

ILUSTRASI ANAK MARAH
MADIUN – Penggunaan media sosial yang berlebihan pada anak dapat memicu ketergantungan hingga berdampak pada emosi yang tidak stabil. Bahkan, tidak jarang anak menunjukkan ledakan amarah ketika akses terhadap gadget dibatasi. Psikolog Eka Renny Yustisia menjelaskan, kondisi ini terjadi karena otak anak terbiasa menerima rangsangan cepat dari konten digital.
Paparan yang terus-menerus membuat anak bergantung pada rasa senang instan yang dihasilkan. “Paparan konten digital secara terus-menerus membuat otak anak terbiasa dengan lonjakan cepat hormon kesenangan dari aktivitas stimulasi tinggi seperti media sosial (dopamin instan),” ujarnya di Jambi, Senin (1/4).
Ketika penggunaan gadget dihentikan secara tiba-tiba, respons anak bisa menyerupai gejala “putus kebiasaan”. Reaksi yang muncul antara lain marah, menangis, hingga sulit dikendalikan. Karena itu, Eka menyarankan orang tua tidak langsung melarang secara keras. Pendekatan yang lebih efektif adalah dengan memahami emosi anak, sambil tetap memberikan batasan yang jelas.
Page: 1 2
Sebelumnya, Menteri Dalam Negeri menyebut efisiensi anggaran bagi pemerintah daerah masih berlanjut pada 2027. Para…
Merespon terkait dengan itu, Pengamat Kebijakan Publik Papua, Dr. Methodius Kossay, menyatakan bahwa tindakan suspend…
Penegasan tersebut disampaikan menyusul adanya pernyataan dari kelompok yang mengatasnamakan TPNPB yang mengancam akan menggagalkan…
Fakhiri mengatakan, kejadian serupa sebenarnya pernah terjadi di sejumlah daerah. Namun, khusus untuk Papua,…
Kementerian Keuangan (Kemenkeu) memastikan posisi utang pemerintah sebesar Rp10.000 triliun hingga pertengahan 2026 masih terkendali…
Gubernur Papua Pegunungan Dr. (HC) Jhon Tabo, SE, M.B.A menyatakan penggunaan dana otsus saat ini…