Categories: SENTANI

Di Tengah Pandemi Covid-19, Warga Kampung Asei Pulau Tetap Berkarya

Corry Ohee, saat memperlihatkan hasil lukisan kulit kayu di Kampung Asei Pulau, Distrik Sentani Timur, Kabupaten Jayapura, Senin (13/4). (FOTO: Yewen/Cepos)

Melihat Lukisan Kulit Kayu di Kampung Asei Pulau, Distrik Sentani Timur, Kabupaten Jayapura

Melukis secara tradisional menggunakan media kulit kayu perlu dilestarikan secara turun-temurun. Hal inilah yang dilakukan warga di Kampung Asei selama ini. Seperti apa saja lukisan kulit kayu yang dilakukan warga Asei Pulau? 

Laporan: Roberth Yewen-Sentani

Kampung Asei Pulau merupakan salah satu kampung yang berada di wilayah Distrik Sentani Timur, Kabupaten Jayapura. Untuk sampai ke Kampung Asei Pulau, harus menggunakan perahu motor untuk menyeberang dari Dermaga Khalhote di Kampung Harapan dengan waktu tempuh kurang lebih 15-20 menit.

Kampung Kampung Asei Pulau ternyata merupakan salah satu kampung yang sampai saat ini masih mempertahankan budaya melukis secara tradisional menggunakan kulit kayu. 

Melukis menggunakan kulit kayu merupakan tradisi mereka yang telah diturunkan sejak nenek moyang dahulu kala sampai saat ini.

Walaupun saat ini badai Virus Corona atau Covid-19 tengah menghantui masyarakat dari kota sampai ke kampung, namun hal ini tidak menyurutkan semangat warga di Kampung Asei Pulau untuk terus melukis menggunakan kulit kayu sebagai budaya dan kearifan lokal yang dipegang oleh masyarakat setempat sampai saat ini.

Hal ini terlihat dari Corry Ohee yang masih terus menekuni melukis menggunakan kulit kayu. Dari pantauan Cenderawasih Pos, Corry Ohee merupakan salah satu warga di Kampung Asei Pulau yang sampai saat ini masih terus melakukan kerajinan tangan melukis di kulit kayu.

Selaku pelukis kulit kayu di Kampung Asei Pulau, Corry Ohee mengatakan, dirinya tetap membuat lukisan, walaupun ada Covid-19 yang kini menghantui masyarakat di Provinsi Papua, khususnya di Kabupaten Jayapura.

“Kami mengejarkan lukisan di rumah masing-masing. Walaupun pembeli berkurang,  dan kunjungan wisata ke Pantai Wisata Kalhote dan Kampung Asei Pulau berkurang, kami tetap melukis,” katanya kepada Cenderawasih Pos di Kampung Asei Distrik Sentani Timur, Kabupaten Jayapura, Senin (13/4). 

Corry mengatakan, ini merupakan budaya dan identitas dari masyarakat di Kampung Asei Pulau yang telah diwariskan oleh nenek moyang. Selain itu, dirinya masih menjual lukisan ini di Pantai Wisata Kalkhote atau di stand di pinggir jalan arah Bandara Sentani. 

Tidak hanya itu, dirinya masih menerima pesanan lukisan dari pembeli, walaupun saat ini jumlah pesanan sangat sedikit. Untuk kulit kayu sebagai kanvas lukisan, dirinya masih memiliki stok yang cukup. Bahan lukisan berupa kulit kayu, dirinya datangkan dan beli dari Yogjakarta dengan harga per lembarnya Rp 37 ribu untuk ukuran 1×1 meter. 

Untuk membeli kulit kayu dari Yogjakarta ini, dirinya harus patungan uang. Uang yang terkumpul untuk membayar kulit kayu dan ongkos kirimnya dari Yogjakarta.

Budayamelukis secara tradisional melalui kulit kayu harus terus dipertahankan dan disalurkan kepada anak cucu, sehingga budaya melukis menggunakan kulit kayu tidak hilang, tetapi selalu ada dalam setiap generasi di Papua.

Inilah yang terus dilakukan oleh masyarakat Sentani yang berada di Kampung Asei Pulau, Distrik Sentani Timur, Kabupaten Jayapura, di mana mereka terus membudayakan melukis menggunakan kulit kayu yang telah ada sejak nenek moyang mereka hingga saat ini.

Kampung Asei Pulau memang sejak dulu terkenal sebagai pelukis dengan media kulit kayu. Pengetahuan melukis ini diwariskan oleh nenek moyang mereka dan sudah ada sejak zaman prasejarah. 

“Kulit kayu yang dijadikan sebagai media melukis yaitu kulit pohon Kombouw (Ficus Wariagata). Kulit kayu Kombouw memiliki tekstur yang bagus sebagai media melukis,” kata Peneliti dari Balai Arkeologi Papua, Hari Suroto.

Pria yang akrab disapa Suroto ini mengatakan, kulit kayu dilukis menggunakan warna-warna yang berasal dari pigmen tumbuhan, arang, tanah liat dan kapur sirih. Motif lukisan yang biasa dibuat, yaitu fauna Sentani, flora dan lambang. 

Lukisan kulit kayu ini disebut malo atau maro, warga negara asing yang berkunjung ke Kampung Asei Pulau menyebutnya Bark Painting. Pada masa Kolonial Belanda, beberapa malo dikirim ke Eropa.

“Bahkan seniman Prancis, Viot mengkoreksi malo ini. Malo koleksi Viot dipaparkan di Museed’ Etnographie du Trocadero, Paris,” ucapnya.

Suroto menyatakan, saat ini pohon Kombouw sudah sulit dijumpai di sekitar Danau Sentani maupun di pegunungan Cycloop. Hal ini membuat masyarakat Asei Pulau menggunakan kulit pohon sukun yang kualitasnya lebih rendah sebagai penggantinya.

Dengan semakin sulitnya pohon Kombouw, maka hal ini menjadi perhatian, agar pohon ini dapat ditanam dan dilestarikan kembali di wilayah Danau Sentani dan Pegunungan Cycloop, sehingga masyarakat bisa gunakan untuk menjadi kulit kayu dalam melukis.(*)

newsportal

Recent Posts

Kendalikan Inflasi, Gubernur Instruksikan Enam Langkah

Enam langkah itu meliputi pelaksanaan operasi pasar murah secara berkala untuk menjaga keterjangkauan harga, inspeksi…

1 day ago

Wali Kota Terima Aspirasi 314 K2 Asli Port Numbay

Pertemuan berlangsung penuh harapan dan suasana emosional, karena para tenaga K2 asli Port Numbay merasa…

1 day ago

Komnas HAM Tolak Draft RUU HAM

Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) menyatakan penolakan tegas terhadap draft Rancangan Undang-Undang Hak…

1 day ago

Warga Tak Perlu Lagi Bolak-Balik ke Pengadilan Untuk Sidang Adminitrasi Kependudukan

Terobosan baru yang dihadirkan Pemerintah Kota Jayapura melalui Disdukcapil bekerja sama dengan Pengadilan Negeri (PN)…

1 day ago

Bentuk Staf Khusus Adat, Wali Kota Libatkan Para Ondoafi

Menurut Abisai Rollo, keberadaan para Ondoafi memiliki posisi yang sangat penting karena mereka merupakan pemilik…

1 day ago

OAP Harus Jadi Pusat Utama Pembangunan

Menurutnya, keberhasilan pembangunan tidak cukup hanya dilihat dari besarnya proyek nasional maupun investasi yang masuk,…

1 day ago