Categories: METROPOLIS

Mangrove Tak Hanya Ekosistem Tapi Pendidikan Karakter

JAYAPURA – Kawasan hutan mangrove di Kota Jayapura tiap tahunnya disinyalir mengalami penyusutan. Ini tak lepas dari aktifitas pembangunan yang membutuhkan lahan hingga terjadi penimbunan. Padahal jika melihat fungsi dari mangrove sendiri ternyata sangat banyak, tak hanya soal mencegah terjadinya  maupun tempat ikan bertelur tetapi fungsi lainnya adalah menetrealisir pencemaran udara termasuk bagi masyarakat adat di Port Numbay hutan mangrove juga digunakan untuk pendidikan karakter.

Perahu warga melintas di tengah – tengah hutan mangrove di Jayapura untuk mengantarkan warga dari Kampung Engros menuju Jayapura belum lama ini. Kondisi hutan mangrove di Jayapura terus mengalami penyusutan dan perlu satu kebijakan  untuk memproteksi. (FOTO: Gamel Cepos)

Kaitannya adalah perempuan dari kampung Engros, Nafri maupun Tobati yang dianggap mulai dewasa biasanya sebelum berumah tangga ia akan diajari bagaimana menjadi seorang istri, menjadi seorang ibu maupun menjadi wanita yang akan mengurus rumah bangga. “Kalau dalam budaya port numbay hutan ini memiliki banyak fungsi. Hutan ini tidak hanya digunakan ikan untuk bertelur tetapi juga banyak biota yang dimanfaatkan mulai dari kerang, kepiting termasuk kayunya,” jelas Ketua Pemuda Adat Port Numbay, Rudi Mebri dalam webinar  Eco Nusa Sail To Campus pada Sabtu (7/11).

Rudi menjelaskan bahwa sebelum perempuan berumah tangga ia biasa diajak untuk mencari bia masuk ke hutan mangrove. Disini ia belajar dengan kaum perempuan lainnya yang sudah berkeluarga kemudian mendapatkan banyak wejangan (nasehat). Dari pekerjaan yang dilakukan di hutan mangrove wanita tersebut akan dinilai apakah layak untuk dijadikan istri atau tidak. Karakter wanita tersebut akan muncul dan diketahui apakah ia bisa mengurus rumah tangga atau masih membutuhkan waktu untuk belajar. “Itu yang kami sebut pendidikan karakter, di hutan mangrove atau hutan perempuan ini ia akan belajar menjadi karakter yang baik dan akan dinilai,” beber Rudi.

Tak hanya itu, hutan mangrove juga menjadi para – para bagi kaum laki – laki sehingga tak ada alasan untuk tidak menjaga. “Bagaimana perempuan mau mencari bia untuk dimakan keluarga jika  hutan mangrovenya rusak jadi ini tugas laki – laki untuk menjaga,” sambungnya. Hanya menurut salah satu  akademisi Uncen, John D Kalor S.Si, M.Sc yang menyebut dari penelitian yang dilakukan oleh Pak Hamuna tahun 2018 mencatat jika luas ekosistem mangrove di Teluk Yotefa saat ini tersisa 233.12 Ha sedangkan angka kerusakannya dari penelitian yang dilakukan Handono dkk sudah mencapai 44.45 persen. “50 persen lebih sudah mengalami penyusutan dan kerusakan, kami pikir ini harus jadi perhatian bersama bagaimana mempertahankan ekosistem mangorve yang ada di  Jayapura,” pungkasnya. (ade/wen)

newsportal

Recent Posts

Berikan Ruang Kepada Daerah Kelola Dana Tambahan Otsus

  Denny menyoroti kebijakan pemerintah pusat yang mengatur penggunaan Dana Tambahan Otsus melalui program-program yang…

27 minutes ago

Perkuat Lembaga Penyedia Pemberdayaan Perempuan

  Asisten III Bidang Administrasi Umum Setda Kota Jayapura Ni Nyoman Sri Antari dalam kegiatan…

1 hour ago

Akses Kepulauan Jadi Fokus Transportasi Papua

  Kepala Dinas Perhubungan Provinsi Papua, Mathius Wally, mengatakan penguatan konektivitas menjadi salah satu perhatian…

2 hours ago

Aktivitas Akademik maupun Administrasi Dihentikan, Fokus Beri Penghormatan Terakhir

   Menjelaskan situasi di lapangan, Koordinator Lapangan (Korlap) aksi pemalangan, Kamus Bayage, menegaskan bahwa penutupan…

3 hours ago

Faktor Keamanan, Nakes Non OAP Ditarik ke Kota Wamena

Plt. Kepala Dinas Kesehatan Rudi Aibesa, S.KM. M.Kes membenarkan jika ada surat yang dikeluarkan oleh…

4 hours ago

DPRK Tolikara Kawal Pelaksanaan APBD 2026, Dorong Percepatan Pembangunan dan Pelayanan Publik

Hal tersebut disampaikan Ketua DPRK Tolikara, Meinus W. Yanengga, S.IP., bersama anggota DPRK Tolikara dalam…

5 hours ago