Categories: NASIONAL

Atasi Masalah Gizi, Pemerintah Harus Pastikan Pangan Bergizi yang Terjangkau

JAKARTA-Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) meminta pemerintah memastikan akses dan keterjangkauan pangan lokal untuk memenuhi gizi seimbang di ruang makan keluarga. Hal ini sehubungan dengan Kementerian Kesehatan yang mengangkat tema “Penuhi Gizi Seimbang dari Pangan Lokal” untuk peringatan Hari Gizi Nasional pada 25 Januari 2026.

CIPS menekankan bahwa pemenuhan gizi tidak hanya soal ketersediaan pangan, tetapi juga daya beli masyarakat untuk mengaksesnya tanpa harus bergantung pada bantuan.

“Upaya perbaikan gizi membutuhkan solusi berkelanjutan dan tidak dapat dipisahkan dari kebijakan ekonomi, termasuk keterbukaan pasar dan peningkatan daya saing pelaku pasar lokal. Kunci utamanya adalah memastikan ketersediaan pangan terjangkau, agar masyarakat mampu memenuhi kebutuhan nutrisi secara mandiri,” ujar Kepala Peneliti CIPS, Aditya Alta, Minggu (25/1).

Ia menerangkan, Indonesia saat ini masih menghadapi beban rangkap malnutrisi yang kompleks, mencakup masalah gizi kurang, kekurangan zat gizi mikro, hingga gizi lebih atau obesitas.

Di sisi lain, pemerintah saat ini tengah menjalankan kebijakan pangan berskala masif, termasuk swasembada dan program Makan Bergizi Gratis (MBG). Namun, Aditya menilai pendekatan yang digunakan pada kebijakan ini cenderung sentralistik dan populis.

Implementasi program seperti MBG mengalami berbagai kendala karena masih terpusat secara nasional. Upaya mengejar swasembada yang diikuti penutupan keran impor juga kerap luput melihat realitas pasar, sehingga kebijakan ini justru dapat memicu kenaikan harga pangan domestik.

Penelitian CIPS pada 2023 bahkan menunjukkan sejumlah kebijakan perdagangan dan pertanian cenderung menghambat terwujudnya konsumsi pangan yang lebih sehat. Kebijakan hambatan non-tarif, contohnya, menyebabkan harga beras domestik lebih tinggi 67,2% dibanding harga internasional.

“Pemenuhan gizi adalah isu yang sangat mikro dan bergantung pada kemampuan keluarga, sekolah, maupun unsur masyarakat lain dalam mengidentifikasi dan memenuhi sumber pangannya. Pendekatan top-down dan one-size-fits-all tidak hanya mahal secara operasional, tetapi juga kurang efektif,” tegas Aditya.

Page: 1 2

Juna Cepos

Share
Published by
Juna Cepos

Recent Posts

Ada 42 Operasi di Papua, Negara Belum Mampu Tangani OPM

Kepala Komnas HAM Papua, Frits Ramandey mengatakan, berdasarkan kajian Komnas HAM terhadap situasi Daerah Operasi…

4 hours ago

​Dorongan Calon Provinsi Papua Utara Menghangat

​Deklarasi ini mewakili aspirasi masyarakat adat dari empat kabupaten di wilayah Saireri, yakni Kabupaten Biak…

5 hours ago

Ditangkap di Ruko, Satu Anggota KKB Disinyalir Terlibat Rangkaian Pembunuhan

Dari tangannya,  polisi menemukan tiga butir amunisi kaliber 5,56 mm yang disimpan di dalam noken.…

6 hours ago

Dilematis, Ingin Bangun Rumah Sendiri Tapi Terbentur Rencana Penataan Pemerintah

  Air laut di sekitar kawasan tersebut masih tampak hitam pekat. Tumpukan arang dan sisa…

7 hours ago

Timbun BBM,  Tujuh Ton Lebih Solar Diamankan

Barang bukti tersebut diamankan dari dua lokasi di Kota Jayapura dan satu lokasi di Merauke.…

8 hours ago

Para Warek Solid, Roda Organisasi Uncen Tetap Berjalan

   Kondisi inipun sejalan dengan penyampaian dari ​Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDikti) Wilayah XIV…

9 hours ago