Senada, Zidan, mahasiswa lain dari tim “Elok”, menyampaikan bahwa KKN memang memiliki potensi risiko, namun mereka telah mempersiapkan diri dengan hati-hati.
“Kami sadar ada risiko dalam kegiatan ini. Tapi kami selalu mengedepankan keselamatan. Kampus juga memberi perhatian khusus soal itu. Saat kejadian di Maluku, banyak orang tua kami langsung menghubungi dan khawatir. Kami diberi pesan untuk selalu menjaga diri,” katanya.
Meski berada di lokasi yang jauh dari kampus dan keluarga, para mahasiswa merasa diterima dan dilindungi oleh masyarakat setempat.
“Kami sangat bersyukur karena selama di Biak kami mendapat perhatian luar biasa dari pemerintah desa, daerah, dan juga pemimpin adat. Kami bahkan merasa terharu dan berpikir apa yang bisa kami berikan kembali atas kebaikan mereka,” tambah Grace.
Di tengah duka yang menimpa rekan mereka, mahasiswa UGM di Biak tetap semangat mengabdi, seraya mengingatkan seluruh peserta KKN se-Indonesia untuk selalu waspada, menjaga tutur kata, sikap, dan keselamatan selama menjalankan pengabdian di tengah masyarakat, serta bersahabat dengan alam, itu yang tidak boleh ketinggalan. (il/wen)
Layanan Langganan Koran Cenderawasih Pos, https://bit.ly/LayananMarketingCepos
BACA SELENGKAPNYA DI KORAN DIGITAL CEPOS https://www.myedisi.com/cenderawasihpos
Page: 1 2
Ia menjelaskan, anggaran yang dialokasikan untuk TPP ASN sebesar Rp7,5 miliar, sementara THR mencapai Rp25…
Ketua Bawaslu Papua, Hardin Halidin mengatakan laporan tersebut merupakan bentuk akuntabilitas lembaga pengawas pemilu atas…
Kepala Dinas Sosial Kota Jayapura, Matius Pawara, menjelaskan bahwa rumah singgah tersebut disiapkan sebagai tempat…
Juru taktik Persipura, Rahmad Darmawan mengaku puas dengan etos kerja anak asuhnya. Menurutnya, pemusatan latihan…
Karena itu, menurutnya, pelayanan kepada masyarakat harus menjadi fokus utama perusahaan daerah tersebut. “Air bersih…
General Manager Kantor Cabang PT Angkasa Pura Indonesia Bandara Internasional Sentani Jayapura, I Nyoman Noer…