“Sebab sama juga seperti Lapindo yang sebesar itu juga sempat mau ditutup apalagi kami lihat semburannya tidak besar dan tekanannya agak kecil dan pemerintah bisa lakukan penutupan saja,” sarannya. Sekretaris IAGI, Marcelino Yonas menyampaikan bahwa dari kondisi sekitar terkait kondisi udara dan gas yang muncul di memprediksi bahwa gas yang menyembur tidak berbahaya.
Pasalnya di sekitar lokasi tidak tercium bau menyengat layaknya material tambang yang memang berbahaya jika terkonversi menjadi gas. “Tidak tercium bau menyengat. Ini berbeda dengan belerang atau sulfur. Selain itu vegetasi disekitar titik semburan masih normal. Tidak ada yang mati tiba – tiba atau mengering tiba – tiba,” bebernya.
“Kalau berbahaya mungkin sedari tadi kami sudah pingsan semua, tapi ini aman – aman saja,” tambah Marcelino. Pemilik rumah juga mengaku hal tersebut. Empat hari berada di pondoknya yang hanya sekitar 10 meter dari titik semburan ia tidak mengeluh apapun.
“Yang jelas segera kami sampaikan hasilnya jika memang sudah ada agar informas yang beredar tidak terus menerus simpang siur sebab kami juga melihat sudah banyak yang berspekulasi soal kejadian ini,” tutup Yonas. (ade/wen)
Page: 1 2
Duta Besar (Dubes) Republik Indonesia untuk Papua Nugini dan Kepulauan Solomon Okto Dorinus Manik membahas…
Di tengah pilihan pekerjaan yang kerap dikaitkan dengan gelar sarjana, Rio justru mengambil jalan…
Direktur Reserse Narkoba Polda Papua, Kombes Pol. Alfian, mengatakan operasi ini merupakan bagian dari…
Balai Wilayah Sungai (BWS) Papua menyatakan komitmen penuh untuk membantu percepatan penanganan banjir di Kota…
Wakil Walikota Dr. Ir. H. Rustan Saru, MM, mengaku hingga saat ini, Pemerintah Kota (Pemkot)…
Fenomena udara yang menyelimuti kawasan Kota dan Kabupaten Jayapura belakangan ini dipastikan murni merupakan fenomena…