat untung sedikit.(dil/ary)

newsportal

Recent Posts

Alat Berat Terbatas, Cetak Sawah Papua Masih Lambat

Program cetak sawah 2026 di tanah Papua masih menghadapi persoalan dalam pelaksanaannya. Meski target telah…

2 hours ago

Wali Kota Ajak Warga Pulihkan Bersama Lokasi Kebakaran

Wali Kota Jayapura, Dr. Abisai Rollo didampingi Wakilnya, Rustan Saru bersama Forkopimda, aparatur sipil negara…

3 hours ago

Dua Hari ke Depan Stok Logistik Korban Kebakaran Masih Aman

Kepala Dinas Sosial Kota Jayapura, Mathius Pawara, memastikan ketersediaan logistik bagi korban kebakaran di Dok…

4 hours ago

Apresiasi Berbagai Pihak yang Bantu Korban Kebakaran

   Abisai mengatakan, dukungan terhadap para korban tidak hanya datang dari pemerintah maupun BUMN dan…

5 hours ago

Ramai Pastikan Persipura Siap Promosi ke Liga 1

Menurut Ramai, program latihan yang telah dijalani tim, baik saat pemusatan latihan di Jayapura maupun…

2 days ago

Lagi, Kapal Nelayan  Indonesia Ditangkap Otoritas PNG

Otoritas Perikanan Nasional Papua Nugini (National Fisheries Authority/NFA) bersama Imigrasi Papua Nugini kembali menangkap kapal…

2 days ago