Categories: BERITA UTAMA

Papua Krisis Tenaga Laboratorium Medik

JAYAPURA-Tanah Papua yang kini terbagi dalam enam provinsi masih menghadapi krisis serius tenaga Ahli Teknologi Laboratorium Medik (ATLM). Di tengah tingginya kasus malaria dan HIV/AIDS, kekurangan tenaga ini dinilai berdampak langsung terhadap kualitas pelayanan kesehatan dan tingginya angka kematian. Direktur Akademi Teknologi Laboratorium Medik Papua, Robby Kayame mengungkapkan, total kebutuhan tenaga ATLM di enam provinsi Papua, Papua Barat, Papua Barat Daya, Papua Tengah, Papua Selatan, dan Papua Pegunungan mencapai 5.189 orang. Namun, hingga kini baru tersedia sekitar 1.786 tenaga ahli.

Direktur Akademi Teknologi Laboratorium Medik Papua, Robby Kayame

“Ini kekurangan yang sangat besar dan harus segera diatasi. Tanpa tenaga laboratorium yang memadai, deteksi dini penyakit tidak berjalan optimal,” ucap mantan Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Papua.

Ia merinci, kebutuhan tenaga ATLM di masing-masing wilayah cukup tinggi. Papua Pegunungan menjadi daerah dengan kekurangan terbesar, membutuhkan lebih dari 1.200 tenaga, tetapi saat ini baru memiliki sekitar 93 orang. Papua Tengah membutuhkan sekitar 1.066 tenaga, Papua sekitar 459, Papua Barat 272, Papua Barat Daya 363, dan Papua Selatan 405 tenaga.

Menurut Robby, kondisi ini diperparah dengan fakta bahwa sebagian tenaga laboratorium di puskesmas dan rumah sakit masih berlatar belakang lulusan SMK Kesehatan, bukan tenaga ahli berpendidikan sarjana.

“Padahal, yang dibutuhkan adalah tenaga profesional yang mampu mengidentifikasi virus, bakteri, hingga kandungan berbahaya dalam makanan, air dan obat. Ini menjadi dasar penting bagi dokter dan perawat dalam menentukan tindakan medis,” ujarnya.

Ia menegaskan, keterbatasan tenaga ATLM berdampak pada rendahnya kualitas pelayanan kesehatan, yang berujung pada meningkatnya angka kematian serta menurunnya harapan hidup, khususnya bagi ibu dan anak.

“Deteksi dini itu kunci. Jika tidak ada tenaga laboratorium, masyarakat tidak bisa melakukan pemeriksaan dasar seperti tes darah. Ini yang membuat banyak penyakit terlambat ditangani,” katanya.

Page: 1 2

Juna Cepos

Recent Posts

Desak Perlindungan Warga Sipil di Tengah Konflik Bersenjata

Karenanya YKKMP berencana akan memasang baliho hak-hak masyarakat sipil khususnya di Distrik Sinak dan Kembru,…

3 hours ago

Harga Minyak Tanah Bersubsidi di Pengecer Semakin Tak Masuk Akal

arga penjualan minyak tanah (Mitan) bersubsidi di tingkat pengecer pada pasaran Wamena semakin meninggi. Sebab…

4 hours ago

Dua Bersaudara jadi Korban Curas di Kampung Tulem

Aksi pencurian dengan kekerasan kembali terjadi di Jayawijaya kembali terjadi. Kali ini tepatnya di Kampung…

5 hours ago

Rumah Sakit Pengampu Nasional dan Regional Cek Langsung RSUD Merauke

Saat di RSUD Merauke tersebut, para direktur utama rumah sakit tersebut didampingi Kepala Dinas Kesehatan…

7 hours ago

Mimika Diterjang Hujan Lebat dan Angin Kencang

Dalam pernyataan resmi yang dikeluarkan BMKG, sejak pukul 13.00 WIT, hujan dengan intensitas sedang hingga…

8 hours ago

Belasan OPD Absen, Wali Kota Beri Sinyal Ganti

Tak hanya di tingkat OPD, rendahnya partisipasi juga terjadi di jajaran wilayah. Dari lima kepala…

9 hours ago