Categories: SENTANI

Ruas Jalan Alternatif Kalkote-Netar Dipalang

Ruas jalan alterantif dari Kalkote menuju Netar yang dipalang pemilik ulayat sejak Selasa (7/4). Foto ini diambil, Rabu (8/4). ( foto: Robert Mboik Cepos)

SENTANI-Pembangunan ruas jalan yang menghubungkan Kalkote  menuju Netar  saat ini kembali terhambat karena adanya pemalangan  oleh masyarakat pemilik ulayat.

Pantauan media ini, Rabu (8/4), pekerjaan ruas jalan alternatif ini belum  dilanjutkan karena masih ada tanda palang  menggunakan kayu oleh  pihak pemilik ulayat.

Salah satu warga pemilik lahan yang melakukan aksi pemalangan itu mengaku, aksi itu dilakukan karena masyarakat pemilik ulayat kecewa lantaran pemerintah tidak menepati janjinya untuk membayar ganti rugi tanaman pada lahan yang kini   digunakan untuk pembangunan ruas jalan alternatif dari Kalkote menuju Netar.

“Kami terpaksa palang  karena pemerintah hanya janji-janji, waktu kita cek ke sana katanya sabar 2, 3 hari dulu baru dibayar. Tunggu 2, 3 hari kemudian ke sana lagi cek, katanya  sabar.  Pasti dibayar, tunggu lagi, akhirnya kami palang,” kata Steri Nere warga Asei Besar saat ditemui media ini, Rabu (8/4).

Dia mengatakan, yang dituntut keluarga itu adalah ganti rugi tanaman yang saat ini sudah digusur untuk kepentingan pembangunan ruas jalan tersebut. Hanya saja pemerintah dalam hal ini melalui dinas PUPR belum melakukan pembayaran terhadap salah satu suku yang memiliki lahan tersebut.

Jumlah ganti rugi yang harus dibayarkan untuk salah satu keluarga suku Nere itu sebesar Rp 600 juta. Dia mengatakan, pihaknya sudah melakukan koordinasi dengan Dinas PUPR Kabupaten Jayapura  untuk menanyakan kejelasan mengenai pembayaran tanaman di atas lahan yang kini sudah di bangun ruas jalan alternatif itu.

“Kami sudah cek di Kantor Dinas PUPR Kabupaten Jayapura, tapi katanya nanti Jumat atau Sabtu, itu pun katanya nanti,” bebernya.

Sementara itu, Kepala Dinas PUPR Kabupaten Jayapura, Yery Ayomi menjelaskan, sebenarnya sudah diselesaikan. Namun karena adanya masalah Covid-19 ini, tim gugus tugas penanganan percepatan  Covid-19 Kabupaten Jayapura meminta untuk tidak melaksanakan rapat sementara ini.

“Kami sudah komunikasikan dengan  suku di Asei Besar, kami akan mendatangi masing-masing suku untuk proses verifikasi dan tanda tangan  dokumen di masing masing suku,”ungkap Tery.

Dia menjelaskan, sehubungan dengan  Suku Nere itu lokasinya terjadi perubahan karena bermasalah dengan Suku Pouw. Pihaknya sudah   komunikasi dengan pihak terkait  dan rencananya Dinas PUPR secepatnya menyelesaikan hal itu. (roy/tho)

newsportal

Recent Posts

OPD Diingatkan Jangan Kerja Ketika Injury Time

Ia menargetkan seluruh kegiatan dan program dapat terealisasi hampir seluruhnya sebelum memasuki akhir tahun. Bahkan,…

1 day ago

Selecao Wajib Waspadai Singa Atlas

Timnas Brasil akan menghadapi Timnas Maroko pada laga perdana Grup C Piala Dunia 2026 di…

1 day ago

Gunakan Sebo Buff, Delapan Anggota OPM Cium Merah Putih

Delapan orang yang disebut sebagai anggota Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat-Organisasi Papua Merdeka (TPNPB-OPM) Kodap…

1 day ago

Disosialisasikan, Rencana Pembangunan Bandar Antariksa Mendapat Dukungan

Selain itu, juga disepakati hasil sosialisasi ini akan ditindaklanjuti dalam penantanganan nota kesepahaman antara masyarakat…

1 day ago

Pendistribusian BBM Diawasi Polisi

Publik juga khawatir dari kenaikan ini justru ada upaya mencari keuntungan sepihak termasuk menerapkan cara-cara…

1 day ago

Belum Ada Razia Lagi, Kendaraan Modifikasi Tangki Kembali Ikut Antrian Pengisian BBM

Pengelola APMS Lasminingsih dan Anwarudin Wamena, Suyono mengaku sebenarnya kalau dikatakan pembiaran itu tidak, sebab…

1 day ago