Categories: BERITA UTAMA

Pemilihan Sekda Harus Terlepas dari Kepentingan Politik

Menurutnya, pemilihan sekda harus dipandang sebagai agenda strategis membangun fondasi pemerintahan daerah yang kuat dan berintegritas. Dalam konteks Papua, di mana tantangan pemerintahan daerah cukup kompleks, baik dari aspek geografis, sosial, maupun politik sehingga kehadiran seorang sekda yang tangguh dan netral akan sangat menentukan efektivitas pembangunan.

Untuk itu, gubernur perlu memastikan bahwa pejabat yang diangkat sebagai Sekda benar-benar memiliki integritas moral, kompetensi birokratis, dan kemampuan manajerial yang baik. Figur seperti ini akan mampu menerjemahkan visi gubernur ke dalam kebijakan dan program yang menyentuh masyarakat Papua secara nyata.

“Pengisian jabatan sekda harus sesuai mekanisme hukum sebagaimana diatur dalam: Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara (ASN); Peraturan Pemerintah Nomor 11 Tahun 2017 tentang Manajemen Pegawai Negeri Sipil (PNS) sebagaimana telah diubah dengan PP Nomor 17 Tahun 2020; dan Peraturan Menteri PAN-RB Nomor 15 Tahun 2019 tentang Pengisian Jabatan Pimpinan Tinggi (JPT) secara terbuka dan kompetitif,” beber Metho.

Dijelaskan bahwa mekanisme pengisian jabatan sekda harus melalui seleksi terbuka atau open bidding dengan melibatkan Panitia Seleksi (Pansel) yang profesional, independen, dan berintegritas tinggi. Langkah ini bertujuan untuk menilai kompetensi, integritas, dan rekam jejak calon secara objektif. Sehingga tata kelola birokrasi di Papua akan menjadi lebih sehat apabila setiap jabatan strategis diisi melalui mekanisme meritokrasi, bukan karena hubungan politik.

Ia juga mengingatkan bahwa pemilihan sekda yang tidak transparan akan berisiko pada munculnya konflik kepentingan, menurunnya moral ASN, serta hilangnya kepercayaan publik terhadap pemerintah daerah.

“Jika gubernur lebih mempertimbangkan faktor politik, seperti siapa yang berkeringat pada masa pemilu lalu, maka yang dikorbankan adalah profesionalisme birokrasi dan kualitas pelayanan publik. Padahal rakyat Papua menginginkan birokrasi yang melayani, bukan yang berpolitik,” tegas Kossay.

Page: 1 2 3 4

Juna Cepos

Recent Posts

Bukan Masalah Stok, Tapi Praktik Kecurangan yang Dibiarkan MasifBukan Masalah Stok, Tapi Praktik Kecurangan yang Dibiarkan Masif

Bukan Masalah Stok, Tapi Praktik Kecurangan yang Dibiarkan Masif

   Menurutnya, mata rantai penyalahgunaan Solar subsidi harus segera diputus karena dampaknya sudah sangat merugikan…

3 days ago

KNPI Harus Kerja Nyata dan Beri Manfaat Pada Masyarakat

  Abisai juga mengingatkan pentingnya menjaga persatuan di kalangan pemuda pasca Musyawarah Daerah (Musda). Ia…

3 days ago

Lestarikan Bahasa dan Budaya, Pemkot Susun Buku Cerita Rakyat Port Numbay

   Menurut Evert, buku cerita rakyat tersebut akan menjadi jembatan yang menghubungkan masa lalu, masa…

3 days ago

Diskominfo  Dorong Generasi Muda Manfaatkan  Teknologi Secara Bijak

Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Provinsi Papua menggelar sosialisasi Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence/AI) serta Pencegahan,…

3 days ago

Pemenuhan Hak Perempuan Papua Butuh Payung Hukum

–Kelompok Kerja (Pokja) Perempuan Majelis Rakyat Papua (MRP) mendorong lahirnya Rancangan Peraturan Daerah Khusus (Raperdasus)…

3 days ago

Wali Kota Buka Kejuaraan Thyreas Taekwondo Championship 2026

  Kejuaraan yang berlangsung selama tiga hari, mulai 25 hingga 27 Juni 2026, dibuka secara…

3 days ago