Menurut dia, stunting itu menjadi hambatan bagi bangsa karena pendapatan orang stunting 20 persen lebih rendah dibandingkan yang tidak stunting.
”Sehingga kalau kita ingin keluar dari middle income trap untuk menuju Indonesia Emas berat sekali, kalau stunting terlalu banyak. Panjang badan penting diukur jangan hanya berat badannya saja, karena banyak yang gemuk ternyata stunting,” ujar Hasto.
Sementara itu, Ketua Umum Badan Kontak Majelis Taklim (BKMT) Dr. Hj. Syifa Fauzia, M. Art menyampaikan, ada beberapa tantangan spesifik masing-masing daerah di seluruh Indonesia. Pihaknya dapat bersinergi dengan pemerintah, khususnya BKKBN dan BKMT dan komponen lain.
”Ini untuk dapat bisa mencari solusi bersama dengan BKMT. Di sini kita berbicara tentang bagaimana stunting, gizi buruk, serta ibu hamil. Saya sebetulnya sangat sedih jika melihat di berbagai daerah. Stunting, gizi buruk, terutama pada ibu hamil ini menjadi tantangan yang harus dijawab BKMT kalau kita lebih meluaskan program kita selain berdakwah,” papar Syifa Fauzia.
”Kita juga bisa melihat masyarakat perempuan dan anak di sana. Apakah gizinya sudah terpenuhi, karena memang persoalan stunting ini jangan sampai terjadi apa lagi untuk anggota BKMT, ini harus kita sama-sama selamatkan,” ujar Syifa. (*)
Sumber: Jawapos
Page: 1 2
Papua selama ini dikenal sebagai tanah yang diberkahi kekayaan alam luar biasa. Hutan-hutannya rimbun, tanahnya…
Dalam rangka menyikapi situasi dan kondisi yang kerap terjadi di tanah Papua, dalam hal ini…
UNTUK pertama kalinya, Timnas Futsal Indonesia U-16 berhasil merengkuh gelar juara Piala AFF Futsal U-16…
Rencana pengiriman bantuan pangan ini disampaikan bupati Merauke Yoseph Bladib Gebze setelah melakukan rapat dengan…
Di tengah kampung wisata yang berada di atas Danau Sentani ini, berdiri satu sekolah dasar,…
Plt Direktur RSUD Wamena dr. Charles Manalagi, Sp.OG mengakui jika apabila berbicara terkait penyakit TBC,…