

Para peserta yang ikut pelatihan Jurnalistik feminis, Rabu (1/11) (foto:Elfira/Cepos)
JAYAPURA-Ketimpangan ekonomi mendorong feminisasi kemiskinan, dimana makin banyak perempuan masuk dalam kelompok miskin dan sekaligus menghadapi ketidakadilan gender. Perempuan miskin tidak memiliki akses ke pengambilan keputusan dan ke sumber-sumber kehidupan akibat pembangunan ekonomi Indonesia yang berlandaskan investasi asing, utang luar negeri dan perdagangan internasional sejak rezim Orde Baru sampai saat ini.
Model pembangunan pertumbuhan ekonomi ini terus bertumpu pada eksploitasi sumberdaya alam dan manusia, sehingga makin banyak perempuan mengalami diskriminasi dan kekerasan berbasis gender.
“Fenomena ketimpangan ekonomi dan ketidakadilan gender yang memicu feminisasi kemiskinan tidak banyak menjadi perhatian publik. Karenanya, kita butuh banyak jurnalis perempuan yang memiliki komitmen pemberitaan untuk ikut memperjuangkan hak perempuan demi kehidupan yang lebih baik dan adil”, ucap Titi Soentoro.
Aksi! for gender, social and ecological justice bekerjasama Konde.co melakukan pelatihan jurnalistik feminis “ketimpangan ekonomi dan ketidakadilan gender” untuk mengisi kebutuhan tersebut. Pelatihan ini dihadiri sebanyak 20 perempuan, terdiri dari jurnalis, aktivis dan perempuan komunitas dari Maluku, Ambon, Jakarta, Bali, Makassar, Kalimantan Tengah, Papua dan Bengkulu.
Pembatasan tersebut sejalan dengan Surat Edaran Sekretaris Jenderal Kementerian Agama Nomor 19 Tahun 2026…
Audiensi tersebut membahas sejumlah persoalan pertanahan yang terjadi di Papua, termasuk perkembangan penanganan…
Menurut Mathius, salah satu kebutuhan yang cukup mendesak bagi warga saat ini adalah bahan…
Kepala Dinas Sosial Kota Jayapura, Mathius Pawara, mengatakan penyaluran bantuan dilakukan pada hari terakhir…
Penertiban yang dijalankan oleh tim gabungan dari Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, dan UMKM (Disperindagkop)…
Masyarakat di Kota Jayapura akhirnya seperti diajari untuk menerima situasi ini karena belum ada perubahan…