Categories: BERITA UTAMA

Komnas HAM Minta Polisi Dalami Jejak Digital Pelaku Mutilasi di Mimika

JAKARTA – Pembunuhan keji empat warga sipil di Mimika terus diselidiki Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM). Dari hasil penyelidikan awal, Komnas HAM mendorong agar persoalan bisnis terkait jual beli amunisi dan senjata di Mimika yang melibatkan oknum anggota Brigade Infanteri (Brigif) R 20/IJK/3 Kostrad harus benar-benar menjadi perhatian pihak terkait.

Komisioner Komnas HAM Beka Ulung Hapsara mengungkapkan dari hasil temuan dan analisis fakta di lapangan diketahui jika salah satu pelaku pembunuhan dari unsur anggota TNI memiliki senjata rakitan. Dan pada 2019 silam juga diketahui adanya praktik penjualan amunisi oleh anggota Brigif R 20/IJK/3. Artinya, sudah sejak lama bisnis tersebut terjadi di Mimika.

Selain itu, Komnas HAM juga menemukan adanya hubungan atau rekanan kerja antara pelaku pembunuhan dari pihak sipil dengan pelaku dari unsur anggota TNI. Yakni berkaitan dengan bisnis solar. Hal itu dikuatkan dengan temuan drum untuk penampungan solar dan grup WhatsApp yang membahas tentang bisnis bahan bakar minyak (BBM) tersebut.

Tak hanya itu, Komnas HAM juga mendapati temuan bahwa Roy Marthen Howai, pelaku yang saat ini masuk daftar pencarian orang (DPO), bukanlah aktor utama dalam peristiwa pembunuhan dan mutilasi yang terjadi pada 22 Agustus lalu tersebut. ”Dan berdasarkan pola kekerasan itu diduga bahwa tindakan yang dilakukan pelaku bukan yang pertama,” kata Beka, kemarin (20/9).

Sejauh ini, Komnas HAM belum bisa menyimpulkan jika pembunuhan keji yang melibatkan aparat itu adalah pelanggaran HAM berat. Komisioner Komnas HAM Choirul Anam menyebut temuan yang disampaikan di atas merupakan penyelidikan awal. Proses pemantauan dan penyelidikan masih akan terus dilakukan dalam beberapa waktu ke depan.

Karena itu, Anam berharap kepada masyarakat untuk mendukung upaya penegakan hukum dan memberikan kesaksian untuk membuat kasus pembunuhan tersebut menjadi terang benderang. Anam juga pihak kepolisian yang mengusut pembunuhan dan mutilasi itu melakukan pendalaman kasus dengan pendekatan scientific crime investigation.

”Kami meminta para pihak untuk mendalami jejak digital masing-masing pelaku, baik dalam komunikasi, social media, maupun pendekatan digital lain,” terang Anam. Sejauh ini, kepolisian telah menetapkan 10 orang sebagai pelaku pembunuhan dan mutilasi terhadap empat warga sipil tersebut. (tyo)

newsportal

Share
Published by
newsportal
Tags: PAPUA

Recent Posts

Seorang Nelayan Ditemukan Tewas di Bawah Dermaga Poumako

Insiden ini menarik perhatian luas setelah proses penemuan korban disiarkan secara langsung melalui media sosial…

8 hours ago

Sebagian Dokter Spesialis RSUD Merauke Pilih Mogok

Sebagian dokter spesialis Rumah Sakit Daerah (RSUD) Merauke memilih mogok kerja pada Sabtu (9/5). Mereka…

10 hours ago

Hari Ketiga Pencarian Korban Jembatan Putus Belum Membuahkan Hasil

Kapolres Jayawijaya melalui Kasat Binmas Polres Jayawijaya Iptu. Zabur Esomar pencarian dimulai sejak pukul 08.20…

11 hours ago

Komite Eksekutif Percepatan Pembangunan Otsus Papua Kunjungi Kab. Yalimo

Kunjungan rombongan tersebut ke Yalimo didampingi oleh Wakil Gubernur Provinsi Papua Pegunungan Dr. Ones Pahabol. …

12 hours ago

PK-HAM Papua Minta Negara Harus Hadir Untuk Cegah Konflik dan Perlindungan Warga Sipil

Ketua PAK-HAM Papua Dr. Methodius Kossay, SH,.M.Hum, CT,.CMP menyatakan negara harus hadir secara nyata dalam…

13 hours ago

Bentuk Program Ketahanan Pangan Berbasis Lokal Wabub Jayawijaya Panen Ikan Di Silokarno Doga

Wakil Bupati Jayawijaya Ronny Elopere, S.IP, M.KP menyatakan dalam panen raya ikan air tawar, pemerintah…

14 hours ago