Categories: BERITA UTAMA

DPRP-Pemprov Sepakat Hanya Urus 8 Kabupaten dan 1 Kota

Reses Tak Lagi ke Tiap Dapil yang Sudah jadi Provinsi Tersendiri

JAYAPURA –  Kesepakatan DPR Papua dan pemerintah Provinsi Papua terkait program pembangunan dan penganggaran akhirnya disepakati bahwa mereka hanya mengurus 8 kabupaten dan 1 kota.

Selain itu Papua tidak lagi mengurus pekerjaan di provinsi baru baik di Papua Tengah, Papua Pegunungan maupun Papua Selatan. “Sudah kami putuskan bersama dalam rapat banggar dan TAPD bahwa tahun 2023 semua pembiayaan kita hanya fokus pada 8 kabupaten dan 1 kota yang ada di Provinsi Papua. Yang di luar itu tidak akan dibiayai,” kata Ketua DPR Papua, Jhoni Banua saat ditemui di ruang VIP DPRP pekan lalu.

Dijelaskan bahwa meski proyek tersebut sudah dilaksanakan pihanya akan menyerahkan semua ke provinsi yang baru sebab di provinsi tersebut sudah ada dana infrastruktur dan mendapat dana Otsus yang juga nilainya tak jauh berbeda dengan Provinsi Papua.

“Ini termasuk sektor kesehatan juga akan kami kembalikan. Jika masyarakat butuh kesehatan lebih mungkin lewat pola share anggaran  untuk membiayai pengobatan masyarakat di luar Papua sebab sudah pasti kami tidak akan membiayai karena dana kami juga sangat terbatas,” tambah Jhoni.

“Jadi terhitung tahun 2023 kami sudah tidak lagi bicara pembangunan di luar 8 kabupaten dan 1 kota karena sudah bukan ranah kami  dan semua hanya fokus di 8 kabupaten dan 1 kota saja tak boleh keluar – keluar,” tambahnya. Apalagi lanjut Jhoni dari dana kami Rp 2,3  triliun didalamnya ada dana infrastruktur yang  tidak bisa digunakan untuk membiaya pendidikan maupun kesehatan. Bahkan kata politisi Nasdem ini kemungkinan  DPRP tak  lagi melakukan reses dan pengawasan di daerah pemilihan yang sudah masuk dalam provinsi baru.

“Ini memang melanggar amanat undang – undang meski kami punya kewajiban datang, mendengar dan memperjuangkan aspirasi masyarakat yang kemarin menjadi dapil kami tapi bagaimana mau ketemu mereka sementara mereka bukan dalam wilayah kerja kami lagi,” bebernya.

Namun untuk aset lanjut Jhoni nantinya ini akan dibahas kemudian sebab ia melihat  ada aset yang bisa kita dihibahkan ke provinsi baru tapi jika asset tersebut berpotensi mendongkrak PAD Papua maka itu akan tetap dikelola Provinsi Papua. “Jika masih menjanjikan maka nanti tetap dikelola  Pemprov Papua,” tutupnya. (ade/wen)

newsportal

Recent Posts

Kursi Sekda Papua Memanas

Berdasarkan jadwal yang ditetapkan, pengumuman dan penerimaan berkas berlangsung pada 16-30 September 2026. Selanjutnya, seleksi…

13 hours ago

Mayat Seorang Wanita Ditemukan di Sekitar Kolam Buaya

Wanita tersebut diperkirakan sudah lanjut usia dan mengenakan jaket berwarna merah marone dan celana panjang…

14 hours ago

Orang Tua Siswa Minta Kampus Tegas

​"Sebenarnya aksi ini sudah berakhir beberapa hari lalu. Hanya karena kelalaian lembaga yang tidak mengakomodir…

15 hours ago

Ratusan Orang di Mimika Terinfeksi HIV-AIDS

Mayoritas penderita berjenis kelamin laki-laki sebanyak 109 orang, sedangkan perempuan tercatat 90 orang. Kepala Seksi…

16 hours ago

Pembangunan Kopdes Merah Putih Belum Menyentuh Kampung

Program pemerintah pusat dalam mendoro ekonomi masyarakat di kampung lewat Koperasi Desa Merah Putih (KDMP)…

17 hours ago

Gaji Manajer Kopdes Rp6,3 Juta-Rp8,3 Juta Dikontrak Dua Tahun

Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan mengatakan penghasilan manajer Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) berkisar…

18 hours ago