

Donald Trump
JAKARTA-Keputusan Donald Trump memperpanjang gencatan senjata dengan Iran tak serta-merta meredakan ketegangan. Di atas kertas, ruang diplomasi masih terbuka. Namun di laut, tekanan justru mengeras—membuat jeda konflik terasa lebih sebagai penangguhan, bukan penyelesaian.
Gencatan dua pekan yang berakhir pada 22 April itu diperpanjang dengan syarat: Teheran diminta mengajukan “proposal terpadu” untuk mengakhiri konflik. Trump bahkan sempat melontarkan ancaman serangan besar bila Iran menolak kembali ke meja perundingan. Meski demikian, opsi militer untuk sementara ditahan, seiring dorongan dari sejumlah pemimpin regional agar jalur diplomasi tetap diutamakan.
Namun, realitas di lapangan berbicara lain. Blokade laut yang dilakukan Amerika Serikat terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran masih berlangsung. Bahkan, laporan mengenai penyerangan terhadap kapal kargo Iran mempertegas bahwa eskalasi belum benar-benar surut. Bagi Teheran, langkah tersebut bukan sekadar tekanan—melainkan pelanggaran. Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi menyebut blokade sebagai tindakan agresi yang mencederai semangat gencatan senjata.
“Memblokade pelabuhan Iran adalah tindakan perang. Menyerang kapal dagang dan menahan awaknya adalah pelanggaran yang lebih besar lagi,” ujarnya, menegaskan posisi negaranya. Pernyataan itu sekaligus mencerminkan sikap Iran yang tidak ingin terlihat tunduk di bawah tekanan. Araghchi menegaskan, negaranya memiliki kapasitas untuk bertahan dan merespons setiap bentuk pembatasan yang dianggap melanggar kedaulatan.
Di tengah ketegangan itu, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) mengambil langkah yang semakin memperkeruh situasi. Dua kapal asing—MSC Francesca yang disebut terkait Israel dan Epaminodes—disita di Selat Hormuz. Menurut IRGC, kedua kapal tersebut melintas tanpa izin dan dianggap membahayakan keselamatan maritim. Operasi penyitaan disebut sebagai bagian dari upaya menjaga kedaulatan dan keamanan wilayah perairan Iran.
“Dengan kemampuan intelijen yang kami miliki, kedua kapal berhasil diidentifikasi dan dihentikan,” demikian pernyataan resmi yang dirilis melalui media pemerintah. Langkah ini menegaskan bahwa Selat Hormuz—urat nadi perdagangan energi global—kembali menjadi titik rawan yang sarat risiko. Setiap pergerakan di kawasan ini kini bukan hanya soal navigasi, tetapi juga kalkulasi politik dan militer.
Page: 1 2
Pernyataan ini dikeluarkan menanggapi aksi demonstrasi yang berlangsung pada, 7 September 2026 yang dipimpin…
Rektor Universitas Terbuka, Prof. Dr. Ali Muktiyanto, S.E., M.Si., menyampaikan apresiasi tinggi atas keberhasilan…
Salah satu langkah yang dilakukan yakni melalui Bimbingan Teknis Sertifikasi Kelayakan Pengolahan (SKP) bagi…
Menurutnya, masjid tersebut merupakan salah satu fasilitas umum yang berada di kawasan yang terdampak…
Penggalangan dana umumnya dilakukan untuk membantu masyarakat yang mengalami musibah maupun kelompok yang membutuhkan…
Persipura baru menelan kekalahan 2-3 dari Barito Putera di Stadion 17 Mei Banjarmasin pada Sabtu…