Categories: BERITA UTAMA

Di Balik Spam Medsos, Kekerasan Seksual Muncul Tanpa Kontrol

JAYAPURA – Kasus kejahatan seksual atau rudapaksa terhadap anak di bawah umur belakangan ini kian marak dan berada pada titik yang mengkhawatirkan. Fenomena ini tidak hanya meninggalkan luka fisik, tetapi juga menghancurkan masa depan generasi muda.

Di balik terus meningkatnya angka kasus ini, muncul pertanyaan besar yaitu apa yang sebenarnya menjadi pemicu utama? Apakah serbuan spam pornografi di media sosial turut andil, dan seberapa lama trauma para korban ini bisa disembuhkan?.

Menyikapi kondisi itu, dosen sekaligus Psikolog dari Universitas Cenderawasih (Uncen), Dr. Yosefina Marijke Watofa, M.Psi., angkat bicara. Ia membedah akar masalah yang terjadi di lapangan, mulai dari kelalaian digital, hambatan kultural, hingga bom waktu psikologis yang mengintai para korban jika terlambat ditangani.

Menurut Yosefina, salah satu faktor utama yang menyuburkan maraknya kejahatan seksual adalah regulasi informasi yang sangat longgar di era digital saat ini. Arus informasi mengalir tanpa filter langsung ke genggaman anak-anak.

“Kalau menurut saya, kejahatan seksual marak terjadi karena kemudahan mengakses informasi macam-macam, termasuk kejahatan seksual itu sendiri. Hal ini diperparah oleh sikap masyarakat yang cenderung permisif atau acuh tak acuh terhadap gejala-gejala tersebut,” ujar Yosefina kepada Cenderawasih Pos, Selasa (6/7).

Di era di mana setiap anak hampir pasti memegang ponsel pintar (smartphone), tantangan terbesar justru berada di dalam rumah. Keberadaan spam pornografi atau konten-konten tidak senonoh di media sosial kerap kali menyusup lewat iklan visual atau tautan tersembunyi yang sangat mudah diklik oleh anak di bawah umur.

Yosefina memberikan kritik menohok terkait pola asuh modern saat ini. Banyak orang tua yang dinilai melepaskan tanggung jawab pengawasan digital dan menjadikan gadget sebagai “pengasuh pengganti” agar anak tenang, tanpa memikirkan bahaya yang mengintai di dalamnya.

“Mana ada orang tua sekarang yang mau benar-benar duduk atau mengontrol penggunaan gadget anaknya secara konsisten? Sehingga, jika ada hal-hal aneh atau yang berhubungan dengan spam yang tidak jelas dan berbau porno masuk ke HP anak, apakah orang tua tahu? Jawabannya sering kali tidak,” tegasnya.

Ia mengingatkan bahwa fungsi mendasar dari institusi keluarga adalah sebagai perisai. Orang tua atau keluarga harusnya berdiri di garda terdepan sebagai pelindung bagi anak-anak agar mereka tidak salah dalam bergaul, juga tidak salah dalam menerima serta mencerna informasi dari luar yang sumbernya belum tentu jelas dan benar.

Tantangan penegakan ruang aman bagi anak di Papua juga terbentur oleh dinding tebal bernama tabu budaya. Isu seksualitas masih dianggap sebagai hal yang kotor atau tidak pantas dibicarakan secara terbuka, bahkan dalam koridor edukasi sekalipun. “Ini fakta di lapangan, khususnya di Papua. Masyarakat kita secara umum masih susah sekali untuk diajak berdiskusi secara ilmiah tentang hal tersebut (seksualitas dan pencegahan kekerasan). Akibatnya, edukasi menjadi mandek,” ungkap Yosefina.

Karena ruang diskusi ilmiah masih minim, Yosefina mendesak agar benteng pertahanan dikembalikan ke keluarga masing-masing. Menurutnya, keluarga harus berperan aktif melindungi anak-anaknya secara mikro.Caranya adalah dengan terus-menerus tanpa bosan mengajarkan ajaran moral yang kuat, termasuk mengenalkan larangan-larangan yang tegas demi keselamatan anak itu sendiri.

Selain itu, Psikolog Uncen itu juga turut menyoroti minimnya pemahaman tentang seksualitas yang sehat dan normal nyatanya tidak hanya berujung pada tingginya angka kriminalitas rudapaksa, tetapi juga berdampak fatal pada sektor kesehatan masyarakat di Papua. Ia menarik garis lurus antara tabunya edukasi seks dengan ledakan penyakit menular seksual di Ibu Kota Provinsi ini.

