Senada, Zidan, mahasiswa lain dari tim “Elok”, menyampaikan bahwa KKN memang memiliki potensi risiko, namun mereka telah mempersiapkan diri dengan hati-hati.
“Kami sadar ada risiko dalam kegiatan ini. Tapi kami selalu mengedepankan keselamatan. Kampus juga memberi perhatian khusus soal itu. Saat kejadian di Maluku, banyak orang tua kami langsung menghubungi dan khawatir. Kami diberi pesan untuk selalu menjaga diri,” katanya.
Meski berada di lokasi yang jauh dari kampus dan keluarga, para mahasiswa merasa diterima dan dilindungi oleh masyarakat setempat.
“Kami sangat bersyukur karena selama di Biak kami mendapat perhatian luar biasa dari pemerintah desa, daerah, dan juga pemimpin adat. Kami bahkan merasa terharu dan berpikir apa yang bisa kami berikan kembali atas kebaikan mereka,” tambah Grace.
Di tengah duka yang menimpa rekan mereka, mahasiswa UGM di Biak tetap semangat mengabdi, seraya mengingatkan seluruh peserta KKN se-Indonesia untuk selalu waspada, menjaga tutur kata, sikap, dan keselamatan selama menjalankan pengabdian di tengah masyarakat, serta bersahabat dengan alam, itu yang tidak boleh ketinggalan. (il/wen)
Layanan Langganan Koran Cenderawasih Pos, https://bit.ly/LayananMarketingCepos
BACA SELENGKAPNYA DI KORAN DIGITAL CEPOS https://www.myedisi.com/cenderawasihpos
Page: 1 2
Namun, putusan yang dijatuhkan Majelis Hakim Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) pada Pengadilan Negeri Jakarta…
INI memang suasana yang benar-benar khas. Seperti Kembali kemesin waktu. Mereka duduk rapi menonton sebuah…
Operasi penyebaran spam promosi judi online terus mengalami perubahan strategi. Jika sebelumnya lebih banyak menyasar…
Melansir Reuters, oenaikan elektabilitas Eisenkot terjadi di tengah menurunnya tingkat kepuasan publik terhadap pemerintahan Netanyahu…
Ketiga tersangka masing-masing berinisial RS, AS, dan II. Mereka diduga memiliki peran berbeda dalam kasus…
Kapolres Jayapura AKBP Dionisius V.D.P. Helan melalui Kasat Reskrim Polres Jayapura AKP Axel Panggabean menjelaskan,…