Categories: NASIONAL

Perubahan Iklim Tak Hanya Ancam Bumi, Kesehatan Mental Ikut Terdampak

SURABAYA – Isu perubahan iklim selama ini lebih sering dibahas dari sisi kerusakan lingkungan, kenaikan suhu, hingga meningkatnya intensitas bencana alam. Namun laporan terbaru Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melalui Stasiun Pemantau Atmosfer Global Lore Lindu Bariri menegaskan, krisis iklim juga meninggalkan dampak psikologis yang tidak kalah serius.

Ketidakpastian cuaca, ancaman bencana berulang, hingga kekhawatiran terhadap masa depan bumi perlahan memengaruhi ketenangan batin masyarakat. Para ahli menyebut, kesehatan mental kini menjadi aspek penting yang tak bisa lagi dipisahkan dari pembahasan perubahan iklim.

Fenomena climate anxiety atau kecemasan iklim mulai banyak dirasakan generasi muda. Remaja hingga dewasa muda mengaku takut, gelisah, bahkan pesimistis saat memikirkan kondisi lingkungan yang terus memburuk.

Psikolog lingkungan dari Universitas Indonesia, Dr. Maya Santoso, menjelaskan bahwa kecemasan tersebut merupakan respons emosional yang nyata. Jika dibiarkan, dampaknya bisa meluas pada kualitas tidur, konsentrasi belajar, hingga relasi sosial. “Kecemasan iklim adalah respons emosional yang nyata. Jika tidak dikelola, dapat berkembang menjadi stres kronis,” ujarnya.

Ia menekankan pentingnya pendidikan iklim yang dibarengi penguatan mental, seperti pelatihan pengelolaan stres, diskusi terbuka, serta aktivitas positif yang memberi harapan. Ketika generasi muda merasa didengar dan dilibatkan dalam aksi nyata, rasa cemas perlahan dapat ditekan. Cuaca ekstrem seperti banjir, kebakaran hutan, dan badai tropis tidak hanya merusak infrastruktur, tetapi juga meninggalkan luka batin. Korban bencana kerap mengalami mimpi buruk, ketakutan berlebih, hingga gejala stres pascatrauma.

Psikiater Dr. Budi Prakoso menegaskan, kehilangan tempat tinggal maupun anggota keluarga meningkatkan risiko gangguan mental.

“Pemulihan tidak cukup hanya membangun ulang gedung. Kondisi psikologis korban juga harus dipulihkan,” katanya. Ia mendorong kehadiran tim psikososial dalam setiap penanganan bencana. Konseling darurat, terapi kelompok, serta pendampingan jangka panjang dinilai penting agar korban kembali merasa aman.

Selain trauma langsung, perubahan iklim juga memunculkan rasa tidak berdaya. Banyak orang merasa upaya individu terlalu kecil untuk menghadapi persoalan global. Psikolog sosial dari Universitas Gadjah Mada, Prof. Lina Hartati, menyebut kondisi ini sebagai eco-paralysis. Ketika seseorang merasa tidak memiliki kontrol, motivasi untuk bertindak cenderung hilang.

Page: 1 2

Juna Cepos

Share
Published by
Juna Cepos

Recent Posts

Seleksi Pejabat Definitif Dijamin Akan Fair

Pemerintah Provinsi Papua Pegunungan dalam waktu dekat akan melakukan seleksi terbuka terhadap sejumlah jabatan definitif.…

39 minutes ago

Korban Penganiayaan Oknum Polisi Akhirnya Meninggal Dunia

Kapolres Merauke AKBP Leonardo Yoga kepada wartawan menyampaikan belasungkawa mendalam kepada keluarga korban yang meninggal…

3 hours ago

Tetap Bangun di Tepi Laut Karena Sudah Punya Pelepasan Adat

  Di tengah suasana tersebut, seorang pria tua duduk termenung. Tatapannya tertuju pada sebidang lahan…

4 hours ago

Tekan Inflasi, Pemkab Merauke Gelar Gerakan Pangan Murah

Pemerintah Kabupaten Merauke melalui Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan serta Kesehatan Hewan menggelar Gerakan Pangan…

5 hours ago

Ganja Senilai Rp41 Juta Dimusnahkan, Polisi Tegaskan Komitmen Perangi Narkoba

Barang haram yang dimusnahkan ini merupakan barang bukti kejahatan dari tersangka berinisial E.M. alias Lisa…

6 hours ago

Kebakaran Lahan di Sota, TNI/Polri dan Warga Bergerak Padamkan Api

Mendapat informasi tersebut, personel Polsek Sota bersama anggota TNI dan masyarakat setempat langsung bergerak ke…

7 hours ago