Kebijakan tersebut, lanjut Fahmi, seharusnya sekaligus menjawab kritik lama terhadap pendekatan keamanan di Papua yang kerap dinilai parsial dan terlalu bertumpu pada pengerahan kekuatan.
Namun demikian, langkah itu juga bukan tanpa tantangan. Dia menyebut, tantangan terbesarnya bukan lagi pada desain struktur komando operasi, melainkan pada cara kerja di lapangan.
”Apakah komando itu mampu beroperasi secara humanis, terkoordinasi dengan unsur sipil, dan sensitif terhadap konteks sosial-budaya Papua,” kata dia.
Hal lain yang perlu diantisipasi adalah risiko tumpang tindih kewenangan antar-institusi, persoalan legitimasi sosial di mata masyarakat, serta perang persepsi di ruang publik nasional dan internasional.
Menurut Fahmi, Papua hari ini bukan hanya medan operasi keamanan, melainkan juga medan narasi.
Karena itu, keberhasilan penyempurnaan komando operasi di Papua tidak ditentukan oleh seberapa kuat strukturnya, melainkan oleh seberapa presisi penggunaannya, seberapa terukur pendekatan keamanannya, dan seberapa besar kepercayaan publik yang mampu dibangun. ”Di situ ujian kehadiran negara yang sesungguhnya,” tandasnya. (*/jawapos)
Layanan Langganan Koran Cenderawasih Pos, https://bit.ly/LayananMarketingCepos
BACA SELENGKAPNYA DI KORAN DIGITAL CEPOS https://www.myedisi.com/cenderawasihpos
Page: 1 2
AKP Putut mengatakan bahwa saksi yang diperiksa diantaranya adalah pemilik bengkel serta teman-teman korban. Selain…
Kapolres Jayawijaya melalui Kasat Narkoba Iptu Jan Benyamin Saragih, SH menyatakan suburnya pembudidayaan ganja dan…
Setiap penumpang yang memiliki tiket, baik penumpang dengan fasilitas seat maupun non-seat secara otomatis mendapatkan…
Rencana penataan dan peninggian jalan di Konya ini sebenarnya sempat disambut antusias oleh masyarakat Kampung…
Langkah terobosan ini ditujukan untuk memberikan kepastian kesejahteraan, menjamin keberlangsungan pelayanan kesehatan bermutu, serta mendor
Aksi kejahatan tersebut terjadi ketika sejumlah guru dalam perjalanan kembali menuju pusat kota Wamena usai…