Categories: METROPOLIS

BKSDA: Di Lokasi Banjir Bandang Tak Ada Pembalakan Liar

Kepala Balai Besar KSDA Papua, Edward Sembiring, S.Hut. M.Si.( FOTO : Takim/Cepos)

JAYAPURA – Banjir bandang di Sentani menimbulkan keprihatinan yang luas, banyak yang beranggapan bahwa banjir bandang tersebut karena adanya pembalakan liar dan penyangga cycloop dijadikan pemukiman warga. Dan tak sedikit yang menyoroti kinerja Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Papua yang mengawasi daerah Pegunungan Cycloop. 

 Kepala Balai Besar KSDA Papua, Edward Sembiring, S.Hut. M.Si. mengatakan bahwa pengertian pembalakan liar berbeda dengan perambahan itu berbeda jangan disamakan biar persepsi yang beredar tidak keliru.  “Kalau pembalakan itu sama dengan illegal logging, Jadi yang saya bilang itu di lokasi banjir bandang tidak ada pembalakan liar atau illegal logging,” kata Edwar ke Cenderawasih Pos Rabu (20/3) kemarin.

 Lanjutnya karena seminggu sebelum kejadian Tim Patroli Polhut BBKSDA patroli ke hulu Cycloop dan menemukan adanya longsoran menutupi Kali Kemiri yang diduga menjadi penyebab Kali Kemiri Keruh sebelum banjir bandang.

 Selain itu, berdasarkan pengamatan langsung ke lapangan pasca banjir bandang Kayu yang hanyut tercabut dengan akar-akarnya, dalam hal ini tidak ada satupun terlihat bekas tebangan atau bekas chainshaw apalagi kayu balok atau papan sisa tebangan. “Saya berharap persepsi masyarakat atau yang memberikat statmen di media tersebut untuk yang menyatakan terjadi pembalakan liar untuk diklarifikasi dulu biar tidak terjadi salah paham, “tuturnya. 

 Seperti yang disampaikan Edward seminggu sebelum kejadian bencana tersebut  Petugas KSDA bersama Masyarakat Mitra Polhut sudah melakukan patroli ke hulu Sungai Kemiri. Hasil patroli ditemukan adanya longsoran menutup aliran Sungai Kemiri. 

“Ketika hujan yang sangat lebat seperti pada tgl 16 Maret curah hujan 114 mm maka beban air tersebut menyebabkan banjir bandang. Saya bisa pastikan bahwa kayu yang ikut hanyut bersama material batu dan lumpur berpasir tersebut bukan dari hasil penebangan di hulu karena kayu yang hanyut tersebut tercabut dengan akarnya,”tutupnya. (kim/wen)

newsportal

Recent Posts

Gereja Membela Harkat dan Martabat Manusia, Jangan Dinilai Gerakan Politik Praktis

   Mofu mengungkapkan bahwa HONAI dibentuk sebagai ruang bersama untuk menjawab berbagai persoalan kemanusiaan, terutama…

10 hours ago

Dorong Penyelesaian Hukum, Jangan Biarkan Pemalangan Jadi Kebiasaan

   Menurutnya, setiap penggunaan tanah masyarakat adat untuk kepentingan umum seharusnya telah melalui proses yang…

18 hours ago

Polisi Ungkap Hasil Labfor Pecahan Botol di Komnas HAM

   Direktur Reserse Kriminal Umum (Dirkrimum) Polda Papua, Kombes Pol Parasian H. Gultom, mengungkapkan bahwa…

19 hours ago

Siapkan Konsolidasi Besar Masyarakat Adat Tabi-Mamta

  Pertemuan yang dikemas dalam bentuk sidang pleno ini menjadi momentum penting untuk merumuskan agenda…

21 hours ago

Amankan Kendaraan Dinas, Pemprov Papua Libatkan Jaksa dan BPK

  Penjabat Sekretaris Daerah Papua Christian Sohilait, mengatakan penertiban kendaraan dinas dilakukan karena masih terdapat…

22 hours ago

Masa Tanggap Darurat Diperpanjang 7 Hari

   Rustan meminta seluruh warga terdampak, khususnya para pengungsi, untuk tetap bersabar sembari pemerintah mematangkan…

23 hours ago