Categories: MERAUKE

Penderita Stunting Masih di Angka 1.500 Anak

MERAUKE-Jumlah Balita penderita stunting di Kabupaten Merauke, ternyata masih cukup tinggi. Berdasarkan data tahun 2021 dari Dinas Kesehatan Kabupaten Merauke, jumlah Balita stunting mencpai 1.500-1.600 abak atau rata-rata masih berada di prosentase 17 persen.

‘’Masih termasuk cukup tinggi, karena secara prosentase masih di angka 17 persen untuk tingkat kabupaten,’’ kata Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Merauke, dr. Nevile R. Muskita, pada pemetaan dan analisis situasi program stunting tahun 2022, di Gedung Pertemuan Bellafiesta Merauke, Jumat (20/5).

Nevile menjelaskan, beberapa kawasan di Merauke justru penderita stuntingnya masih cukup tinggi. Yakni Waan, stunting masih mencapai 35 persen, kemudian Distrik Kimaam mencapai 34, Tubang 30 persen.

Tak hanya di pedalaman tersebut, tapi beberapa titik di dalam kota stuntingnya masih cukup tinggi. Seperti Kelurahan Karang Indah yang  penderita stuntingnya masih di angka 25 persen. Nevile menjelaskan, kegiatan yang dilaksanakan tersebut untuk lebih menganalisa stunting di Merauke secara detail.

‘’Kenapa harus dianalisasi lebih detail supaya intervensi yang kita lakukan juga lebih detail. Misalnya, angka stuntng di Distrik Kimaam. Harus didetailkan. Kampung-kampung mana saja. Karena intervensi stunting itu, konstribusi dari  kesehatan itu hanya 30 persen. Tapi, 70 persen ada di instansi terkait lainnya,”jelasnya.

Misalnya, bagaimana masalah air bersih. Misalnya tadi Kimaam, di salah satu kampung. Perlu dilihat lebih jelas, apakah di sana untuk akses air bersihnya seperti apa, untuk rumah layak huninya bagaimana, kemudian apakah sudah terdaftar di dalam data perserta penerima bantuan dari  pemerintah atau bagaimana. Selanjutnya apakah sudah punya BPJS Kesehatan, KTP elektronik atau bagaimana dan sebagainya.

Asisten Bidang Pemerintahan Sekda Kabupaten Merauke Drs. Agustinus Joko Guritno saat membuka kegiatan berharap agar dalam melaksanakan tugas ini harus memiliki tim kerja yang dimulai dari bupati sampai staf paling bawah dan meminta harus selalu dikoordinasikan. ‘’Kita sebagai staf harus koordionasi  dengan pimpinan dalam hal ini bapak bupati, apa yang menjadi kendala atau masalah di lapangan, termasuk di dalamnya dana,”bebernya.

Kalau dalam pelaksanaannya kurang maksimal, maka perlu dikoordinasikan kembali mungkin dengan Bappeda atau Dinas Pemberdayaan Perempuan, Dinas Kesehatan atau Capil. Koordinasi ini kadang mudah diucapkan tapi dalam prakteknya kdang kita banyak mengalami kesulitan. Namun begitu tambahnya, dalam tim perlu mengingatkan secara terus menerus agar program dalam pengentasan stunting di Kabupaten Merauke dapat terwujud sesuai dengan target nasional tahun 2024 mendatang. (ulo/tho)

newsportal

Share
Published by
newsportal
Tags: MERAUKE

Recent Posts

Arthur Viera: Persipura Bukan Sekadar Klub

Setelah melewati satu musim penuh kompetisi, Arthur akhirnya merasakan langsung bagaimana atmosfer sepak bola di…

3 hours ago

Komnas HAM: Itu Kejahatan Serius!

Kepala Komnas HAM Papua, Frits Ramandey menilai peristiwa tersebut sebagai dugaan pelanggaran hak asasi manusia…

4 hours ago

Dari 5 Kasus, Amankan 9 Tersangka dengan Barang Bukti 2,5 Kg Ganja

Komando Daerah Angkatan Laut (Kodaeral) X Jayapura berhasil mengungkap lima kasus tindak pidana narkotika jenis…

6 hours ago

Rumah Tenaga Medis hingga Jalan Jadi Aspirasi Warga Mamberamo Raya

Kepala Kampung Warembori, Steven Samber, meminta Pemerintah Provinsi Papua melanjutkan pembangunan Koperasi Nelayan Merah Putih…

7 hours ago

Harga Bapok di Pasar Melejit, Pedagang Mengeluh Sepi Pembeli

Harga tomat yang biasanya berada di kisaran normal kini menembus Rp 45.000 - 60.000 per…

8 hours ago

Memiliki Kesamaan Budaya Sepak Bola, Bek Persipura Sebut Papua Mirip Brasil

Selain itu, bermain sepak bola juga lazim dilakukan di berbagai lokasi terbuka, situasi yang menurutnya…

9 hours ago