Categories: BERITA UTAMA

Gemuknya Kabinet Prabowo Bagian dari Bagi-bagi Kekuasaan

JAYAPURA – Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka sudah mengumumkan 53 menteri dan 56 wakil menteri di Kabinet Merah Putih, Minggu (20/10) malam. Namun, jumlah kabinet ini disoroti karena dianggap terlalu gemuk. Salah satu yang menyoroti gemuknya kabinet Presiden Prabowo adalah Ahli Hukum Tata Negara, Anthon Raharusun. Ia menilai ini tak lain dari bagi-bagi kekuasaan.

“Ini menjadi kabinet gemuk karena bagian dari bagi-bagi kekuasaan, pertarungan politik itu endingnya adalah bagi bagi kekuasaan,” kata Raharusun saat dikonfirmasi Cenderawasih Pos, Senin (21/10).

Kata Anthon, ini menjadi preseden buruk bagi perkembangan demokrasi dan juga perpolitikan di Indonesia. Artinya, politik pada akhirnya menjadi tidak murni. Pertarungan dalam kontestasi Pemilu yang kemudian melahirkan power sharing dalam struktur kabinet saat ini.

“Kita memang berharap dengan kabinet yang besar, namun kabinet yang besar ini memperlihatkan sistem politik yang pada akhirnya dikuasai oleh orang-orang partai,” ujarnya. Menurutnya, jika sudah seperti ini, seakan tak penting lagi orang-orang dengan pendidikan yang cukup tinggi di pemerintahan. Kalah saing dengan orang-orang Parpol.

“Ini juga akan berdampak pada masyarakat, dimana masyarakat tidak bisa mencapai kemakmuran dan kesejahteraan,” kata Anthon.

Lanjutnya, padahal kesejahteraan dan peningkatan kemakmuran adalah hukum tertinggi dari seluruh kebijakan pemerintah atau negara terhadap rakyatnya.

“Namun kemudian struktur saat ini memperlihatkan negara hanya membagi-bagi kekuasaan dan kemudian menciptakan pemerintahan yang korupsi,” tegasnya.

Menurut Anthon, kabinet yang gemuk tidak menjamin kemajuan bagi kesejahteraan masyarakat. Harusnya strukturnya disederhanakan, dan yang terpenting fungsi penyelenggaraan pemerintahan berjalan dengan baik.

“Kita berharap Kabinet Prabowo berdampak kepada seluruh elemen masyarakat di seluruh Indonesia termasuk Papua,” ucapnya.

Raharusun menilai jumlah menteri yang besar justru memboros keuangan negara, belum lagi  nanti para menterinya jadi tersangka korupsi.

“Yang perlu diingat adalah masyarakat kita masih hidup dibawah garis kemiskinan, dan ini harus dilihat dari seluruh kebijakan pemerintah. Jangan sampai ada daerah-daerah lain yang merasa dianaktirikan lalu kemudian muncul gerakan-gerakan sosial politik di daerah yang menganggu stabilitas bangsa,” tandasnya. (fia/ade)

Layanan Langganan Koran Cenderawasih Pos, https://bit.ly/LayananMarketingCepos

BACA SELENGKAPNYA DI KORAN DIGITAL CEPOS  https://www.myedisi.com/cenderawasihpos

Juna Cepos

Recent Posts

Cetak Sawah Baru di Sota Masih Terkendala Penolakan Warga

Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang Kabupaten Merauke Leo Patria Mogot menjelaskan,   secara…

38 minutes ago

Giliran Co-Pilot dari Pesawat Australia Dilimpahkan ke Jaksa

Erwin Natosmal Umar, kuasa hukum dari terdakwa kep[ada wartawan disela-sela pelimpahan itu  meminta agar penanganan…

2 hours ago

Aparat Gabungan Sita 114 Liter Miras Sopi di Pelabuhan Pomako

Aparat gabungan menyita sedikitnya 114,8 liter minuman keras lokal jenis sopi dalam razia massal di…

3 hours ago

Kejari Jayawijaya Tetapkan Satu Tersangka Kasus Jalan Lingkar Kantor Bupati Jayawijaya

Kejari Jayawijaya Sunandar Pramono,SH, MH menyatakan untuk yang pertama, tim baru menetapkan satu tersangka dalam…

4 hours ago

Jangan Ada Pungutan ke Siswa Baru Bagi Sekolah Inpres dan Negeri

Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Jayawijaya Kaleb Asso S.Pd, M.Pd menyatakan terkait dengan innformasi adanya pungutan…

5 hours ago

Jaksa Kantongi Identitas Calon Tersangka Dugaan Korupsi Proyek Rumah Layak Huni

Kejaksaan Negeri Mimika mengumumkan telah mengantongi identitas pelaku dalam kasus dugaan korupsi proyek pembangunan Rumah…

6 hours ago