“Di mana-mana disebut memang dia profesor, doktor bidang hukum tata negara. Tapi dia menteri dulu, setelah itu anggota DPR RI, pimpinan lembaga tinggi negara, aktivis, calon pimpinan negara, setelah itu sekarang pengelola sosial media. Para pakar-pakar tersebut, mereka main gitu,” sindirnya.
Lebih lanjut, Pigai mengaitkan fenomena matinya objektivitas ini dengan buku The Death of Expertise karya Tom Nichols. Buku tersebut membahas bagaimana kepakaran mulai kehilangan otoritasnya di tengah derasnya arus perdebatan publik dan media sosial.”Yang dikritik Presiden adalah pakar post-truth yang membungkam, membenamkan kebenaran,” tegas Pigai.
Di akhir penjelasannya, Pigai menjamin bahwa pemerintah tidak pernah anti terhadap kritik berbasis ilmu pengetahuan. Pemerintah tetap membutuhkan dan mendengarkan masukan dari para akademisi murni dalam menyusun setiap kebijakan strategis negara. “Beda dengan ilmuwan. Bapak Presiden memuji dan menghormati ilmuwan. Yang menasihati Presiden itu adalah ilmuwan semua,” pungkasnya. (naz)
Layanan Langganan Koran Cenderawasih Pos, https://bit.ly/LayananMarketingCepos
BACA SELENGKAPNYA DI KORAN DIGITAL CEPOS https://www.myedisi.com/cenderawasihpos
UPDATE Berita Terbaru Cepos di Saluran https://whatsapp.com/channel/0029VbCNwCXAO7R8KvdYUG3Q
Page: 1 2
Kedatangan para tokoh adat dipimpin Ketua Lembaga Masyarakat Adat (LMA) Waropen di Tanah Tabi, Karlos…
Alih-alih masuk ke blok hunian utama, tim Ombudsman justru menemukan deretan bangunan yang menarik perhatian.…
Presiden Prabowo Subianto memutuskan membentuk Badan Pengelola Gambut dan Mangrove Nasional (BPGMN) untuk memperkuat pencegahan…
Juru Bicara BGN Tysa Novenny mengatakan keterlibatan sekolah menjadi bagian penting dalam membangun sistem pengawasan…
Banyak sekali kebun yang dibuat oleh warga. Lokasi yang harusnya ditumbuhi pepohonan besar tiba-tiba berubah…
Gubernur Papua Pegunungan, Dr (HC) John Tabo,S.E.,M.B.A, mengatakan Kawasan Inti Pusat Pemerintahan (KIPP) Provinsi Papua…