Categories: BERITA UTAMA

Korban Berjatuhan, Presiden Didesak Panggil Petinggi

Komnas HAM: Ada yang Salah pada Penanganan Konflik Bersenjata di Tanah Papua

JAYAPURA – Komnas HAM menilai ada yang salah dalam penanganan konflik kekerasan bersenjata di tanah Papua. Hal ini seiring dengan korban yang terus berjatuhan, baik itu sipil, TNI-Polri maupun OPM.

Bahkan, konflik bersenjata hingga saat ini tak pernah usai dan selalu menimbulkan korban baru. Komnas HAM mencatat ada 35 lebih warga sipil di tanah Papua yang tewas akibat konflik bersenjata yang terjadi selama Januari hingga Juni 2025. Menurut Kepala Komnas HAM Papua, Frits Ramandey, yang perlu dilakukan untuk menyudahi konflik bersenjata di tanah Papua agar tak mengalami kesalahan serupa adalah perlunya evaluasi bersama.

”Namun yang perlu saya tekankan bahwa semi operasi tempur dan operasi pengejaran tidak bisa menyelesaikan persoalan di atas tanah Papua,” tegas Frits saat dikonfirmasi Cenderawasih Pos, Minggu (22/6).

Kata Frits, operasi semi tempur yang dilakukan di tanah Papua membuat para kepala daerah di wilayah konflik bersenjata khususnya di Papua Pegunungan dan Papua Tengah merasa tidak berdaya menghadapi Satgas-satgas yang berkeliaran.

”Jika ini terus dibiarkan maka konflik dan korban jiwa terus berjatuhan, karena kita tidak bisa melakukan evaluasi secara bersama untuk penanganan kekerasan di Papua. Masing-masing melakukan operasi, itu yang kemudian dikategorikan sebagai cipta kondisi,” terangnya.

Atas konflik kekerasan bersenjata yang tidak berkesudahan, Komnas HAM Papua mengingatkan Presiden Prabowo untuk segera memanggil kapolda, pangdam, para bupati dan gubernur se tanah Papua untuk berbicara tentang penanganan konflik. ”Jika presiden tak melakukan ini, kita sebatas mencatat tambahan orang meninggal dunia di atas tanah Papua, dan kekerasan menjadi melebar di sektor keamanan dan sektor ekonomi,” ujarnya.

Yang selama ini terjadi kata Frits, evaluasi penanganan konflik bersenjata yang dilakukan sebatas evaluasi sektoral. TNI membuat evaluasinya sendiri terhadap operasi dan pemetaannya, polisi dengan evaluasinya sendiri begitu juga dengan pemda. Komnas HAM pun mendesak Kogabwilhan, komandan satgas yang dikirim, pangdam, kapolda para gubernur, bupati bersama Komnas HAM segera melakukan evaluasi untuk penanganan konflik bersenjata ini.

”Jika kekerasan dibiarkan dan diselesaikan dengan senjata maka itu hanya melahirkan kekerasan baru, itu hanya melahirkan dendam baru dan terus menambah daftar konflik dan korban di atas tanah Papua,” tegasnya. (fia/ade)

Layanan Langganan Koran Cenderawasih Pos, https://bit.ly/LayananMarketingCepos

BACA SELENGKAPNYA DI KORAN DIGITAL CEPOS  https://www.myedisi.com/cenderawasihpos

Juna Cepos

Recent Posts

Target Sentuh Atap Langit, Temui Masjid Megah di Tepi Danau

Berada di tapal batas Kabupaten Solok Selatan, Sumatera Barat dengan Kabupaten Kerinci, Provinsi Jambi. Puncak…

2 hours ago

Hitung-hitungan Dana Otsus Harus Sampai Akhir Tahun

Pelaksana Tugas Kepala Bapperida Papua, Muflih Musaad mengatakan penyusunan usulan dilakukan mengacu pada kriteria penggunaan…

8 hours ago

Pengelolaan Sagu Harus Bisa Berkelanjutan

Menurut Lunanka, penguatan budidaya menjadi langkah penting untuk memastikan ketersediaan sagu dalam jangka panjang, sekaligus…

9 hours ago

Papua Lepas 840 Calon Jemaah Haji

Menariknya, Aryoko juga meminta para jamaah untuk mendoakan Provinsi Papua, agar pembangunan di Papua bisa…

10 hours ago

Seleksi Ketat, 483 Ribu Pelamar Lolos Tahap Administrasi Manajer KMP

Dikutip Kemenko Pangan, Agenda besar ini merupakan langkah konkret pemerintah dalam memperkuat ekonomi kerakyatan di…

18 hours ago

Anggaran Pembangunan Gedung KMP Diduga ‘Disunat’

“Jadi itu kan nilai proyek pembangunan fisik, sebenarnya di angka Rp 1,6 miliar anggarannya. Kenapa…

19 hours ago