Categories: FEATURES

Minimnya Perda Perlindungan Perempuan dan Anak Jadi Hambatan Paling Besar

Menanggapi hal tersebut, Ketua Komisi V DPR Papua, Dina Rumbiak, menilai bahwa persoalan perempuan dan anak di Papua bukan hanya tanggung jawab satu instansi.

“Data yang disampaikan DP3AKB menunjukkan situasi yang sangat serius. Ini tanggung jawab kita semua pemerintah daerah, DPRP, aparat, lembaga agama, dan keluarga,” ujarnya.

Dina menegaskan bahwa pihaknya akan memberikan perhatian khusus, terutama dalam dukungan anggaran dan kebijakan strategis. “Komisi V DPRP akan mendorong agar ada alokasi anggaran dan perhatian khusus dari pemerintah daerah. Masalah perempuan dan anak di Papua harus diatasi secara menyeluruh,” tegasnya.

Anggota Komisi V Dewan Perwakilan Rakyat Papua (DPRP), Dwita Handayani, menambahakan fenomena ini sangat memprihatinkan. Dari laporan DP3AKB, banyak anak dan perempuan muda terlibat prostitusi online karena faktor ekonomi. “Tingginya angka pengangguran membuat mereka memilih jalan pintas bekerja di dunia malam,” ungkap Dwita.

Menurut Dwita, persoalan prostitusi online tidak bisa diselesaikan hanya oleh pemerintah atau DPRP semata. “Kita tidak bisa bekerja sendiri. Masalah ini memerlukan kolaborasi semua pihak pemerintah, DPRP, tokoh agama, lembaga adat, hingga keluarga agar dapat ditangani secara menyeluruh,” tegasnya.

Dwita juga menyinggung penutupan kawasan Tanjung Elmo di Kabupaten Jayapura yang dahulu dikenal sebagai lokalisasi terbesar di Papua. Menurutnya, meski kawasan tersebut telah ditutup, aktivitas prostitusi tidak berhenti justru berpindah ke lokasi-lokasi tersembunyi.

“Sebelumnya di Tanjung Elmo masih ada pembatasan usia bagi pekerjanya. Namun setelah ditutup, para penyedia layanan prostitusi kini berpindah ke rumah kos, hotel, atau tempat yang bersifat short time,” jelasnya.

Ia mengingatkan, fenomena ini membawa dampak sosial yang luas, mulai dari peningkatan kasus HIV/AIDS, pernikahan dini, hingga kekerasan terhadap perempuan dan anak.

“Masalah ini punya efek domino. Jika tidak segera ditangani, akan merusak generasi muda Papua,” ujarnya.

Page: 1 2 3

Juna Cepos

Recent Posts

PPATK Catat Transaksi Judol Menyusut dari Rp 359 Triliun jadi Rp 286 Triliun

Meski begitu, aktivitas judi online masih melibatkan sekitar 12,3 juta orang yang melakukan deposit melalui…

18 hours ago

Mulai 2026 Dana Pensiun Tidak Ditanggung Full

Artinya, aparatur negara mulai “menabung” untuk pensiun mereka sendiri melalui iuran yang dikelola secara berkelanjutan.…

19 hours ago

Ganggu Bandara Bilogai, Tim Gabungan Perketat Penjagaan

Langkah ini diambil guna menjamin kelancaran akses transportasi udara dan distribusi logistik bagi masyarakat di…

20 hours ago

Yahukimo Mencekam, KKB Muda Tebar Ancaman

Rentetan kekerasan itu memuncak pada Senin (2/2), ketika Daniel Datti, SE (41), seorang pekerja mebel…

21 hours ago

Coach Metu Tak Sekedar Melatih

Kepergian pria kelahiran Sorong, Papua Barat ini menjadi kehilangan besar, tidak hanya bagi Persipura Jayapura,…

23 hours ago

Inilah Daftar Tokoh Global yang Muncul dalam File Epstein

Rilis ini mencakup ratusan ribu email, ribuan video dan puluhan ribu foto yang menunjukkan interaksi…

24 hours ago