Categories: METROPOLIS

Jangan Alergi Jika Ada yang Tolak Otsus

JAYAPURA – Masih adanya pihak yang menolak Otsus dianggap tak lepas dari buah kekecewaan. Kecewa karena menganggap Otsus tidak banyak memberi perubahan dan hanya dirasakan segelintir orang. Nah dari beragam bentuk penolakan ini menurut salah satu anggota Pansus Otsus, Boy Markus Dawir  pemerintah  maupun aparat baik TNI dan Polri diminta untuk jangan alergi mendengar penolakan Otsus.

Salah satu anggota Pansus Otsus, Boy Markus Dawir. (DOK CEPOS)

Apalagi pada alam demokrasi, aspirasi apapun harus disikapi bijak selama Papua masih menjadi bagian utuh dari negara kesatuan republik Indonesia. “Saya melihat bahwa adalah riak – riak ini juga karena Otsus dianggap tak maksimal. Tapi jangan alergi melainkan mari kita koreksi mungkin masih ada yang salah atau kurang,” kata Boy kepada Cenderawasih Pos di kantor DPR belum lama ini. Ia mencontohkan Menpan telah memberikan 20.000  kuota khusus orang asli Papua untuk diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil. Nah ini bisa direspon oleh kementerian yang lain semisal Mendagri untuk IPDN termasuk Kapolri dan Panglima TNI terkait 80 persen penerimaan dikhususkan bagi anak – anak Papua.

“Mari tunjukkan keseriusan dan jangan justru bermain yang akhirnya kini semua kepala sakit memikirkan isu penolakan Otsus. Semua kembali pada kebijakan pada tingkat pimpinan. Bayangkan jika 80 persen diterima dan orang tua anak tersebut juga ikut bangga,” bebernya. Nah di tahun 2021 mendatang Boy sedikit khawatir karena adanya pandangan  bahwa Otsus akan berakhir padahal selama Undang – undangnya tidak dicabut maka Otsus akan jalan terus.

“Kami hanya mengingatkan keseriusan pemerintah pusat  soal membangun Papua. Misal saja sejak 2016 lalu kami pernah mengajukan enam Perdasus untuk memproteksi hak – hak orang asli Papua namun hingga kini tak ditanggapi,” singgung Boy. Untungnya Boy melihat Dirjend Otda tak terlalu kaku dengan aspirasi terkait Otsus. Apakah mau menerima atau menolak itu ditampung saja. Tapi Boy memiliki pendapat pribadi yaitu jika mengatakan tolak Otsus maka harus bisa menunjukkan, masyarakat yang mana? Dari distrik atau kampung mana dan namanya siapa dan jumlahnya berapa?.

“Ini agar  jelas, rakyat yang mana sebab rakyat Indonesia terdata. Jangan asal klaim atas nama rangkat,” pungkasnya. (ade)

newsportal

Recent Posts

Akses Kepulauan Jadi Fokus Transportasi Papua

  Kepala Dinas Perhubungan Provinsi Papua, Mathius Wally, mengatakan penguatan konektivitas menjadi salah satu perhatian…

35 minutes ago

Aktivitas Akademik maupun Administrasi Dihentikan, Fokus Beri Penghormatan Terakhir

   Menjelaskan situasi di lapangan, Koordinator Lapangan (Korlap) aksi pemalangan, Kamus Bayage, menegaskan bahwa penutupan…

2 hours ago

Faktor Keamanan, Nakes Non OAP Ditarik ke Kota Wamena

Plt. Kepala Dinas Kesehatan Rudi Aibesa, S.KM. M.Kes membenarkan jika ada surat yang dikeluarkan oleh…

3 hours ago

DPRK Tolikara Kawal Pelaksanaan APBD 2026, Dorong Percepatan Pembangunan dan Pelayanan Publik

Hal tersebut disampaikan Ketua DPRK Tolikara, Meinus W. Yanengga, S.IP., bersama anggota DPRK Tolikara dalam…

4 hours ago

DPRP Papeg Desak Pemprov Segera Serahkan Materi KUA-PPAS

Wakil Ketua II DPRP Papua Pegunungan Terius Yigibalom menekankan sesuai dengan ketentuan undang -undang nomor…

5 hours ago

Isu Aksi Demo Beasiswa Dipastikan Hoaks, Beasiswa Keerom Selama ini Aman Saja

Narasi aksi unjuk rasa yang beredar melalui pamflet (flayer) di media sosial dan grup WhatsApp…

6 hours ago