Categories: BERITA UTAMA

Seorang Pemimpin Perlu Menjaga Diksi yang Kontroversi

Marinus Yaung: Waspadai Agar Tidak Dimanfaatkan Pihak Tertentu

JAYAPURA – Polemik terkait statemen Walikota Jayapura saat rilis 100 hari kerja di Aula Sian Soor mendapat tanggapan dari salah satu akademisi Uncen, Marinus Yaung. Ia berharap siapapun pemimpin di Tanah Papua harus bisa memahami dengan baik karakteristik dan persoalan psikologi orang asli Papua saat ini.

Dari pemahaman itu paling tidak bisa menjaga komunikasi publik dengan diksi – diksi atau frasa – frasa yang tidak menimbulkan kontroversi publik seperti saat ini. Ini penting mengingat semua pernyataan seorang kepala daerah bisa bermakna sebuah kebijakan yang berkaitan dengan kemaslahatan sehingga patut diperhatikan agar narasi yang disampaikan tidak justru berujung protes.

“Menurut hemat saya, cara publik di Papua meresponi pernyataan walikota Jayapura, dengan narasi – narasi kritis penuh kemarahan, itu bentuk refleksi langsung dari konflik dan ketegangan dengan pemerintah yang hingga kini belum selesai,” beber Marinus Yaung melalui ponselnya, Kamis (19/6).

Namun kata Yaung yang perlu kita waspadai adalah jangan sampai isu ini dimanfaatkan oleh pihak – pihak yang memiliki agenda tertentu untuk menimbulkan persoalan keamanan dan instabilitas kamtibmas di Kota Jayapura.

“Kalau dibaca lebih teoritis lagi, jenis komunikasi publik pak Walikota Jayapura yang stright to the point terhadap isu – isu strategis yang menjadi tantangan pembangunan di kota Jayapura seperti aksi – aksi demo dan pemalangan infrastruktur, selama 100 hari kerjanya, itu harusnya disikapi sebagai persoalan sosial bersama yang perlu diselesaikan segera,” imbuhnya.

Pernyataan Walikota yang menjadi polemik menurut Yaung masih berkaitan dengan uang di Tanah Papua yang semakin menipis. Misalnya APBD Provinsi Papua tahun 2025 hanya Rp 2,5 triliun. Sangat sedikit sekali dan tidak cukup membiayai belanja publik. Demikian pula APBD Kota Jayapura yang kemungkinan akan mengalami defisit untuk belanja publik.

Agar bisa ada income untuk mengatasi defisit APBD Kota Jayapura, maka ekosistem ekonomi dan permutaran uang harus diciptakan dan diusahakan. Salah satu caranya ciptakan keamanan dan ketertiban publik di Kota Jayapura. Perlu ada kepastian investasi yang nantinya berkaitan dengan situasi keamanan daerah.

Page: 1 2

Juna Cepos

Recent Posts

Pendapatan Negara di Papua Tembus Rp2,9 Triliun

Pemerintah menargetkan pendapatan negara di wilayah Papua pada 2026 sebesar Rp6,7 triliun, yang terdiri atas…

21 hours ago

Persipura Bermarkas di Gelora Delta Sidoarjo

Owen membeberkan bahwa mereka sudah menjajaki dua stadion di Jawa Timur. Dan saat ini masih…

22 hours ago

Libatkan Pemda dan Masyarakat Adat Atau Hentikan!

Dari hasil peninjauan, pemerintah menemukan sejumlah aspek yang perlu segera dibenahi, di antaranya sanitasi tempat…

22 hours ago

Boyolali Dinilai Cocok Bagi Persipura

Keputusan ini menjadi pengalaman pertama bagi skuad Persipura. Pada musim-musim sebelumnya, mereka lebih sering menggelar…

23 hours ago

Selama ini pemerintah daerah tidak pernah dilibatkan dalam pelaksanaan MBG

Menurutnya, selama ini pemerintah daerah tidak pernah dilibatkan secara maksimal dalam perencanaan maupun pelaksanaan program.…

23 hours ago

Petugas Avsec Bandara Sentani Gagalkan Penyelundupan 940 Gram Ganja

Penangkapan bermula saat D.H. menjalani pemeriksaan di Passenger Security Check Point (PSCP) Terminal Keberangkatan Bandara…

24 hours ago