“Salah satu pemicu utama tingginya angka kasus HIV-AIDS di Kota Jayapura adalah karena kurangnya pemahaman masyarakat tentang seksualitas yang sehat dan normal. Jadi, dampaknya ini sistemik, mencakup moral, hukum, hingga kesehatan fisik,” paparnya.

Sementara itu terkait dengan pemulihan trauma, Yosefina menjelaskan bahwa ketika masuk pada ranah pemulihan korban, muncul pertanyaan krusial, berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk menyembuhkan trauma kejahatan seksual pada anak?. Ia menegaskan, trauma kekerasan seksual tidak bisa diprediksi dengan tenggat waktu pasti.

Pemulihan psikologis terangnya bukan seperti mengobati luka fisik yang bisa diperkirakan sembuh dalam hitungan minggu. Kasus trauma adalah proses yang personal, rumit, dan memakan waktu yang sangat panjang.Berdasarkan berbagai kasus nyata yang ia tangani langsung di Jayapura, Yosefina memperingatkan adanya bahaya luar biasa jika penanganan psikologis terhadap korban dilakukan secara lambat atau diabaikan.

Dampak jangka panjangnya bisa merusak struktur sosial diantaranya korban yang terlambat ditangani akan tumbuh dewasa dengan perasaan tidak berharga atau kotor. Mereka mengalami ketakutan ekstrem untuk membangun rumah tangga karena dihantui rasa takut ditolak oleh pasangannya akibat masa lalu tersebut.

Kemudian dapat memicu kelainan dan dendam. Dampak yang paling mengerikan adalah matinya empati akibat luka batin yang membusuk. “Kalau lambat penanganannya, korban bisa bertransformasi menjadi pelaku selanjutnya di masa depan. Ini bisa terjadi karena motif balas dendam terselubung, atau bahkan karena telah terbentuk kelainan psikologis baru dalam dirinya,” urai Yosefina secara mendalam.

Karena itu, ia berharap seluruh elemen masyarakat di Papua mulai dari tokoh adat, agama, pemerintah, hingga unit terkecil yaitu orang tua sadar bahwa mengawasi gadget anak dan membuka ruang edukasi seks yang sehat bukan lagi pilihan, melainkan sebuah kewajiban mutlak untuk menyelamatkan generasi masa depan Papua. (jim/ade)

Layanan Langganan Koran Cenderawasih Pos, https://bit.ly/LayananMarketingCepos

BACA SELENGKAPNYA DI KORAN DIGITAL CEPOS  https://www.myedisi.com/cenderawasihpos

UPDATE Berita Terbaru Cepos di Saluran https://whatsapp.com/channel/0029VbCNwCXAO7R8KvdYUG3Q

Juna Cepos

Recent Posts

Penembakan Pilot Hanya Mempersulit Masyarkat

Direkrut Eksekutif YKKMP Theo Hesegem menyatakan Sebagai lembaga yang bekerja di bidang kemanusiaan dan perlindungan…

7 hours ago

Pulihkan Psikologi Warga Intan Jaya Lewat Trauma Healing

Situasi keamanan di Kabupaten Intan Jaya belum sepenuhnya pulih. Rangkaian aksi kekerasan yang terjadi dalam…

9 hours ago

Kogabwilhan III Sita 47 Senpi dan 3.000 Pohon Ganja Selama Semester I 2026

Pangkogabwilhan III, Letjen TNI Lucky Avianto, menegaskan bahwa seluruh hasil operasi ini merupakan bentuk transparansi…

12 hours ago

Polisi Masih Terus Melacak Jaringan Curanmor di Kota Wamena

​Kapolres Jayawijaya, melalui Kasat Reskrim Polres Jayawijaya Iptu Marcelino Rumambi, SH, MH menyatakan, peningkatan intensitas…

13 hours ago

Seorang Warga Dilaporkan  Hilang di Sungai Maro

Korban diketahui bernama Abdul Rozas (29). Berdasarkan informasi yang diterima Kantor Pencarian dan Pertolongan (Basarnas)…

16 hours ago

Keroyok Pengunjung  KFC Dua Pelaku Ditangkap

Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polres Merauke berhasil mengungkap kasus pengeroyokan terhadap seorang pengunjung KFC yang…

16 hours ago