Categories: BERITA UTAMA

Vegetasi Rusak, Teluk Youtefa Terancam

WARNING: Foto landscape Teluk Youtefa dan Kampung Engros yang terlihat ditumbuhi berbagai jenis pohon dan ilalang. Kondisi vegetasi seperti ini dianggap patut dipertahankan dan bukan justru dibabat habis karena akan mengancam posisi atau keberadaan Teluk Youtefa itu sendiri jika terjadi anomali air atau air naik dengan tingkat kewajaran yang tak biasa. (FOTO: Gamel/Cepos)

JAYAPURA-Salah satu akademisi Universitas Cenderawasih (Uncen) Jayapura, Yehuda Hamokwarong mengingatkan masyarakat di kawasan Teluk Youtefa untuk tidak membabat habis lahan tanaman yang ada di sepanjang teluk. Mulai dari pohon besar maupun yang berjenis pandan dan lainnya. 

Ini agar kondisi tanah atau pasir di teluk tetap terjaga meski mendapat terjangan air. Yehuda menyampaikan bahwa masyarakat di kampung perlu memahami soal kondisi asli teluk dan tidak merubahnya sedemikian cepat. 

“Yang saya perhatikan seperti itu, mulai dari jembatan hingga Holtekam sudah dibersihkan. Ini kalau air pasang atau terjadi anomali iklim maka air akan  berbalik ke arah darat dan merusak fasilitas disepanjang teluk termasuk jembatan. Ini seperti yang sudah terjadi di Mendug, yang tak jauh dari lokasi jembatan,” kata Yehuda melalui ponselnya, Kamis (2/1). 

Untuk jangka pendek kata Yehuda memang menarik karena bersih dan  membuat warga ingin mampir tapi untuk jangka panjang justru bisa menimbulkan masalah. 

Ia mengatakan jika semua dibersihkan dan merusak vegetasinya maka akan memberi dampak besar bagi teluk. Pikirannya perlu ada rekayasa  untuk mengantisipasi. Harus diisi kembali untuk memperkuat struktur tanah dengan menanami pohon berakar tunggang. 

“Jadi  jangan kelapa sebab kelapa hanya 2 meter ke dalam tanah. Lokasi itu butuh cemara yang bisa mengikat jauh ke dalam,” imbuhnya. Yehuda melihat banyak yang memotong cemara padahal pohon ini membantu mengatasi intrusi air laut atau masuk atau menyusupnya air laut ke dalam pori-pori bebatuan dan mencemari ait tanah yang terkandung di dalamnya. 

“Setelah intrusi maka slanjutnya terjadi abrasi. Interusi akan kencang jika tak ada akar tunggang. Fungsi akar ini adalah membentuk tanah kemudian menjerat kandungan kadar garam guna kebutuhan batang pohon. Makanya di bagian belakangnya air bisa terasa lebih tawar karena sudah terserap pada lahan vegetasi ini,” imbuhnya. 

Yehuda menambahkan bahwa biasanya daerah pantai berpasir vegetasinya berbentuk diamond yang ke atasnya segitiga dan di bagian bawah segitiga terbalik ditambah sistem pengakaran tunggang persis di tengah.  

Model ini yang harus ditanam di pantai berpasir. “Tapi saya perhatikan polarisasi dari bentuk diamond ini tak terlihat lagi padahal jika tak ada diamond maka abrasi terus terjadi dan akan mengganggu badan jalan,” imbuhnya. (ade/nat)

newsportal

Recent Posts

Pemkab Keerom Tertibkan Bangunan di Kawasan Hijau Trans Papua

Pemerintah Kabupaten Keerom mulai mengambil langkah tegas terhadap keberadaan bangunan permanen maupun semipermanen yang berdiri…

11 hours ago

RD Akui Calon Lawan Sangat Kuat di Playoff

Fase grup kini hanya menyisakan 1 pertandingan, sekaligus menjadi partai penentu puncak klasemen. Persipura akan…

12 hours ago

Masyarakat Sipil Jadi Korban Gas Air Mata

Bentrokan antara massa aksi dan aparat keamanan terjadi di kawasan tersebut mengakibatkan aparat kepolisian terpaksa…

13 hours ago

Ricuh di Waena, Tertib Di Abepura

Meski sempat terjadi negosiasi antara demonstran dan pihak kepolisian, namun tidak mendapat titik temu. Aparat…

14 hours ago

Salib Hitam Bentuk Protes Mahasiswa

Kepada Cenderawasih Pos, Lenius selaku Negosiator Somap USTJ mengatakan bahwa aksi tersebut dilakukan pihaknya sebagai…

15 hours ago

Buron Selama 4 Hari, Pelaku Aniaya Kepsek di Mappi Akhirnya Diringkus

Kasus pembacokan yang terjadi di pertengahan Jalan Kampung Dagimon ini sempat menggegerkan warga Kota Kepi.…

16 hours ago