Categories: METROPOLIS

Kasus Galian C Koya Masih Tahap Penyelidikan

JAYAPURA-Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda Papua terus melakukan pemeriksaan terhadap tiga terduga pelaku pertambangan ilegal galian C (bebatuan dan pasir) di kawasan Koya Tengah, Distrik Muara Tami, Kota Jayapura. Ketiganya, yakni H dan RP serta satu perempuan  berinisial SL.

   Kasubdit IV Tipidter Ditreskrimsus Polda Papua, Kompol Agus F. Pombos, mengatakan penyidik hingga kini masih melakukan penyelidikan untuk memastikan apakah aktivitas ketiga pelaku melanggar aturan pertambangan yang berlaku. “Untuk kasusnya masih pada tahap penyelidikan. Kami masih lidik,” ujarnya saat dikonfirmasi Cenderawasih Pos, Jumat (4/12).

  Agus menegaskan bahwa penyelidikan kasus galian C menjadi komitmen Ditreskrimsus, mengingat aktivitas tambang ilegal di berbagai daerah kerap berdampak serius terhadap lingkungan. Ia menilai peristiwa banjir yang terjadi di sejumlah wilayah diduga kuat berkaitan dengan aktivitas penambangan liar maupun illegal logging.

  “Khusus galian C di wilayah hukum Polda Papua, kami tetap akan melakukan penindakan sesuai aturan. Namun tetap berkoordinasi dengan dinas terkait, terutama dari sektor sumber daya air dan dinas pertambangan,” jelasnya.

  Menurut Agus, upaya pembinaan tetap menjadi prioritas, terutama dalam mendorong masyarakat agar menjalankan aktivitas ekonomi secara benar dan berizin. “Penegakan hukum merupakan langkah terakhir,” tegasnya.

  Kasus ini terungkap setelah Ditreskrimsus Polda Papua resmi menahan ketiga terduga pelaku pada Rabu, 17 September 2025. Penahanan dilakukan berdasarkan temuan aktivitas pertambangan tanpa izin di kawasan Koya.

   Kombes Agus menjelaskan, dari hasil pemeriksaan di lokasi, ketiganya terbukti melakukan operasi penambangan galian C tanpa memiliki izin resmi dari instansi berwenang. Dua pelaku merupakan pasangan suami istri pemilik lokasi, sementara satu lainnya adalah pekerja.

   Kasus ini terungkap setelah masyarakat melaporkan aktivitas tambang ilegal yang diduga merusak lingkungan. Menindaklanjuti laporan tersebut, tim Tipidter melakukan penyisiran di tiga titik. Dua lokasi ditemukan tidak beroperasi, sedangkan satu lokasi sedang menjalankan aktivitas pertambangan.

   “Di lokasi tersebut, pemilik tidak dapat menunjukkan dokumen atau surat izin operasi galian C,” ungkap Agus.

   Atas perbuatannya, ketiga pelaku dijerat Pasal 158 Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2020 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara. Mereka terancam hukuman maksimal lima tahun penjara serta denda hingga Rp100 miliar. Kasus ini masih terus dikembangkan Ditreskrimsus guna memastikan keterlibatan pihak lain serta dampak lingkungan yang ditimbulkan. (rel/tri)

Layanan Langganan Koran Cenderawasih Pos, https://bit.ly/LayananMarketingCepos

BACA SELENGKAPNYA DI KORAN DIGITAL CEPOS  https://www.myedisi.com/cenderawasihpos

Juna Cepos

Recent Posts

Tiap Hari Bayar Retribusi, Tapi Masalah yang Sudah bertahun-tahun Tak Kunjung Tuntas

  Kawasan pasar Youtefa yang berada di kawasan yang relatif rendah, membuat terjadinya genangan air…

3 hours ago

Pengawasan  Pasar Entrop Segera Dievaluasi

   Penangkapan dilakukan Tim Opsnal Satuan Reserse Narkoba Polresta Jayapura Kota pada Sabtu (18/7) sekitar…

5 hours ago

Pemuda Adat Heram Palang Kantor Distrik

  Berdasarkan informasi, aksi ini dipicu oleh adanya tuntutan terkait transparansi akomodasi kebijakan daerah, khususnya…

10 hours ago

Liburan Usai, 5000 Lebih Penumpang Padati Pelabuhan

  Wakapolsek Kawasan Pelabuhan Jayapura (KP3L), Iptu Syafrudin Tangme, mengatakan mayoritas penumpang yang tiba berasal…

12 hours ago

Dinsos Tunggu Instruksi Resmi dari Pusat

   Menanggapi wacana tersebut, Kepala Dinas Sosial Kota Jayapura, Mathius Pawara, mengatakan hingga saat ini…

13 hours ago

Piala Dunia Berakhir, ABR Ajak Warga Fokus Semarakkan HUT ke-81 RI

  Kegiatan itu turut dihadiri Kapolresta Jayapura Kota, DanSatrol Lantamal X Jayapura, Dandim 1701/Jayapura, Plt.…

24 hours ago